Mahasiswa

Dari Bu-Cur BEM

Hari kedua Bulan November

Hari kesian menjadi bagian dari BEMers

Hari kesekian jaga sekre BEM

Dan untuk kali kesekian menulis di buku curhat ini

Namanya juga BuCur

Curhat boleh lah yaaa

Kalau saya cermati curhatan di buku ini, kadang ada beberapa poin penting yang menarik hati. Apa ini?

Ada beberapa yang nyariin temen-temen yang pada gak dateng. Dengan beberapa mode menuliskan bahwa “Ini kewajiban, kemana kalian?”

FYI:

Buku ini ga jalan-jalan. Jadi ya kalau mereka gak dateng, mereka ga akan baca buku ini. Jadi, apa maksud saya?

Maksud saya, terkait temen-temen yang ga dateng, jangan cuma nulis di buku ini, ajakin mereka dan buat mereka juga ngerasa nyaman disini.

Karena bisa aja mereka yang ga dateng itu karena ngerasa ga nyaman.

Oke. Sekian. Jadi saya dan juga anda ataupun siapa aja. Mari bersama-sama mengoreksi diri, apa yang salah dengan kita. Jangan fokus pada apa yang orang lakukan jika ini salah.

 

Terima kasih. Maaf bila ada yang kurang berkenan.

(Diduga ini tulisan si Sopyan, Kabiro Properti kami yang setia menjaga sekre BEM. Nemu tulisan ini ketika iseng baca2 bucur dari halaman awal sampe halaman akhir. Aih, bucur memang buku curhat yang BEM-banget :D)

Yap! Ini tak hanya tentang mereka, ini tentang kita!

Saya ga mempermasalahkan tentang teman-teman BEM yang jaga sekre yang ternyata itu-itu aja, ini adalah hal yang lumrah. Saya paham kok temen-temen BEM itu memang sibuk, dan piket jaga sekre bukan satu-satunya amanah yang diemban sebagai seorang pelayan mahasiswa. Jaga sekre memang terdengar membosankan, meski pada kenyataannya justru sangat menyenangkan🙂

Tulisan ini menohok saya. Setidaknya, bagi saya, tulisan diatas bisa menjadi semacam contoh sederhana yang sering kita alami.

Tentang betapa seringnya kita mengeluh dan mengaduh kepada sesuatu yang tak memberi efek signifikan.
Terkadang kita hanya fokus dan merutuki suatu masalah, bahkan membesar-besarkannya di berbagai media, berfikiran negatif dan lain sebagainya, padahal semua itu tidak menyelesaikan, bahkan terkadang justru semakin memperkeruh. Menyalahkan orang lain, dan hanya mau menyalahkan orang lain saja, tanpa mau melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kita turut serta dalam kesalahan itu atau tidak.

Terkadang, ketika seseorang melakukan kesalahan, maka sebenarnya bukan dia pemilik tunggal kesalahan itu. Kita, sebagai teman misalnya, ikut berkontribusi dalam kesalahan itu; mungkin karena kita tak mampu menjadi teman yang baik, tak mampu menjadi pendengar yang baik, tak peka terhadap kondisi kawan, tak perhatian, atau lain sebagainya. Yang jelas ini bukan mutlak tentang mereka, ini juga tentang kita.

“Jadi saya dan juga anda ataupun siapa aja. Mari bersama-sama mengoreksi diri, apa yang salah dengan kita. Jangan fokus pada apa yang orang lakukan jika ini salah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s