munakahat

Menjadi “Aisha” untuk “Fahri”

IMG-20160112-WA0001 (1)
Ayat-Ayat Cinta, hadiah dari suami.

Bagi saya, Ayat-Ayat Cinta bukan hanya sekadar cerita fiksi atau film semata. Ia, walau memang bukan satu-satunya, adalah jalan Allah untuk karuniakan saya hidayah. Aisha adalah sosok yang menampar saya dengan cadarnya. Dan bahkan ketika belum tuntas membaca Ayat-Ayat Cinta, Allah takdirkan saya tuk menuntaskan kewajiban utama seorang muslimah: jilbab yang terjulur hingga dada.

Sepuluh tahun yang lalu, saya hanyalah anak lulusan SMP yang, barangkali, agak ketinggalan zaman. Tak tahu apa itu Ayat-Ayat Cinta. Tau-tau sudah ada filmnya dan boooom, meledak luar biasa! Belum ada novel–dan film–yang sedemikian dahsyat kala itu. Bahkan hingga kini, sepuluh tahun kemudian, belum ada yang menyamai getaran romansa dan kentalnya Islam Ayat-Ayat Cinta. Setidaknya bagi saya.

Yang membuat saya terhenyak kala itu adalah cadar Aisha. Bahwa dulu, saya termasuk orang-orang yang kurang suka dengan cadar dan pakaian yang gombrong dan tidak prakis itu. Betapa kurang ajarnya saya kala itu, memandang cadar dengan sebelah mata, padahal jilbab pun saya pakai hanya ketika pelajaran agama. Dari sanalah, saya tersedu-sedu. Memahami bahwa diri ini sangat amat keliru. Lantas berbenah: jilbab baru, hidup baru.

Kini, kisah Aisha dan Fahri datang kembali. Kepada saya yang telah begitu berubah, saya sudah berjilbab, sudah menikah, sudah menunaikan jihadnya perempuan; melahirkan. Dengan sombongnya bahkan merasa, kali ini, Aisha takkan lagi mampu menampar saya. Tapi duhai, betapa kelirunya, betapa kelirunyaaa. Kali ini ditamparnya lagi saya, berkali-kali, hingga remuk diri ini😥

Hanya berselang dari beberapa jam setelah tangis yang tumpah, setelah sebuah perselisihan, kemarahan, dan ketaksepahaman antara saya dan suami. Setelah hari-hari tak jelas dengan segala sikap uring-uringan saya yang tidak ada juntrungannya, yang makin hari makin menyakiti suami. Lantas ia, dengan sepenuh cinta, membalas semua perlakuan saya dengan hadiah. Sepulang kuliah menembus hujan, angin dan dingin, memberikan hadiah untuk istri tak tahu diri ini. Dibungkusnya hadiah itu, Ayat-Ayat Cinta 1, Ayat-Ayat Cinta 2, dan sepucuk surat berisi ayat-ayat cinta darinya.

Allah, karuniakan selalu rahmat dan cinta-Mu untuk suamiku :’)

 

Kali ini bukan lagi tentang cadar, yang menampar saya. Tapi puisi yang manis dan menggelora:

agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpiku pun berada dalam
benderang dan abadi.

–puisi Aisha untuk Fahri, dipetik dari Puisi berjudul Kekasih karya Paul Eluard.

Aisha memakai gaun malamnya, menggesek biola, membacakan puisi untuk menyenangkan suaminya. Ini bukan hanya perkara wajah yang default pemberian-Nya, yang–mari anggaplah–kita meminjam wajah Rianti Cartwright untuk gambarannya; cantik mempesona, yang bahkan ia diam mematung saja sudah memikat hati suami. Ini tentang usaha, ikhtiarnya melakukan yang terbaik untuk suaminya.

Saya memang tidak punya gaun malam, biola, apalagi wajah bersih dan hidung mancung blasteran Jerman-Turki. Tapi saya, hafal beberapa bait puisi milik Pablo Neruda, atau Jalaluddin Rumi, atau marilah kepada yang paling gampang saja, Sapardi misalnya.

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

–Sapardi Djoko Damono

Saya hafal nyaris diluar kepala. Namun justru tak pernah membacanya dengan penuh gelora untuk suami tercinta😥

Saya teringat impian dulu sewaktu masih kuliah,

Suatu saat nanti, kalau aku menikah dan bukan dengan seorang penulis, tak apalah. Ku tulis berbait-bait puisi untuknya. Berangkat kerja diantarkan puisi, pulang kerja disambut puisi. Ku tuliskan betapa aku merindukannya, walau hanya ditinggal kerja. Buat apa punya istri suka puisi, kalau ga pernah dibuatkan puisi. Pasti, nanti, aku akan jadi istri paling romantis di dunia.❤

Dua tahun sudah menikah, dan semua itu hanya wacana.

Duhai, kemanakah puisi yang dulu erat di dada, kini menguap tak bersisa…

 

Sungguh ini bukan hanya perkara puisi, mungkin bagi saya puisi amat berarti, tapi bagi segenap para istri, barangkali ia tersentil akan sesuatu yang remeh dan terlupakan. Sebuah ikhtiar untuk menjadi istri yang paling disayang, sebuah usaha untuk menjadi istri yang paling menyejukkan, paling indah dipandang. Menjadikan suami betah, menjadikan suami sumringah.

Sungguh ini bukan hanya perkara puisi, tapi barangkali juga tentang memasak sepenuh cinta makanan favoritnya, memakaikan kaus kaki sebelum berangkat kerja, memijitinya yang lelah mencari nafkah, atau setidaknya, tetap berwajah manis dan ceria walau tak suka pada sikapnya. Allah, sungguh ini bukan hanya perkara puisi, tapi kesungguhan bakti seorang istri. Hingga sakinah, mawaddah, rahmah. Dengan segala apa yang kita punya.

Mari belajar dari Aisha, yang begitu dirindukan, tak mungkin sanggup dilupakan. Bukan hanya sekadar cantik dan kaya, yang memikat suaminya, tapi lebih karena lembut tingkahnya, dan pelayanannya yang utama… Hingga suatu saat nanti, suami pun akan menyenandungkan syairnya untuk kita,

alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya bibirnya,
mawar merekah di taman surga

–Puisi Fahri untuk Aisha, dalam Ayat-Ayat Cinta 2

 

Ah, sayaangku, jazakallahu khoiron. Ukhibbuka fillah, Abu Hafsha❤

4 thoughts on “Menjadi “Aisha” untuk “Fahri”

    1. hihihi, saking bagusnya sampai berulang2 bacanya? Tapi AAC 2 ini sebenarnya ga lebih bagus lho, saya lebih suka yang pertama, lebih fokus dan lebih masuk akal ceritanya, menurut saya sih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s