Perjuangan · Pregnancy

Melahirkan Anak Ketiga

YOU ARE SIMPLY THE

Sesaat setelah saya mengabarkan bahwa saya sudah melahirkan, banyaaak yang menodong cerita kelahiran anak ketiga ini (gaya banget sih Shaf, wkwk). Mungkin karena kelahiran kali ini berbeda dengan dua sebelumnya, jadi pada bertanya-tanya, kenapa? Kenapa? Kok? Kenapa? Yaah percayalah saya pun kaget juga, tapi karena sejak awal sudah memprioritaskan kesehatan si bayi, apapun caranya, gimana pun upayanya, yang penting bayi sehat selamat, hayuk lah saya oke saja.

Dan karena saya memang selalu menuliskan pengalaman melahirkan anak-anak saya di sini, jadi mari kita tulis saja di sini juga. Bismillah~

Baca : Bahagianya Melahirkan

Baca juga : Welcome to The World, Nak!

Selama ini, saya tidak pernah percaya dengan istilah “Anak Mahal,” tapi setelah mengalami kehamilan dan kelahiran anak ketiga ini, kok kalau dipikir-pikir, dia ini bisa dibilang Anak Mahal sih, mahal perjuangannya. Perjuangan untuk bisa hamil, perjuangan selama hamil, pun perjuangan ketika melahirkan.

Baca : Kehamilan Ketiga, Antara Takut dan Bahagia

Baca juga : Pemeriksaan Medis bagi Ibu Hamil Riwayat Obstetri Buruk

Setelah berkutat dengan anemia di usia kandungan 36 pekan, saya sebenarnya sudah mengalami fase tanpa drama, kecuali merayu-rayu si dedek supaya segera lahir di usia 38 pekan. Namun menjelang hari H perkiraan dokter alias 40 pekan, masih belum ada tanda-tanda apapun. Tidak ada flek darah, kontraksi palsu sebenarnya sudah sering, tapi kontraksi yang benar-benar kontraksi tak pernah muncul hingga saat kami memeriksakan diri ke dokter, sehari sebelum HPL.

Dan diagnosa dokter pun segera keluar sesaat setelah beliau melihat layar USG.

Bayinya stress, Bu, kita sesar malam ini juga ya.

Jeng jeng jeng…

Ga ada angin ga ada hujan, anak ketiga lho ini dok, sebelumnya selalu lahir normal lancar, pembukaan bahkan cuma kisaran 3-5 jam aja sampai bayinya keluar, panggul tidak sempit (lha bayi sebelumnya 3,3 kg dan sukses lewat dengan mulus), kepala bayi sudah dibawah, plasenta tidak menutupi jalan lahir, bahkan kontrol sepekan sebelumnya semua masih baik-baik saja, kok ujug-ujug disuruh SC?

Maka mengalirlah penjelasan dokter…

Bahwa ketuban saya sudah sangat sedikit sekali, dan warnanya sudah keruh,

Bahwa plasenta sudah tua,

Tentu saja dua hal itu adalah hal yang sering terjadi pada kehamilan tua dan harus segera diakhiri. Tapi masih memungkinkan untuk lahiran normal, dengan cara induksi (karena tidak ada kontraksi alami).

Namun dokter sama sekali tidak menyarankan induksi pada saya, justru menyarankan SC saat itu juga, karenaΒ detak jantung bayi terlalu tinggi.

“Ibu, kondisi tanpa kontraksi saja detak jantung janin sudah segini, saya enggak berani induksi. Nanti kalau induksi detak jantung janin bisa lebih tinggi lagi, bahaya…”

Memang saat diperiksa dengan CTG (Cardiograph, semacam alat mirip sabuk yang dipasang pada perut Ibu hamil untuk memantau denyut bayi) itu Detak Jantung Janin (DJJ) berada di kisaran 160, bahkan ada yang mencapai 180. Sedangkan angka normal DJJ adalah 130-160. Bayi dengan DJJ lebih tinggi dari normal disebut dengan janin stress, dan harus dilahirkan segera.

Dokter saya menjelaskan, stress ini maksudnya DJJ tinggi, menandakan pasokan oksigen bayi tidak bagus. Kalau oksigen tidak bagus, ibaratnya seperti orang dewasa yang sedang tercekik, jadi menyebabkan detak jantung meninggi. Kalau bayi stress,Β tidak boleh didiamkan, harus segera dikeluarkan bayinya. Dan karena induksi bisa membuat DJJ semakin meninggi, maka SC adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan bayi.

Saya, tentu saja masih merasa kaget dan tidak siap saat dokter mengharuskan SC saat itu juga. SCΒ tidak pernah menjadi sebuah opsi yang terlintas di benak saya, apalagi dengan riwayat sukses melahirkan normal dua kali sebelumnya. Saya mengira kelahiran ketiga tentu lebih mudah, ternyata malah justru sebaliknya.

Namun karena memang sejak awal prioritas kami adalah kesehatan si Bayi, maka opsi SC sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah yang serius bagi kami. Yaah, walau saya agak-agak ngeri juga bayangin perut dibedah, kebayang pasti sakit banget dan lama sembuhnya. Tapi tak apalah sakit sebentar (lahiran normal juga sakit kan sebenarnya) yang penting mah bayinya sehat. Saya kadang suka gemes sama ibu-ibu yang anti SC banget, yang ngotot untuk melahirkan secara normal, walau di satu sisi sebenarnya baik sih ya, tapi di sisi lain, sebagai ibu yang pernah kehilangan anak-anaknya, saya kurang setuju. Yang penting bayinya hidup aja udah syukur banget sih. Yah, tapi saya akui itu memang pandangan subjektif dan judgemental dari saya sih, hehe, punten buibu.

Jadilah kemudian saya dijadwalkan SC saat itu juga, keluar ruang kontrol kandungan langsung masuk ruang persiapan operasi, ganti baju dengan baju biru-hijau ala operasi, dipasang infus, disuntik ini itu entah apa saja, dan beberapa waktu kemudian masuk ruang operasi.

Alhamdulillah operasi berjalan lancar, walau pas awal saya sempat panik karena masih bisa menggerakkan kaki padahal bius sudah masuk. Jadi sepertinya bius saya ditambahi oleh dokter anestesi, dan efeknya saya yang dari tadi bawel nanya ini itu jadi ngantuk. Walhasil ketika bayi saya diangkat, suaranya kenceeeng banget nangis, saya malah lier-lier ngantuk banget udah setengah tidur sambil mbatin, itu anak siapa yang nangis, haha.

Alhamdulillah juga, walau sambil ngantuk-ngantuk kami melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) walau ga bisa lama seperti IMD persalinan normal, dedek bayi juga langsung disuntik vitamin K, disodorkan ke suami saya untuk diadzani, dan di observasi selama 2-3 jam kemudian baru dirawat gabung bersama saya (rooming in).

IMG-20170409-WA0034

Alhamdulillah ‘alladzi bini’matihi tatimmusholihaat,
lahir juga anak ketiga kami πŸ™‚

❀ SALMA AZZAHRA WATUAJI ❀

Lahir pada 29 Maret 2017 pukul 22.11 WIB
melalui persalinan C-Section dengan BB 3,7 Kg dan TB 51 cm.

Mohon doanya semoga Allah limpahkan keshalihan dan kesehatan, serta usia panjang penuh berkah dan manfaat πŸ™‚

Advertisements

15 thoughts on “Melahirkan Anak Ketiga

  1. Alhamdulillah., selamat mbak..
    Semoga sehat selalu,. tumbuh jadi anak yang sholihah.. penyejuk hati kedua orangtuanya.. aamiin
    mohon doanya juga semoga kami segera bertiga πŸ˜€

  2. Maaf, mungkin untuk penggunaan kata-kata bahasa daerah, bisa dibubuhkan tanda kurung untuk menjelaskan makna bahasa indonesianya, atau diberi tanda bintang yg dilanjutkan pemberian footnote untuk mengartikan maksud istilah tersebut.
    Tidak semua reader bisa bahasa Jawa lo πŸ™‚
    Anyway, congratz buat Fira, mas Yunis, dan Salma, selamat memainkan warna baru dalam bahtera runah tangga kalian ^^

  3. Alhamdulillah.. Ini berita yang sangat menggembirakan Mbak Fira! Selamat ya!
    Selamat datang Salma! Ibu kamu cerita kalau lahiran kamu paling susah lho dibanding kedua kakak kamu. Cara lahirnya lebih spesial pula, via sesar. Jangan sering-sering stress lagi yah. Nanti ibu dan ayah kamu bisa ikutan stress. Haha

      1. Kalau sekarang percuma kak wkwk
        Oh ya, lupa mendoakan agar Salma tumbuh sehat hingga dewasa dan menularkan kebahagiaan kepada ibu-ayahnya πŸ™‚

  4. Selamat atas kelahiran putri cantiknya mbak fira & suami
    semoga menjadi putri yang sholehah,sehat selalu, tumbuh sehat ceria cerdas, serta membawa manfaat & kebahagiaan kepada orang tuanya & lingkungannya dunia akhirat.
    selamat menjadi orang tua mbak fira & suami. semoga dengan kehadiran dhek salma menambah keshalihan juga kepada orang tuanya ^__^

    sun sayang buat dek salma…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s