Perjuangan · Pregnancy

Hamil Janin Cacat Berat: Digugurkan atau Dipertahankan?

Sejak saya mulai rutin menuliskan kondisi anak-anak kami di blog ini, sejujurnya mulai mengalir banyak teman-teman baru yang tidak dikenal yang menghubungi saya. Mayoritas memang mereka memiliki case khusus seperti kehamilannya bermasalah, atau janinnya yang kurang sehat. Hingga suatu hari, seseorang yang tidak saya kenal sampai harus mencari akun Instagram saya, kemudian menghubungi via DM dengan pertanyaannya yang membuat saya terhenyak berhari-hari.

“Mba Fira, apa yang akan Mba lakukan seandainya hamil dengan kondisi janin cacat berat? Digugurkan atau dipertahankan?”

Seandainya, begitu tanyanya.

Duhai sayang, saya tak perlu kata seandainya. Saya sudah mengalaminya.

Usia saya masih 21 tahun saat itu; saat wisuda, kemudian menikah, kemudian hamil anak pertama. Saya merasa Allah Maha Baik dan Pemurah karena telah karuniakan saya hidup yang mudah, indah, dan sempurna. Hingga di usia kehamilan 20 minggu, ketika saya pertama kali memeriksakan diri ke dr. Kartika Hapsari, SpOG yang legendaris itu, tiba-tiba saja saya seakan disambar petir di siang bolong.

Mula-mula wajahnya, kemudian bagian-bagian otaknya, kemudian alat gerak tangan dan kakinya.

Hingga terbitlah satu diagnosa: Trisomy 13, Patau Syndrom. Satu dari sekian penyakit langka yang ada di dunia.

Usia saya masih 21 tahun saat itu. Saat teman-teman saya sibuk travelling kesana kemari, uplaod foto-foto hits di Instagram, memenuhi hasrat mudanya dengan pernak-pernik yang gegap gempita. Disaat yang sama, saya sedang bergelut dengan hati yang remuk.

Bahwa bayi dalam kandungan saya ini cacat, katanya.

Bahwa bayi ini takkan panjang usianya. Barangkali hitungan hari, atau justru hitungan jam.

Bahwa seandainya pun bayi ini bertahan hidup, ia akan sangat menguras jiwa, tenaga, dan keping-keping rupiah.

Dan berhari-hari air mata saya tumpah.

chromosomal-abnormalities-18-638
Trisomi 13. Sumber gambar.

Ini adalah ilustrasi bayi kami yang didiagnosa Trisomy 13.

Cleft lip (bibir sumbing), cleft palate (langit-langit mulut berlubang), nassal bone nagative (tidak ada tulang hidung), pterodactyl (jari enam), hydrocephalus, rocker bottom, dan masih ada banyak lain lagi yang saya tidak tega menuliskannya. Ini belum termasuk kelainan jantung bawaan, kelainan paru, dan organ-organ tubuh lainnya.

Alhamdulillah alaa kulli haal. Allah Maha Baik dengan segala takdir-Nya :’)

Diantara sekian banyak ujian yang tumpuk-menumpuk kala itu, ada satu hal yang terus-menerus saya syukuri hingga kini. Bahwa Allah pertemukan saya dengan dokter kandungan yang bukan hanya hebat, tapi juga kokoh imannya. Dokter Kartika, dokter yang membuat saya tidak bisa untuk tidak jatuh cinta.

Baca : Dokter Kandungan Perempuan di Jakarta dan Sekitarnya

Satu jam lebih beliau memeriksa saya, pun masih menggenggam tangan dan menguatkan ketika saya tidak bisa melakukan apapun selain menangis dan menangis di ruang pemeriksaan.

“Kuat, kuat. Orang kuat ujiannya hebat.” Masih tergambar dengan jelas kalimat beliau, “Kamu ga boleh putus asa, ga boleh menyerah. Tetep rajin minum vitamin, tetep makan yang bergizi. Tetep ajak ngobrol dedek bayi. Tetep lakukan semua yang biasa kamu lakukan untuk kehamilan ini. Ga akan ada yang sia-sia. Allah tau kemampuan hamba untuk masing-masing ujiannya.”

Ya Allah. Terima kasih Engkau karuniakan pertolongan yang tiada habis-habisnya. Semoga Allah berkahi ilmunya ya, Dok :’)

Beliau mempersilakan saya untuk mempertahankan kandungan. Tak pernah sekalipun, sedikitpun, sepatah katapun, beliau menyarankan terminasi penghentian kehamilan. Selama tidak berbahaya untuk Ibu, janin tetap diusahakan kelahirannya sebaik mungkin. Bahkan dokter rajin mengukur lingkar kepala bayi kami yang terdiagnosa hidrocephalus (efek dari Trisomy 13) agar saya tetap bisa mengusahakan lahiran normal.

Sejak saat itu, kami mencari dokter-dokter terbaik demi ikhtiar kesehatan anak kami.

Baca : Pemeriksaan Medis bagi Ibu Hamil Riwayat Obstetri Buruk

 

Memang, kami menyadari dan mengakui dengan segenap keyakinan bahwa dokter dikaruniai ilmu untuk mendeteksi janin yang ada dalam rahim kita, mendiagnosa sesuai kapasitas keilmuannya. Tapi sesungguhnya tiada sesuatu apapun yang benar-benar mengetahui apa yang ada dalam rahim selain Allah. Ia yang menciptakan kita, anak kita. Ia menjadikan kita sempurna, maupun tak sempurna. Menciptakan dunia dan seisinya yang sungguh luas dan luar biasa ini saja Allah mampu, apalagi sekadar menyembuhkan anak kami, sungguh pastilah itu hal yang remeh dan mudah baginya.

“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang. Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar 7-8)

Ayat ini yang terus-menerus diulang-ulang oleh suami saya, ayat yang terus-menerus kami pegang kuat-kuat demi merayu-Nya. Merayu Ia yang Maha Segala-galanya.

Dan memang, dari sekian dokter yang kami kunjungi untuk second/third opinion, semua sepakat pada diagnosa bahwa bayi kami takkan panjang usianya.

“Terlalu banyak ini, Bu. Tidak bisa diapa-apakan.”

Terlalu banyak kekurangannya. Jika yang ini dioperasi, yang itu fatal akibatnya. Jika yang itu dioperasi, yang ini yang kena imbasnya. Begitu saja terus, berputar-putar. Dirujuk kesana-kemari pun hasilnya sama saja. Cek lab ini itu pun, tak jauh beda pada akhirnya. Memang solusinya hanya ada dua: sabar, dan sholat.

Dan kami pun menyiapkan diri sejak jauh-jauh hari.

Kondisi pertama, jika memang anak kami lahir kemudian meninggal, maka kami menyiapkan mental untuk ikhlas dan ridho melepaskan.

Kondisi kedua, jika memang anak kami bertahan dengan keadaan cacat berat, maka kami menyiapkan mental untuk kuat menjalani ujian terberat, juga menyiapkan dana karena pasti butuh banyak sekali alat dan obat.

Kondisi ketiga, dan inilah kondisi yang sungguh selalu kami sebut-sebut dalam doa, anak kami lahir dengan sehat selamat, panjang usianya penuh berkah dan manfaat.

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Imron 6)

Sejak saat itu, suami kemudian memberi nama anak kami. Hafsha Asyifa Watuaji. Hafsha, agar ia seperti Hafsha istri Rasulullah, perempuan pertama yang menuliskan Al-Quran. Asyifa, kesembuhan, agar ia sembuh, sehat, kuat, terlepas dari apapun diagnosa dokter.

Kami kemudian bersepakat untuk mengusahakan kesembuhan dengan cara mendekat dengan Al-Quran, karena Al-Quran adalah penyembuh. Membacakan Hafsha ayat-ayat Al-Quran sebanyak-banyaknya setiap hari. Satu juz, dua juz, tiga juz. Sebanyak mungkin, semampu kami. Jika saya capek, suami yang tilawah, jika kami berdua capek, maka murottal solusinya. 😀

Sejak pertama kali terdiagnosa hingga hari H kelahirannya, tak pernah sekalipun kami terfikir menggugurkannya. Karena kami sadar, anak ini bagaimanapun kondisinya, adalah anak kami, darah daging kami. Walau ia masih bayi, walau ia bahkan mungkin tak sempurna. Tapi ia sadar, ia paham, ia mengerti. Ia bisa merasakan jika ia dicintai, diusahakan dengan sepenuh hati, dijaga dan dilindungi semampu kami. Semoga ya nduk, semoga kelak di akhirat kamu menjadi saksi bahwa Ayah Buna mencintai dan menyayangimu, tak pernah sedetikpun tidak mengusahakan kesembuhanmu. Semoga kelak Hafsha bantu Ayah Buna di hari penghisaban, semoga Hafsha bisa menarik Ayah Buna dari panasnya api neraka ya sayang ya… 😥 😥

Sejak pertama kali mengabari keluarga pun, tak ada satu pun yang tidak memberikan dukungan pada kami. Bapak ibu kami, mertua kami, kakak adik kami. Bahkan ibu saya dengan yakinnya berkata, ia sudah tau akan pinjam uang kemana jika seandainya kelak kami kehabisan uang dalam proses kesembuhan Hafsha 😥

Kami pun mulai menyusun satu demi satu proses kelahiran. Dokter kandungan terbaik di Malang saya datangi, dokter anak terbaik pun sudah siap membantu kami, rumah sakit terbaik di Malang pun juga tak luput kami survey untuk proses melahirkan kelak. Cek ini, cek itu. Booking ini, booking itu. Periksa ini, periksa itu. Namun memang, manusia berencana, Allah lah yang menentukan.

Baca : Bahagianya Melahirkan

Anak kami Hafsha lahir prematur sebelum waktunya, qadarallah di Lumajang tempat Mbah saya, dengan dokter senemunya, Rumah Sakit seadanya. Memang inilah yang Allah takdirkan untuk kami, sungguh diluar ekspektasi.  Tapi dalam setiap perhelaannya, Allah kirimkan pertolongan yang tak ada henti-hentinya. Memang, pada akhirnya anak kami hanya bertahan 34 jam dengan upaya semaksimal mungkin yang bisa dilakukan oleh RS setempat. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Qadarallahu maasya’a fa’alaa. Alhamdulillah alaa kulli haal.

Ayah, Buna dan Hafsha
Satu-satunya foto bertiga dengan Hafsha.

Usia saya 21 tahun saat itu, jika saja saya saat itu ditanya apakah akan menggugurkan atau mempertahankan, maka dengan segala kemudaan kami, dengan segala kelabilan emosi kami, dengan pengalaman seuprit yang kami miliki, dengan receh-receh uang yang kami miliki, maka kami dengan tegas akan tetap mempertahankan. Apapun caranya. Karena ini anak kami, ia punya hak untuk hidup, untuk berusaha dan diusahakan. Ia yang akan bersaksi kelak di yaumul hisab, orangtua macam apakah kita. Apakah kita orangtua yang mencintai dan mengusahakan sekuat tenaga, atau orangtua yang tak ingin susah dan memilih untuk menggugurkan saja. Walau tentu, semua keputusan diambil dengan dasar medis yang kuat, termasuk apakah si ibu mendapat efek bahaya atau tidak selama kehamilan.

Allah karuniakan saya ujian hamil dengan penuh liku, karena memang saya masih kelas teri, mampunya cuma hamilnya saja, saya belum mampu dianugerahi anak yang luar biasa extra effort perawatannya. Allah tahu itu, Allah tahu kemampuan saya, maka saya hanya diuji dengan ini. Berbahagialah yang diuji dengan anak-anak spesial, karena sungguh walau itu berat, Allah anggap mampu dan Allah akan angkat derajat berkali lipat. Insya Allah.

 

PS. Saya tidak pernah menceritakan kondisi Hafsha kepada siapapun kecuali keluarga dan sahabat dekat. Sudah lama didorong suami untuk menulis ini, tapi selalu menundanya. Bukan karena kami malu, tapi lebih karena kami tidak ingin dikasihani saja. Pada akhirnya, saya bercerita karena saya bangga punya anak hebat dan tangguh seperti Hafsha. :’)

Advertisements

65 thoughts on “Hamil Janin Cacat Berat: Digugurkan atau Dipertahankan?

  1. Inspirasional
    Bingung mau komentar apa lagi mbak. Semoga pengalaman, kekuatan, dan kesabaran yang mbak lakukan mulai dari anak pertama hingga yang sekarang dapat menjadi sumber tenaga dan inspirasi bagi ibu-ibu di luar sana yang bernasib sama. Jazakallah

  2. Terharu sekali baca ini. Hafsha pasti bahagia punya orangtua seperti mbak dan suami. InshaaAllah nanti pasti bisa bertemu lagi dengan Hafsha di SurgaNya ya mbak.. Semangat terus ya mbaaaak, salam kenal jugaaaa

  3. Bunda yang hebat …
    Saya juga pernah ngalami hal serupa …
    Pada usia kandungan masuk 32 atau 33 minggu saya opname 6 hari di RS karena BBJ nya hanya 900gr, nutrisi terputus selama 2 minggu. Sebelumnyanya pas usia kandungan 6 bulan dinyatakan Placenta Previa. Akhirnya selama di RS juga suntik pematangan paru 4 kali agar siap lahir dini. Sebelum keluar RS saya usg dan alhamdulillah BBJ naik jadi 1,25kg, tapi kata dokter pertumbuhan kepala masih terlambat dan berpotensi mikrosepalus (kebalikan dari diagnosa anak Mba). Anak pertama yang kehamilannya sungguh menguji mental saya sebagai calon ibu. Saya sedih, terpukul, tapi saya rasa sayang saya kepada si buah hati mengalahkan itu semua. Selang beberapa minggu saya opname lg krn pendarahan. Keluar RS pun tak butuh waktu lama opname kembali krn pendarahan. Belum sempat keluar RS mendadak darah mengucur deras kembali hingga dokter mengatakan harus operasi pada hari itu juga. Aku takut tapi tak butuh waktu lama untuk memerintahkan suami tanda tangan persetujuan, yg penting anak kami selamat. Harusnya jam 2 siang operasi, jadi jam 10 malam karena menunggu stok darah dari PMI. Alhamdulillah bayi saya terlahir normal, tidak kekurangan apapun, dengan BB 2,8kg setelah baru sekitar 3 hari yang lalu 2,1kg saja. Yang sabar ya Mba, insyaAllah jadi pembuka pintu surga.
    http://www.bombonasam.club

    1. Wah Masya Allaah, memang Allah begitu mudahnya memberikan pertolongan ya Mba, walau kata dokter begini begitu tapi pada akhirnya Allah lah yg menunjukkan kekuatanNya. Barakallah Mba, sun sayang buat dedek bayi 😘

  4. masyaallah… salam kenal ya mba, insyaallah Hafsah menunggu orang tuanya dipintu syurga. Sedikit sharing, anak pertama saya jg meninggal, saya gak sempat lihat krn langsung dimakamkan, waktu itu saya darurat di ruang operasi.
    Saya masih ingat banget kata2 suami yang menghibur saya ” kita harus berprasangka baik sama Allah atas takdir anak kita (Ruwaifi), kita nggak pernah tahu bagaimana nanti kita di akhirat, bisa jadi Allah siapkan Ruwaifi untuk kita di akhirat nanti, menjadi sebab orang tuanya masuk syurga” Aamiin
    Semangat mba!

  5. Ya Allah Mba, aku terharu bacanya, semua bumil pasti ada deg2annya pas USG. Namun mba dan keluarga hebat banget, semoga kalian dan si cantik bisa berkumpul lagi di Surga Nya kelak, aamiin tfs mbaaa, pengalaman yang inspirasional

  6. Ma syaa Alloh Hafsya sungguh luar biasa ya?
    Tau istilah trisomy 13 dari instagram, Adam Fabumi bayi yang lahir dengan kelainan trisomy 13. saya amaze mbak ternyata banyak orangtua hebat yang mengihtiarkan kesehatan putra-putrinya ya? sekalipun sudah ada diagnosa trisomy 13 tapi tetap memilih berjuang mempertahankan.

    1. saya juga ngertinya trisomy 13 dari adam. baru mulai mempelajari apa ini apa itu, dan sampai baca di sini. semoga dek hafsa menjadi penerang jalan bapak ibunya menuju surga kelak ya.

  7. Terimakasih akhirnya sudah menulis ini di blog Mba.
    Allah menakdirkan saya untuk membacanya ketika saat ini pun saya sedang di titik nadir kekuatan hati untuk menerima kenyataan hidup.
    Terimakasih Mba..

  8. Mbak, salam kenal ya. Sungguh aku baca ini nangis, hiks tak kuat membendung air mata.
    Hafsya nama yang bagus.
    Sungguh aku sampai ga tau mau komen apa. Perjuangan mb dan keluarga patut diteladani, berikhtiar pada Allah meski sekarang dedek bayi sudah tenang di alam saya.

    Peluk dirimu mbak. 😉

  9. aku yg masih nunggu dan berusaha selama 4 tahun ini untuk di qodar hamil masih belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan mba, salut banget mudah-mudahan allah memberikan berkah yang terbaik untuk kita semua ya 🙂

  10. Sungguh keluarga yang kuat . Istri saya kebetulan sedang hamil , artikel ini menjadikan pengetahuan yang plus dan plus pokoknya buat saya dan keluarga.
    Salam kenal mbak fira , saya blogger dari medan mbak ..

  11. Hafsha kamu luar biasa nak. Beruntung kalian berdua saling memiliki satu sama lain. Makasih mba atas kerelaannya untuk berbagi cerita kepada saya. Kisah ini akan jadi pengingat saya untuk selalu bersyukur. 💖

  12. Salam kenal, mbak. Terharu bacanya, jadi ingat awal tahun ini saya juga berusaha mempertahankan janin, meski sudah flek parah. Suami sudah langsung gak mau, karena takut kejadian seperti anak pertama kami, berkebutuhan khusus. Salut juga buat suaminya mbak, yg mau berjuang bersama. Bagaimanapun, Allah yg paling paham takaran kekuatan hambaNya.

  13. Kagum, salut, sama mbak.. Walopun td bacanya sempet sediiih banget, tapi aku yakin hafsya juga bersyukur sempet lahir ditengah keluarga yg bener2 mencintai dia 😦 .. Semoga jadi tabungan kalian di hari akhir nanti ya mba 🙂

  14. Terharu baca tulisan ini. Salut dengan segala keikhlasan mba menerima Hafsha.
    Aku pernah dua kali keguguran. Waktu itu dokter bilang janin tidak bagus. Kalau dipertahankan bakal cacat. Saya tunggu saja, pasrah. Hingga akhirnya keguguran. Mungkin begitu jalannya.

  15. Terimakasih sudah berbagi mbak…. Apa yg Mbak lakukan dgn mempertahankan Hafsah adalah hal yg sangat indah dan pengalaman mbak ini sgt berguna untuk orang lain yg berada pada posisi yang sama…. Sehat dan bahagia selalu Hafsah di alam sana ya….

  16. Masya Allah… Hebat sekali mba, aku nangis sambil berdecak kagum bacanya.
    Hafsha beruntung dilahirkan ditengah keluarga sekokoh ini. Aku yakin di hari akhir kelak, Hafsha siap menarik kedua orangtuanya ke surga.
    Tulisan ini pasti jadi booster buat para bunda yang sedang mengalami hal serupa. Suka banget tulisannya, aku sampe bingung mau nulis apa.

  17. Subhanallah. Bacanya sambil berkaca-kaca. Keren banget kamu mbak, dengan usiamu yang masih muda sudah bisa mengambil keputusan se wise ini.

  18. assalamualaikum.wr.wb

    hai mbak fira… asliii .. kangen bgt sama tulisan2 mbak fira..
    baca cerita mbak.. rasanya makin speechless.
    Subhanallah..
    Semoga Allah senantiasa memberikan mbak fira & keluarga kebahagiaan dunia akhirat. semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan Allah
    amien

    1. Wa’alaikumussalam Mbaa, aamiin allahumma aamiin jazakillahu khoiron doanya mbaa. Doa yg sama untuk Mb Icha sekeluarga yaa. Semoga Allah karuniakan keberkahan dan kemudahan melimpah2 😘

  19. Assalaamu’alaikum…
    Salam kenal mba…
    Aq terharu bgt baca ceritanya…
    Jadi motivasi juga buat aq yg lagi hamil 15w n janinku divonis cacat berat, mba.
    Aq test fetomaternal 4hri yg lalu.
    Dokter nyaranin janinnya dikeluarkan.
    Tp aq masih ingin berikhtiar..
    Doanya ya mba… 😊

    1. Wa’alaikumussalam, salam kenal Mba, peluk erat dari sini :”)
      tapi sudah dipertimbangkan keamanan dn kesehatan Mba juga kan? Karena setau sy ada kondisi bayi yg tidak menganggu ibunya, tp ada jg yg membuat Ibunya dalam bahaya. Apapun itu, semoga Mba dan dedek dalam kandungan senantiasa Allah jaga dn lindungi ya mbaaa. Semoga Allah kuatkan dan mudahkan perjuangannya :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s