Keluarga · Kontemplasi

Menikah Lagi

Menikah Lagi

Selalu ada perasaan yang bertumpuk-tumpuk yang melekat seiring dengan semakin dekatnya waktu persalinan. Bahagia? Jelas iya. Takut? Ah, ini sudah pasti.

Ada banyak sekali hal yang saya takutkan. Yang pertama tentu saja: Kesehatan anak kami, dengan segala drama riwayat kehamilan-kelahiran-kematian anak-anak sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri ketakutan itu masih ada, walau terkadang ia timbul tenggelam.

Baca : Kehamilan Ketiga : Antara Takut dan Bahagia

Baca juga : Pasrah

Hal kedua yang saya takutkan adalah: diri saya sendiri.

Ah, ya, walaupun sudah pernah mengalami 2 kali persalinan normal dengan lancar dan mudah, dan secara logika seharusnya persalinan ketiga kelak jauh lebih mudah, tetap saja perasaan-perasaan penuh kekhawatiran menyesaki dada.

Bukankah, masih mafhum adanya, bahwa ibu yang bersalin adalah ibu yang sedang mengadu nyawa? Yang perjuangannya disetarakan dengan jihad di medan perang? Yang pada akhirnya selalu ada dua kemungkinan: hidup atau mati?

Ya. Kematian ibu bersalin. Samar-samar menyusupi dan diam-diam menggelayut di hati. Ditambah lagi keadaan dimana beberapa pekan yang lalu saya mengalami anemia hingga diharuskan untuk transfusi darah, sebuah diagnosa yang mengatakan saya beresiko mengalami perdarahan ketika kelak melahirkan. Dan yang sejauh saya tahu, perdarahan adalah penyebab terbesar kematian pada ibu bersalin.

Baca : Pengalaman Pertama Menggunakan BPJS

Ya. Manusia manapun juga pasti mengalami proses bernama mati. Pertanyaan tentang kapan hanyalah basa-basi. Pada akhirnya kita tetap tidak akan telalu lama berada di sini. Sejenak saja, kemudian pergi.

Dan apakah saya takut mati? Ah. Saya hanyalah manusia biasa dengan iman tambal sulam, dengan taqwa yang berkaratan. Perbekalan yang saya kumpulkan masih terlalu tipis dan ringan, yang bahkan mungkin jangan-jangan sudah habis karena banyaknya dosa yang saya lakukan.

Tapi sesungguhnya bukan itu yang hendak saya tulis di sini.

Jika toh saya lebih dulu pergi, seharusnya–iya, seharusnya, walau pada kenyataannya sering tak mudah–semua tetap harus baik-baik saja. Suami saya tetap akan berangkat pergi bekerja di kantornya setelah ia cuti barang sehari dua hari, ia tetap akan makan 3 kali sehari, matahari akan tetap terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, dan Jakarta masih tetap akan macet dan penuh polusi (barangkali).

Hidup harus terus berjalan, ada atau tanpa saya. Istrinya.

Saya jadi teringat sebuah ayat:

“Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna.”

“Mereka (para istri) itu adalah pakaian kamu, dan kamu (para suami) adalah pakaian bagi mereka..”

[QS. Al-Baqarah : 187]

Jika suatu saat nanti, pakaian itu tak lagi kita miliki, bukankah seharusnya kita akan mencari pakaian baru, untuk menutupi aurat kita dari ketelanjangan?

Maka selayaknya mencari pakaian baru, bukankah mencari istri baru adalah sesuatu yang seharusnya tidaklah susah? Terkadang, kita saja yang terlalu merumitkan semuanya.

Ah, sungguh berdenyut-denyut kepala saya memikirkan ini.

Sejujurnya saya tidak terlalu memikirkan semua dengan seserius ini, hanya saja pagi ini saya teringat undangan pernikahan sahabat suami saya. Ia menikah lagi hari ini. Iya, menikah lagi. Bukan poligami tentu saja, ia menikah karena memang istrinya telah meninggal beberapa bulan yang lalu.

Baca : Ukhibbuki Fillah, Mba…

Tidak ada yang salah, sungguh, apa yang dilakukan bahkan sebuah keputusan yang harus diapresiasi. Menikah lagi tentu tidak mudah, dengan bayang-bayang istri seshalihah itu (yang barangkali akan sangat susah mencari yang minimal setara dengannya). Saya hanya tiba-tiba teringat dengan sang Istri, dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi ia saat ini.

Beliau cemburu kah?

Atau bahagia kah?

Mungkin cemburu lantaran suaminya kini punya sosok lain yang menghinggapi hati. Tapi mungkin juga bahagia, karena akhirnya suaminya memiliki penawar luka, suaminya pasti akan bahagia, dan anak batita mereka akhirnya menemukan kembali sosok ibu untuknya, sesuatu yang pasti sangatlah penting bagi pertumbuhan jiwanya.

Lalu mengapa jadi saya yang galau? Ah, entalah. Bahkan sampai saya harus memastikan diri ke suami.

“Kalau Mas Yunis jadi Mas A, apa yang Mas Yunis lakukan?”

“Aku gamau jadi A.”

“Hmmm, oke, pertanyaannya diganti, kalau aku meninggal, nanti Mas Yunis nikah lagi?”

“Ga usah berandai-andai. Ga boleh itu.”

Duh.

Yah. Sejak awal saya tahu, pembahasan ini tidaklah terlalu berguna. Tapi tetap saja saya merasa, saya harus menulis ini supaya saya tidak menyimpan sendiri (kegalauan yang sangat tidak penting ini -,-)

Terlebih kemungkinan saya meninggal duluan ini tidak lebih besar dibanding kemungkinan suami meninggal duluan. Jadi, wahai diri, setidaknya tetaplah ingat satu hal: kematian itu pasti. Bukan menikah lagi yang menjadi poin yang harus dikhawatirkan, tapi tentang seberapa banyak amalan yang sudah kita kumpulkan.

Stop salah fokus, Fira! 

Dan, terima kasih sudah membaca,

signature

P.S. :

Oh ya, saya baru ingat saya pernah menulis yang serupa dengan ini, sesaat sebelum saya menikah dengan suami.

Baca : Akhir Sejarah Cinta Kita.

Oh ya satu lagi, analogi mencari istri baru yang disamakan dengan mencari pakaian baru itu murni pemikiran saya yang tidak didahului dengan riset dan telaah tafsir atau semacamnya. Jangan dijadikan acuan atau patokan (ya siapa juga sih ya, cuma takut ada yang salah persepsi aja) itu benar-benar hanya lintasan pikiran saya yang faqir ilmu ini. CMIIW.

Advertisements

9 thoughts on “Menikah Lagi

  1. Teringat bahwa ibu yg memperjuangkan kelahiran dan persalinan bagi anak seperti jihad di jalan Allah. Kalau dia hidup, maka pahala besar. Jika mati, ia mati syahid. Begitu pula anak. Tetap percaya pada Allah. Jangan takutkan yg lain. Semangat wahai bunda..

  2. “Kalau Mas Yunis jadi Mas A, apa yang Mas Yunis lakukan?”

    “Aku gamau jadi A.”

    Lucu ya..

    Kalau kata teman saya, pikirkan yang terdekat dulu, jangan buru2 mikirin yang jauh2 kalau memang belum terjadi. Sekadar saran hehe

  3. Sebagai laki-laki juga, memang pertanyaan – pertanyaan sejenis dan semacam “apakah kamu akan menikah lagi setelah aku meninggal?” tidak baik jika ditanyakan wanita kepada pria untuk pria itu sendiri

    1. Oh iya yah? Hmm… Saya baru tahu, memang sebenarnya tidak baik sih berandai-andai itu, tapi kadang sebagai manusia biasa juga kita (saya sih) masih belum bisa sepenuhnya menghindari.

  4. mbak firaaaaa … ahahaha duuuh kenapa temanya mesti sesuai sama hati sihhh..kapan lalu juga pernah tanya begituan sama suami gegara nemu bacaaan tentang menikah lagi.

    “ Mas , kalo suatu saat aku gak ada, apa yangs lakukan?”
    “sudah , ndak usah mikir jelek dulu. mikir itu yang bahagia2 aja. jangan bikin aku mikira yang gak penting2. hidup masih panjang .”

    #lalusayaheninggantitopik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s