Cerpen

Tirai Langit

–Juara 3 IMMA Fest #01

 

 

Wanita itu menutupkan kain kerudungnya hingga menutupi sebagian wajah, sekuat tenaga menyembunyikan isak tangis dan butiran-butiran air dari ujung matanya yang memerah. Ia menangis dalam diam, menahan semua rasa sakit yang menusuk-nusuk tenggorokannya, mencengkeram erat lehernya, memeras-meras ulu hatinya, mendisfungsikan seluruh koalisi organ-organ tubuhnya. Membuat wanita itu tampak begitu rapuh, seakan seluruh jaringan epitel tubuhnya luluh-lantah, meninggalkan seonggok daging parokial yang sedang menanti-nanti datangnya keajaiban.

Entah apa yang harus diperbuatnya, ia hanya ingin menangis, memandangi telapak tangannya sendiri dan berusaha sekuat tenaga untuk tetap duduk tegak di atas ranjang kerasnya. Menghitung lembar demi lembar kain sprei yang kini basah akan bening matanya yang kian tandus.

Aku memandangnya dengan iba. Bagaiamana tidak? Ia telah kehilangan separuh nyawanya. Sesuatu yang ia cintai dengan segenap jiwa, ia harapkan dan selalu ia nanti-nantikan dalam hidupnya. Sesuatu yang ia kira akan membawa kesejukan dalam hidupnya yang dihimpit kesusahan yang berkelanjutan. Sesuatu yang ia harapkan akan membawakan kebahagiaan dan mampu membuatnya lupa akan segala ketidaknyamanan hidup yang semakin hari semakin mencekiknya. Sesuatu yang ia nanti-nantikan menjadi sosok yang akan menyuguhkan cahaya ketenangan dalam hatinya. Sesuatu yang amat sangat ia cintai. Sangat amat ia cintai.

Aku memandangnya sekali lagi. Sebenarnya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, mengatakan padanya bahwa ia tak perlu lagi menangis. Aku benar-benar ingin mengatakan bahwa dunianya belum berakhir sampai disini saja. Aku ingin menghiburnya, aku ingin membesarkan hatinya, aku ingin membuatnya kembali tersenyum, aku akan melakukan apa saja untuk membuatnya kembali tertawa. Tapi aku tak bisa. Aku tak mampu. Aku bahkan hanya bisa memandanginya dalam diam tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu kucintai, yang juga begitu mencintaiku. Aku tak bisa, aku tak mampu. Karena aku tahu aku tak mungkin melakukan hal itu. Tak mungkin. Aku tidak mungkin melakukannya. Sungguh, aku takkan pernah mungkin melakukannya!

Aku kembali menatap wajahnya yang layu. Ia masih memandang tumpukan pakaian mungil yang bertengger di atas lemari kayunya yang rendah dengan pandangan kosong. Aku tahu ia begitu merindukanku, aku tahu ia begitu mencintaiku, aku tahu ia begitu menyayangiku, aku tahu semua itu. Aku tahu. Tapi sekali lagi aku hanya bisa memandangnya dalam diam. Aku hanyalah makhluk bodoh yang tak mampu membuatnya gembira. Aku lah makhluk yang membuatnya sedemikian sedih. Aku lah makhluk yang telah mengobrak-abrik harapannya, memutuskan rajutan angan-angannya, memupuskan harapannya, menelantarkannya di tempat antah-berantah yang tandus dan tak berudara. Aku  lah makhluk itu. Ya, aku lah makhluk itu! Yang dengan kejam mendobrak gerbang cintanya hingga porak-poranda bak diterjang Tsunami. Yang telah mencincang-cincang mimpinya. Karena aku telah meninggalkannya. Meninggalkannya.

 

Wanita itu bernama Maryam. Ia adalah wanita yang dengan baik hati meminjamkan rahimnya untuk seorang bocah mungil yang sedang berkemas untuk mendaki gunung kehidupan. Maryam selalu memimpikan bayi mungil pelipur laranya lahir ke dunia ini, ia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari istimewa bayi mungilnya. Hari dimana bayi mungilnya menghirup nafas untuk pertama kalinya. Hari yang paling ia tunggu-tunggu.

Namun hari yang ia tunggu-tunggu itu sekaligus menjadi hari yang menjungkir-balikkan angannya, menyuguhkan sebuah video kehidupan yang mengiris kepingan-kepingan pembuluh darahnya. Membuatnya terkapar di padang tandus kehidupan dan menghanguskan jiwanya. Hari dimana ia menguras habis air matanya untuk sebuah harapan yang urung menghampirinya.

Maryam adalah seorang wanita hamil yang telah di tinggal suaminya tepat ketika ia mengandung bayi berusia sebulan, dan kini, bayi itu telah lahir di dunia ini. Dunia ini?

Aku tak tahu mengapa aku tak sempat menghirup segarnya udara dunia. Aku juga tak tahu mengapa Allah mengutus malaikat maut-Nya untuk mencabut nyawaku justru ketika aku belum terlahir di dunia itu. Namun yang aku tahu, aku harus menurut pada takdir Allah, karena Ia adalah Dzat yang menciptakanku, karena Ia yang Maha Tahu. Dan begitu lah seharusnya.

Sejauh yang aku tahu, ibuku adalah makhluk terindah yang ada di bumi. Ia selalu memberikan makanan yang sehat untukku, ia selalu pergi ke dokter untuk mengetahui kondisiku, ia pula lah yang dengan ikhlas meminjamkan rahimnya untukku. Ibuku adalah wanita yang tabah, ia tak pernah mengeluh walaupun aku tahu bahwa ia merasa mual dan muntah ketika aku meminjam rahimnya, tak pernah mengaduh meskipun ia merasakan sakit yang teramat sangat setiap kali berjalan jauh, ia pula lah yang selalu menggendongku ke mana pun ia pergi, ia rela menahan rasa sakit bahkan ketika aku nakal menendang-nendang perutnya, ia rela merasakan setiap nyeri dan bengkak di kaki yang timbul karena kedatanganku di dalam tubuhnya. Ia pula yang selalu terbangun di malam hari, bersimpuh pada Rabbi dan mendoakanku agar menjadi anak yang sholeh yang kelak berbakti dan memuliakannya. Ia adalah wanita lembut yang begitu kucintai. Ia adalah ibuku.

Ibu, dia adalah seorang wanita yang tangguh. Ia rela membanting tulang, mencari nafkah demi sesuap nasi untuknya dan untukku yang bersembunyi dalam tubuhnya. Ia bukan wanita manja yang hidup dalam belas kasih orang, tak pula menjadi putus asa meski ditinggalkan Ayah. Ia bekerja keras, demiku—demi aku yang dipersiapkan tuk menjadi pelipur laranya di dunia. Namun entah—mungkin, justru itu lah, malaikat maut menjemputku; karena ibu terlalu keras bekerja. Ia bekerja keras demiku, namun aku justru pergi meninggalkannya.

 

Aku masih tetap memandangya dari jauh. Rupanya ibu masih belum mengikhlaskan kepergianku, ia masih terisak-isak sambil memandangi tumpukan pakaian bayi, botol susu, popok dan perlengkapan mandi bayi untukku. Namun sayang, semua benda itu seakan tak ada gunanya. Aku masih ingat betapa susahnya ibuku menawar harga barang-barang perlengkapan bayi itu kepada pedagang pasar bahkan ketika ibu sedang merasakan lelah yang luar biasa karena menggendongku terus-menerus, aku juga masih ingat ketika ibu dengan rapi menata barang-barang perlengkapan bayi itu berjajar di atas lemari kecil di samping kasur. Ia menatanya dengan perlahan-lahan, menyongsong kelahiran putra pertamanya ke dunia ini, berharap kelak bayi ini akan membuatnya tersenyum. Namun yang kulakukan justru membuatnya bersedih. Aku telah membuatnya bersedih dengan kepergianku ini.

Aku tak kuasa memandang ibuku yang demikian berduka. Aku harus menghiburnya. Ya! Aku harus menghiburnya, membuatnya kembali tersenyum dan merelakan kepergianku ini. Aku harus melakukannya!

Dengan penuh keyakinan aku mendekati ibuku. Perlahan-lahan kuhampiri dirinya. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, namun aku tahu suaraku takkan terdengar hingga ke telinga ibu. Kami dipisahkan oleh sebuah tirai yang dirajut tuk membatasi duniaku dan dunia ibuku—ya, sebuah tirai langit. Aku hanya mampu berdoa—Aku hanya mampu meminta pada Rabb-ku, karena tirai langit takkan pernah mampu menahan doa-doaku seperti ia menahanku dari sosok ibuku.

“Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segalanya, Engkau adalah Dzat yang mengatur segala-galanya. Kuatkanlah ibundaku yang begitu aku cintai ini, tabahkan lah ia… Berilah kesabaran di hati ibundaku… Hamba mohon sampaikan padanya Ya Rabb, bahwa sesungguhnya kelak ketika ibunda kehausan di Padang Mahsyar nanti, aku akan menyuguhkannya air dari Surga, dan ketika ia bersabar maka sesungguhnya ia akan menemuiku di Surga-Mu, Ya Rabb. Berilah ketabahan padanya, kuatkan hatinya. Amin.”

Aku memandang kedua mata ibuku yang sayu. Ia sedang memandang langit. Ya! Ibuku sedang memandang langit. Aku tahu Allah pasti mengabulkan doaku. Aku tahu itu. Dan aku sedang menunggu keajaiban dari-Nya.

“Ya Allah, Ya Tuhanku… Ampunilah dosa hambamu ini… Hamba telah mengingkari takdir-Mu, Ya Allah… Ampunilah dosa hamba. Hamba akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian putra hamba yang telah Engkau panggil Ya Allah… Hamba ikhlas. Hamba ikhlas lahir bathin…”

Aku tersenyum mendengarnya. Cukup sudah yang kulakukan, aku harus segera pergi. Aku harus segera menemui Rabbku***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s