Cerita · Keluarga

Pengalaman Pertama Menggunakan BPJS

Pengalaman Pertama BPJS

BPJS oh BPJS…

Gimana kah reaksinya mendengar kata BPJS? Hihihi, pasti banyak yang emoh, iyuh, dan perasaan sebal lainnya? Haha. Saya jugaaa. Saya seriiiing banget denger kabar bahwa pelayanan kesehatan bagi mereka yang menggunakan BPJS itu dinomorsekiankan. Yang ditolak lah, kamar penuh lah, ga dirawat dengan baik lah, dijudesin perawat lah, dapat obat murahan lah, bla bla bla. Intinya mah BPJS identik dengan yang buruk-buruk. Duh kalau sakit mending ga pake BPJS deh, repot, ruwet, ribet! Mending pake uang pribadi, mahal sih, tapi dijamin pasti ditangani dengan baik.

Begitu kah? Hihihi. Kalau saya sih, selama ini memang selalu berfikir begitu. Makanya walau Bapak saya PNS, suami saya PNS, dan saya pun juga sempat menjadi CPNS (sebelum penempatan di seberang sanaย dan kemudian memilih resign hehe) tapi bisa dibilang saya dan keluarga sangat menghindari yang namanya BPJS, dari sejak masih pakai nama Askes hingga ganti nama jadi seperti sekarang ini.

Nah tapi kalau dipikir-pikir, rugi dong yah, gaji udah dipotong tiap bulan untuk iuran BPJS tapi enggak dipakai. BPJS kan bayar, bukan gratisan, idealnya ya pengguna BPJS diperlakukan sama seperti pengguna asuransi swasta lainnya dong yah. Idealnya sih gitu. Jadi ya kami mikirnya sayang aja, udah keluar duit mosok ga dipake sih. Walau sebenarnya disatu sisi juga maju mundur cantik mendengar cerita-cerita buruk BPJS. Jadilah saya dan suami diskusi berhari-hari dulu, dan kemudian keluarlah keputusan untuk mencoba pakai BPJS untuk proses melahirkan nanti. Dicoba dulu aja, kalau sekiranya pas hari H kami ga sreg dengan pelayanannya, langsung switch jadi umum alias non-BPJS.

Mulai lah kami googling kesana kemari, nanya ini itu ke banyak orang, gimana sih BPJS ini pakainya. Daaan, perlahan-lahan kami ikuti satu per satu prosedurnya. Ribet? Iyes, tapi yaa ga ada salahnya dicoba kaan. Hehe.

Ganti Faskes I

Hal pertama yang kami lakukan adalah mengganti Faskes I kami. KTP, KK dan segala dokumen administrasi kami sebenarnya terdaftar di Kota Pasuruan, Jawa Timur. Pun dengan Faskes I kami tertulisnya ya di Puskesmas Pasuruan. Nah tapi karena kami tinggalnya di Kota Tangerang Selatan, ya ga mungkin dong harus pulang kampung tiap mau pake BPJS. Nah alhamdulillah ternyata, Faskes I ini ga harus sama dengan KTP kita. Saya nih, walau KTP-nya Pasuruan, tetep bisa memilih Faskes I di tempat saya tinggal di Tangerang Selatan.

Faskes I ini adalah tempat pertama yang kita tuju untuk berobat. Harus di tempat terdekat kita tinggal kah? Saya pribadi sih memilih iya. Tapi ga harus yang terdekat kok. Ada kenalan saya yang memilih fakses I-nya di Kota A sedangkan dia tinggal di Kota B. Kok bisa? Ya bisa, karena memang ga harus sesuai plek-ketiplek sama KTP atau tempat tinggal kita. Suka-suka lah. Teman saya ini memilih Faskes I agak jauh karena beliau maunya melahirkan di Rumah Sakit di Kota A, jadi kalau mau pake BPJS ya harus terdaftar di Faskes I Kota A. Begitu.

Ohya, memilih Faskes I ini bagaimana caranya?

Gampang, datang aja ke Kantor Cabang BPJS terdekat. Kalau kami kemarin sih datang langsung ke Kantor Pusat BPJS di Matraman Dalam, Menteng, Jakpus. Alhamdulillah kalau untuk yang PNS sih antriannya ga panjang yah, jadi ga perlu lama-lama juga disana. Kita tinggal datang, isi formulir, dan serahkan formulir ke petugasnya. Jangan lupa sambil tanya-tanya aja sekalian, biar mantep.

Syaratnya apa aja?

Cuma KTP doang, bawa asli dan fotokopian ya. KK juga katanya sih perlu, tapi selama ini kami urus BPJS sih ga dimintain KK, cuma KTP aja. Ohya, kita bahkan ga harus datang sendiri lho!ย Saya aja ga ikut datang langsung ke Kantor BPJS, cuma suami aja yang ke sana, dan pulang-pulang udah dapat 2 Kartu Indonesia Sehat untuk saya dan suami ๐Ÿ™‚

KIS
Kartu Indonesia Sehat (sumber)

Kalau sudah terlanjur milih Faskes I, bisa ganti ke tempat lain ga sih?

Bisa. Syaratnya, kita harus terdaftar selama 3 bulan di fakses I sebelumnya. Misalnya nih saya Faskes I milih Puskesmas A, karena ga cocok saya mau ganti ke Puskesmas B. Boleh-boleh aja, asalkan kita udah 3 bulan terdaftar di Puskesmas A. Jadi kalau baru kemarin milih Faskes I terus besok mau ganti tempat lain ya ga bisa, harus nunggu 3 bulan dulu. Begitu.

Saya sendiri tinggal di Jurangmangu Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saya memilih Faskes I di Klinik DK Ceger. Kenapa bukan Puskesmas Jurangmangu Barat? Ya ga papa dong, suka-suka saya. Haha. Kita bisa memilih klinik swasta atau umum yang memang melayani pasien BPJS, ga harus puskesmas. Tapi kalau mau puskesmas ya ga papa juga.

Nah sayangnya, di Klinik DK Ceger tempat saya ini hanya ada dokter umum dan dokter gigi, tidak ada bidan. Jadi untuk pasien ibu hamil seperti saya harus ke Bidan yang bekerjasama dengan Klinik DK Ceger. Disebutnya Bidan Jejaring.

Apakah gerangan Bidan Jejaring?

Dia adalah bidan yang bekerja sama dengan Klinik swasta Faskes I BPJS. Jadi ga semua bidan bisa ujug-ujug ditodong dengan kartu BPJS. Hanya bidan yang sesuai Faskes I lah yang mau menerima kita pasien BPJS.

Duh rempong ya? Iya sih haha. Saya sendiri sebenarnya memilih menjalankan segala kerempongan ini demi bisa melahirkan gratis di Rumah Sakit. Jadi perlu surat-surat rujukan dari Faskes I (yang mana ternyata harus ke Bidan tertentu yang saya enggak kenal sebenarnya huhuhu) tapi yasudahlah coba kita jalankan dengan lapang dada yaa semua ini :’)

Jadi ternyata buibu, ada kalanya memilih Puskesmas sebagai Faskes I adalah sebuah keputusan bijak. Karena kalau puskesmas kan semua ada yah, dokter umum ada, dokter gigi ada, bidan pun ada. Jadi ga usah ribet pindah-pindah, ya disitu aja tempatnya. Kalau klinik swasta macam yang saya pilih ini, konsekuensinya ya kita harus nyariin dimana kah gerangan bidan yang bekerjasama dengan si Klinik ini.

Jadi dengan berat hati saya datang ke Bidan yang bekerjasama dengan Klinik Faskes I saya, saya bawa-bawa tuh segepok dokumen riwayat kehamilan dan pemeriksaan. Saya bawa juga KTP dan Kartu Indonesia Sehat (Kartu BPJS). Saya jelaskan panjang lebar kenapa saya minta rujukan untuk ke rumah sakit. Karena ya untuk kasus saya ini, saya harus melahirkan di Rumah Sakit. Bla bla bla. Si Ibu Bidan baik hati langsung memberikan surat rujukan, alhamdulillah. Ga pake lama. Saya meluncur ke Klinik Faskes I.

Lho kok ke Klinik? Ga langsung ke RS? Duh, saya juga maunya gitu. Tapi apalah daya, prosedurnya dari Bidan Jejaring harus ke Klinik dulu, minta dibuatkan surat rujukan (again!) ke RS dengan dasar surat dari Bidan tadi. Untungnya lagi dokter dan Mbak-Mbak Kliniknya langsung bikin surat rujukan, jadi ya walau rempong tapi mereka sungguh sangat kooperatif kok. Mereka juga menanyakan saya maunya dirujuk ke RS mana, selama masih di wilayah Tangerang Selatan dan RS bekerjasama dengan BPJS, mereka mau membuatkan surat rujukan sesuai keinginan kita. Ohya, mereka bahkan juga memberi saran loh. ‘Sebaiknya di RS ini karena berdasarkan feedback pasien, kalau di RS yang itu pelayanan BPJS nya kurang baik, Bu.’ Atau, ‘Bu, kalau di RS ini dokternya bagus-bagus semua, kalau di RS yang itu dokternya ya campur ada yang bagus ada yang enggak.’ Tapi mereka benar-benar hanya memberi saran, sama sekali ga maksa harus dirujuk ke RS tertentu. Waaah, saya sih seneng karena jadi bertambah info. Walau saya udah menentukan dari jauh-jauh hari sih RS yang saya tuju karena memang udah janjian sama dokternya. Hehe.

Ohya, satu hal yang lupa saya bilang, prosedurnya memang ribet, tapi dokter, bidan dan semua yang saya datangi melayani saya dengan baik dan ramah, saya ga dijudesin kok hahaha, tapi ya emang prosedurnya itu sih yang sesuatu banget.

Datang ke RS dengan Surat Rujukan dan Syarat BPJS

Setelah mengantongi surat-surat rujukan dari Klinik Faskes I, meluncurlah kami ke RS yang kami tuju, kalau saya sih memang berniat melanjutkan periksa dan berencana lahiran di RS IMC Bintaro, dan RS ini menerima pasien BPJS alhamdulillah. Kita tinggal datang, ambil nomor antrian khusus BPJS (alhamdulillah sih antrinya ga lama) kemudian ketika dipanggil kita tinggal tunjukkan surat rujukan, KTP, dan selanjutnya kita akan diproses sama persis seperti pasien lain yang non-BPJS. Kok tau? Iya dong, soalnya sebelumnya saya sudah pernah periksa ke dokter di RS ini dan sama aja sih prosedurnya, bedanya ya cuma pas antrian awal aja. BPJS ke loket sini, yang umum di loket sebelah sana. Tapi ya sama kok petugas loketnya juga baik dan ramah ๐Ÿ™‚

Semuanya berjalan seperti biasa (ohya, kalau pasien BPJS ga pakai print hasil USG ya, heu) sampai kemudian jeng jeng jeeeeng, dokter kandungan saya membaca hasil pemeriksaan darah yang beberapa waktu lalu saya lakukan. Memang sih disana tertulis HB (hemoglobin) saya dibawah normal, tapi saya pikir ga rendah banget ah, palingan disuruh banyak makan sayur atau dikasih vitamin, tapi ternyata saudara-saudaraaa, saya disuruh transfusi darah saat itu juga!

Kaget? Iya dong! Di benak saya, transfusi darah itu prosedur yang dilakukan terhadap pasien yang udah sakit parah banget lah. Sedang saya kan sehat walafiat begini, bisa jalan kesana kemari kok ujug-ujug disuruh transfusi?

Ya memang saat itu usia kandungan saya 36 weeks, bayi bisa lahir kapan saja, dan HB yang rendah itu beresiko menyebabkan Ibu mengalami perdarahan ketika bersalin, ditambah pula saya ada riwayat obstetri buruk, jadi dokter gamau resiko, harus transfusi saat itu juga.

Segera lah si dokter telpon ke BPJS Center di RS tersebut. Dokter tanya, kalau pasien BPJS gimana nih, transfusi darah ditanggung ga? Dan ternyata, yang ditanggung oleh BPJS hanya satu kantong darah saja. Nah karena saya butuh dua kantong, maka saya harus bayar sendiri untuk satu kantong lagi dan biaya kurirnya (biaya kurir darah PMI tidak masuk BPJS ternyata)

Yasudahlah, booking kamar sesuai kelas BPJS suami yaitu Kelas II. Karena cuma butuh kamar untuk transfusi doang, saya ga minta naik kelas. Toh cuma sebentar doang, saya mikirnya sih paling cuma beberapa jam aja, eeh ternyata karena darah dari PMI-nya lama, jadi saya harus nginep semalam di RS. Ya gpp sih, saya ga masalah juga di Kelas II karena toh isinya ternyata cuma saya dan seorang pasien lagi, jadi sebenarnya kosong kamarnya haha.

Ohya, sebelum masuk kamar, kami dijelaskan juga mekanismenya bagaimana, prosedurnya seperti apa, disuruh tanda-tangan juga berkas-berkasnya. Kami juga dapat rincian dana di awal, yang ditanggung BPJS apa saja, yang harus kami bayar sendiri apa saja.

Untuk kamar dan biaya rawat inap semua ditanggung BPJS, darah 1 kantong, infus, biaya pemeriksaan dokter (konsultasi USG), visit dokter, cek lab, semua gratis. Kami cuma diminta bayar 360 ribu untuk 1 kantong darah (mahal juga ya ternyata darah harganya) dan biaya kurir darah 80 rb untuk 2 kantong darah. Total ya 440 ribu. Kalau seandainya kami ga pakai BPJS, mungkin bisa habis satu sekian juta kali ya. Jadi bersyukur juga sih alhamdulillah, lumayan ngirit lah kalau bisa ditanggung begini walau ga semua, jadi merasa kerempongan ngurus surat rujukan sebelumnya lumayan worth it juga haha.

Selanjutnya yaaa saya kemudian diinfus, setelah darahnya datang dimulailah transfusi. Saya juga dapat makan dan menurut saya sih makanannya enak (atau mungkin karena saya ga sakit yaa dan lagi hamil juga jadi semua makanan mah enak aja hehehe). Bidan dan perawat yang menangani saya juga baik, ramah, professional. Bidannya apalagi deh, baguus banget. Ketika masuk transfusi, bidannya ngecek saya tiap jam, karena kan kalau transfusi itu sebenarnya beresiko alergi yah. Ya namanya juga darahnya orang dimasukin ke tubuh kita, ga semuanya cocok. Kalau alergi bisa menggigil, bengkak, ruam-ruam, dan semacamnya. Tapi saya sih alhamdulillah enggak.

Satu kantong darah masuk sekitar 3 jam, kemudian ‘dibilas’ dengan memasukkan cairan infus, baru masukin satu kantong lagi sekitar setengah jam kemudian. Setelah habis kemudian diinfus lagi. Saya tetap harus ada di kamar sampai 6 jam kemudian untuk diambil darah, dicek lab HB-nya udah naik apa belum setelah transfusi. Kemudian masih harus nunggu 1-2 jam hasil cek labnya. Setelah itu nanti dokter datang ke kamar dan menjelaskan hasil cek labnya, kalau bagus ya boleh pulang, kalau enggak yaaa tetep boleh pulang sih haha. Saya aja ditranfusi HB nya cuma naik 0,7 hiks. Jadi masih anemia juga sebenarnya, tapi sama dokter kemudian disuruh minum vitamin dan obat dan jus bit tiap hari. Yaaaa semoga nanti pas lahiran HB udah normal lah yaaa jadi ga kenapa-napa nantinya. Aaamiin aamiin.

Jadi yah begitulah pengalaman pertama saya bersama BPJS ๐Ÿ˜€

Rempong? Iya, saya merasa rempong sih harus kesana-kemari minta surat rujukan.

Dilayani dengan tidak baik? Nah kalau ini enggak ya, alhamdulillah, semua yang saya temui sih baik, ramah, ga ada yang judes, ga ditolak juga di RS.

Merasaย terbantu kah? Yah walau ga bisa gratis tis tis, saya sih merasa lumayan terbantu. Dompet jadi terselamatkan karena ga harus bayar full semua biayanya.

Nah masalahnya, setelah saya tanya-tanya banyak kesana kemari, konon kabarnya RS tidak menerima pasien ibu melahirkan dengan persalinan normal. Kalau normal ya di faskes I, di puskesmas. Baru kalau ada indikasi caesar atau kegawatan lainnya, RS bisa melayani ibu melahirkan dengan BPJS. Hiyaaa, saya kan maunya lahiran normal, di RS, dan gratis. Wkwk. Jadi gimana kah, percuma kah perjuangan mengurus surat-surat rujukan ini? Bukankah saya juga punya riwayat kehamilan buruk, masa ga bisa lahiran normal BPJS di RS? Yah, kalau ini mah, kita tunggu saja yaa nanti bagaimana kelanjutannya. Masih diusahakan, kalau bisa ya alhamdulillah, kalau enggak pun ya sudah, tak apa. Toh rejeki mah Allah yang atur, pasti ada aja caranya. Hehe.

Jadi, BPJS tidak seburuk yang kita bayangkan kok. Yuk silakan dipakai BPJS-nya, insya Allah lumayan membantu kok! Semoga bermanfaat yaaa sharing saya ini ๐Ÿ˜€

signature

Advertisements

17 thoughts on “Pengalaman Pertama Menggunakan BPJS

    1. Kalau pendaftaran saya kurang tau, karena seinget saya kemarin suami cuma mendaftarkan administrasi saja dan tidak dipungut biaya. Tapi suami saya memang PNS. Kalau yang non-PNS bisa jadi sama atau berbeda.

  1. Assalamu’alaikum

    Kalau dari yang saya baca sih ya, kebijakan BPJS itu menanggung biaya persalinan normal maksimal 600 ribu. Saya belum tahu pasti juga sih. Soalnya baru mau coba juga. Baru sekali pemeriksaan di RS pake BPJS buat USG. Saya diomelin dokternya kenapa baru USG pas kandungannya udah 8 bulan. Ya mau gimana lagi. Abisnya ragu-ragu pake BPJS untuk urusan kehamilan dan persalinan. Soalnya katanya ga sepenuhnya gratis. XD

    Moga persalinannya nanti lancar dan normal ya ๐Ÿ™‚

    1. Wa’alaykumussalam
      Waaah sama nih mba, saya juga baru pertama ini makanya masih bingung juga hehe. Jadi bisa melahirkan normal di RS dengan maksimal biaya 600rb ya? Waah berarti nambahnya pasti banyak dong ya haha, di RS kan paling murah 2-3 jutaan hihi. Makasih banyak sharingnya mbaaa. Semoga lancar juga ya mbaa persalinannya nanti ๐Ÿ™‚

  2. menurut saya BPJS itu di lahirkan dalam keadaan prematur. dalam arti, segala sesuatunya belum benar benar siap. terlalu di paksakan. seperti saat kita sedang berada di luar kota dll. masih banyak yang harus di benerin. just for share ๐Ÿ™‚

    1. Iyap, saya setuju. Dalam banyak hal BPJS memang masih ga jelas ya gimananya, walau disatu sisi saya mengapresiasi niat baik pemerintah membantu masyarakat. Dengan catatan harus banyak peningkatan sih yang jelas mah. Hehe. Makasih sharingnya ya! ๐Ÿ™‚

    1. Hahaha, iya mbaaa, aku pas wara-wiri dari bidan ke klinik itu loh malemnya langsung lemeeeesss capek bangeeett minta dipijitin dari punggung sampe kaki wkwkwkwk. Duh tah, demi hemat iki dibelan-belani haha

  3. wah, terima kasih sudah bagi informasinya mbak. Btw, kalau kita merantau, faskes BPJS kita di kota perantauan, lalu kita pulkam dan misalnya sakit di kampung, apakah BPJS kita bisa berlaku di faskes BPJS yang ada di kampung kita?

    1. Wah saya pribadi sih belum pernah mengalami seperti yang mas tanyakan, setau saya BPJS hanya berlaku di fakses 1 tempat kita mendaftar, kecuali kasus gawat masuk UGD bisa dilakukan di faskes 1 atau RS manapun di Indonesia (tidak harus sesuai dg yang tertera di kartu). CMIIW.

  4. Assalamualaikum.Wr.Wb

    hai mbakkk firaaa …malam ini tiba2 kangen tulisan mbak fira..
    eh…nemu tulisan ini… >,,<
    tapi semoga bisa membawa sedikit manfaat,
    sehat selalu ya mbak fira .semoga mbak fira dan keluarga senantiasa dalam lindungan Allah ..amien

    1. Wa’alaykumussalam wr wb
      Waaah, jadi terharu ini dikangenin, hehe. Makasih banyak ya mba doa-doanya, semoga Mb Icha juga selalu dalam perlindungan Allah dn senantiasa dilimpahi barakah dalam setiap ikhtiarnya :*

      1. ahahah kemaren itu aku nulis panjaaaaang (kali lebar bgt mbak) .tentang pengalaman juga ngurus + make bpjs waktu aku hamil. eh begitu di enter …ilang sebagian.wkkwkwkw .padahal niatnya mau share juga. hihihi…sehat selalu ya mbak fira… selalu doa terbaik buat wanita2 kuat kaya mbak fira… =*

  5. Hihi, baca ini jadi nostalgia setahun lalu mba. Saya juga sempat opname untuk transfusi darah, dan lahiran juga, semua pakai fasilitas BPJS. Alhamdulillah lancar dan dimudahkan banget. Walaupun awalnya juga udah pesimis. Tapi ternyata pelayanan bagus aja. Tegantung pilih RS nya juga kalo kata saya. Karena temen saya pakai BPJS dan beda RS dengan yang saya ambil qodarullah memang agak beda. Ntar saya sharing juga deh pengalaman kemarin. Anyway, semoga lancar persaliannya ya mba ๐Ÿ˜‡ ikut hepi baca tulisan mba ๐Ÿ˜

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s