Cerpen

Fausse Reconnaissance

—dikirim ke lomba cerpen mana gitu, tapi kalah. Eh, tapi dimuat di majalah muslimah di kampus. Sekitar awal tahun 2012. :’)—

“Pasien menderita PTSD, Post Traumatic Stress Disorder,”

“Lalu bagaimana, Dok?”

“Kita bisa menanam ingatan baru, yang bisa mempercepat kesembuhannya dari PTSD,”

“Menanam ingatan baru?”

“Kita gunakan konsep paramnesia, paramnesia adalah ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali. Tapi tidak seperti paramnesia yang tidak sengaja mengalami distorsi, kali ini kita akan sengaja mendistorsi,”

“Caranya, Dokter?”

“Dengan fausse reconnaissance,”

Aku menghela nafas dalam-dalam, kupandangi wanita bertubuh sangat kurus itu sambil membelai lembut tangannya. Aku bisa merasakan betapa tubuh ini kelelahan dan sempoyongan, begitu keras ditempa dengan banyak cobaan yang membuatnya memeras matanya tiada henti. Bodohnya, hanya ini yang bisa ku lakukan. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk ibu muda yang bahkan terlihat belasan tahun lebih tua dari pada seharusnya. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuknya, dan untuk mereka semua.

***

Bocah-bocah ini terlihat senang sekali dengan daging sapi, madu dan roti yang ku bawakan, begitu juga dengan ibu mereka. Ada sepuluh bocah laki-laki yang duduk berjejer rapi di meja makan, tujuh bocah perempuan yang juga duduk manis di bangku masing-masing, juga ada lima janda dan ibu dari bocah-bocah itu yang membantuku membagikan makanan. Mereka memakan semua makanan dengan lahap, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar kecuali suara mengunyah mereka yang terdengar sangat lucu. Satu per satu ku hampiri mereka, membagikan gelas berisi jus mangga sambil mengingatkan mereka untuk makan dengan pelan-pelan. Sudah dua hari mereka tinggal di rumahku, aku memang sengaja membawa mereka dan ibunya dari camp pengungsian di Mogadishu, Ibu Kota Somalia. Aku pikir, dengan membawa mereka ke rumahku di Nairobi, Kenya; aku bisa membuat mereka merasa lebih nyaman dan aku pun senang karena akhirnya rumahku ramai dan tak lagi diliputi sepi yang mengginggit seperti yang sudah-sudah.

“Hey, Yusuf! Kenapa kau minum jus manggaku? Kamu kan punya sendiri!” Farhad segera merebut kembali jus mangga yang tinggal separuh itu dari Yusuf, adik laki-laki yang terpaut satu tahun di bawahnya. Yusuf mengembalikannya sambil tersenyum jahil, jus mangganya sendiri sudah diteguk habis sejak dibagikan tadi. Beruntung, Farhad tak ambil pusing dan kembali melahap sebanyak mungkin makanan yang ada di depannya.

Aku sendiri hanya memandangi mereka sambil tersenyum kemudian melanjutkan makan. Kami semua hikmat dengan hidangan masing-masing.

“PRAAANGG…!!!”

Aku menoleh kaget, ku dapati Ibu Noureddin menjatuhkan gelas belingnya yang berisi air putih.

Jammer[1], Emna… Jammer…”

Dit is okay[2]… Biar saya bersihkan, Mamma[3]…”

Kemudian segera saja ibu-ibu yang lain memungut pecahan gelas yang berserakan di bawah meja. Mamma Noureddin hanya diam di kursinya, ku lihat tangannya bergetar begitu hebat, melihatnya seperti itu aku segera menghampirinya dan merangkul pundaknya, mengajaknya untuk ikut bersamaku ke kamarku.

“Yang lain lanjutkan makan yaaa…” seru ku kepada semua mata yang kini memandangku dan Mamma Noureddin yang beranjak dari ruang makan.

Mamma Noureddin segera saja menjadi basah air mata dan berkali-kali meminta maaf kepadaku. Aku merangkulnya rapat, merasakan bahwa ia selama ini memendam sesuatu yang aku tidak tahu. Aku mendudukkannya di atas tempat tidurku, menghangatkannya dengan selimut dan berusaha menenangkannya.

Mamma kenapa?” tanyaku lembut sambil mengusap air matanya. Bagiku seorang akuntan di perusahaan yang baru berusia dua puluh tiga tahun ini, seorang ibu dengan empat anak ini sudah kuanggap seperti ibuku sendiri, begitu juga dengan ibu-ibu lain yang ku ajak tinggal bersama di rumah peninggalan ayah ibuku yang sudah lama wafat.

Mamma teringat Faduma, Faduma yang malang…” Mamma Noureddin masih terisak sambil menghapus air mata dengan kerudungnya. Aku mengernyitkan dahi, nama Faduma memang pernah sesekali ku dengar saat masih menjadi relawan di Mogadishu. Namun tak ada satu pun informasi yang ku ketahui tentangnya.

“Faduma anak Mamma Noureddin?” tanyaku hati-hati, berusaha untuk tidak menggores luka di hatinya namun aku juga diliputi rasa penasaran.

Detik berikutnya Mamma Noureddin melepas erat pelukanku yang berusaha menenangkannya. Dia tampak berjuang keras melawan air matanya sendiri yang kini makin menganak sungai, sesekali ku lihat tangan kanannya masih bergetar meski tidak sehebat getaran ketika di meja makan, namun tetap saja membuatku khawatir.

Mamma menitipkannya kepada Allah, di tengah jalan…” kali ini Mamma tak lagi kuat menahan goncangan tangisnya, ia menyembunyikan tangisnya di balik telapak tangan, menyembunyikan hatinya yang kini ia gores dengan pisaunya sendiri, ia sedang bergumul dengan rasa sesal di tenggorokannya, kemudian perlahan-lahan mulai mengurai cerita penuh luka yang membuatnya menjadi seperti ini, “saat itu kami sedang mengungsi menuju Dadaab, bersama Wardo, Abdullah, Sakow, Mohammad dan Faduma juga bersama orang-orang lain dari perkampungan kami. Kami berjalan hingga dua minggu lebih, tak kunjung menemukan kamp pengungsian yang disediakan Malaysia di Dadaab seperti yang orang bilang. Kami berjalan kaki menuju kamp, berharap mendapat makanan dan air untuk menyambung nyawa kami yang semakin hari semakin menguap. Saat itu Wardo masih bayi berusia sepuluh bulan dan dia menangis meraung-raung kehausan, sedangkan Faduma ambruk di tengah jalan karena lelah dan juga kelaparan. Mamma panik dan berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang tapi mereka tidak mau berhenti, mereka hanya mengkhawatirkan diri mereka dan anak-anak mereka sendiri. Air persediaan yang kami bawa hanya terisisa sedikit, dan Mamma harus memilih memberikan air itu untuk Wardo yang masih bayi dan menangis kehausan atau untuk Faduma yang sedang sekarat…”

Aku menghapus air mata yang juga mengucur di mataku, tak tega mendengarkan cerita tragis seorang ibu yang harus memilih satu diantara dua anaknya untuk tetap hidup dan membiarkan salah satu dari mereka mati.

Mamma memberikan air itu untuk Wardo, dan membiarkan Faduma ambruk di tengah jalan tanpa pertolongan. Rombongan masih terus berjalan dan kami mulai ketinggalan, Mamma tak tahu harus bagaimana, Mamma tak bisa membopong Faduma dan Wardo sekaligus, dan tak ada satu pun dari Abdullah, Sakow dan Mohammad yang cukup kuat untuk membopong kakaknya itu. Mamma benar-benar tidak tahu harus bagaimana, satu per satu anak-anak mulai menangis karena ditinggal rombongan yang beringsut menjauh sedangkan kakaknya tetap ambruk dan tak bisa bangun untuk berjalan. Akhirnya Mamma meninggalkan Faduma sendirian sekarat di tengah jalan…”

Detik berikutnya Mamma ambruk bersujud ke lantai sambil terus menangis. Ia memukul-mukul lantai dengan telapak tangannya dan membiarkan kerudungnya basah dengan air matanya yang tak bisa ia hentikan. Aku ikut ambruk memeluk punggung Mamma Noureddin, merasakan betapa nelangsanya seorang ibu yang harus melihat sendiri anaknya sekarat di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mamma membunuh Faduma… Membunuh anak gadis enam tahun ku sendiri..” Mamma Noureddin meraung dalam tangisnya. Antara sedih dan menyesal, ia hanya bisa menangisi semua yang telah terjadi.

Mamma ga membunuh Faduma,” kataku, masih tercekat diantara rasa sedih dan shock terhadap apa yang telah terjadi pada seorang ibu beranak lima di depanku ini, “itu adalah keputusan normal di tengah situasi abnormal. Mamma Noureddin ga mungkin duduk dan menunggui Faduma dan mati bersama-sama… Kita semua memang harus memilih, Emna paham perasaan Mamma dan betapa Mamma menyesal melakukannya. Tapi percaya lah Ma, Faduma sekarang jauh lebih baik, ia sudah dijaga oleh Allah…”

Aku tahu kata-kataku saat ini tak lebih dari angin yang berlalu, tapi aku ingin mengatakan pada Mamma Noureddin bahwa tidak ada yang salah, semua memang sedang kacau balau dan keadaan memaksa untuk memilih salah satu atau mereka semua mati bersama. Hingga sore berlalu, yang ku tahu kami berdua terisak diatas lantai.

Sesudahnya, aku menjadi sangat peka terhadap apapun yang terjadi pada Mamma Noureddin. Sebenarnya, kehilangan salah satu anggota keluar adalah hal yang biasa terjadi di Somalia, bencana kelaparan telah membuat hal tragis itu menjadi semacam rutinitas, bukan lagi tampak seperti sebuah kiamat sughra yang lazim di temui oleh orang-orang lain yang tidak ikut merasakan bencana Somalia. Parahnya, kini aku sedang tinggal satu rumah dengan lima ibu yang semuanya pernah merasakan kehilangan satu atau beberapa anaknya, dan semua ibu-ibu ini bahkan telah kehilangan suami mereka. Satu hal yang salalu membuatku terpukau adalah ketangguhan para ibu-ibu ini, mereka begitu menyayangi anak-anak mereka dan begitu kuat bertahan meski keadaan bertahun-tahun membuat kecantikan dan pesona mereka memudar. Selama ini aku memang tak banyak mengenal sosok ibu, ibuku meninggal tepat ketika melahirkanku dan ayah meninggal dua tahun yang lalu, mewariskanku kekayaan yang kini akhirnya ku dermakan untuk anak-anak Somalia. Rumah besar ini terlalu nyinyir jika ku nikmati sendiri, dan berbagi dengan janda-janda Somalia adalah pilihan yang tak pernah ku sesali.

Lama aku perhatikan Mamma Noureddin yang kini sibuk mengajari keempat anak-anaknya membaca dan menggambar di ruang tamu. Selama ini aku memperhatikan Mamma Noureddin dan mendapati ia tak pernah meminum air putih dengan gelas beling, ia selalu minum dengan gelas plastik dan ia hampir selalu menumpahkannya karena tangannya selalu bergetar hebat. Anehnya, tangannya hanya bergetar hebat ketika ia memegang air putih. Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu, ada sesuatu yang tidak beres terjadi.

Mamma merasa begitu bersalah, Emna… Mamma adalah ibu paling keji yang pernah ada…” Mamma balik memandang mataku dengan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya, “setiap kali melihat air putih di dalam gelas, Mamma teringat saat itu. Saat dimana matahari begitu menyengat pada setiap jengkal tubuh kita, lelah begitu kuat menggigit setiap persendian tubuh kita, dan semua terasa begitu buram dan suram. Seakan berdoa adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ketika Mamma menyaksikan dengan mata Mamma sendiri, betapa kurusnya tubuh Faduma yang bahkan hanya tersisa tulang kulitnya saja, matanya menyembul seakan hamper keluar dan kepalanya tampak berkali lipat lebih besar seharusnya. Matanya menatapku, satu-satunya orang yang ia harapkan pertolongan untuknya, namun justru saat itu Mamma bahkan melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkannya sendirian. Kepanasan di tengah terik yang menusuk. Sendirian, di tengah gurun yang entah berapa jarak mengukurnya. Ia terkapar tak berdaya, tak bisa apa-apa, sekarat, bahkan tak ada yang menuntunnya melafadzkan kalimatullah, dan Mamma begitu tega meninggalkan anak sulung paling cantik yang pernah Mamma lahirkan. Ia hidup menderita dan kekurangan karena terlahir dari seorang Mamma yang miskin dan tak punya apa-apa, ia hidup serba kekurangan karena Mamma yang tak berdaya, dan ia bahkan mati karena ditinggalkan oleh Mamma yang begitu jahat dan tega terhadapnya. Mamma macam apa aku, Emna??”

Aku kembali memandangi wajah penuh sesal dan butir bening yang berlarian dari ujung matanya. Mendengarnya bercerita tentang Faduma membuatku nyinyir, andai saja aku bisa berlari dan memeluknya kini, mengajaknya tuk tinggal bersama denganku dan ibu juga adik-adik dan yang lainnya disini. Tapi kemudian aku teringat satu hal, aku tidak boleh membiarkan semua  ini menjadi berlarut-larut. Mamma akan terus tersiksa akan rasa sesal yang bergumul di dadanya, dan tangannya tetap akan terus menerus bergetar ketika memegang segelas air putih.

             Fausse reconnaissance, mendistrorsi memori!

Aku teringat satu hal yang sempat dikatakan dokter ketika aku sengaja memanggil dokter untuk memeriksa semua anak-anak dan ibu-ibu Somalia yang ada di rumahku. Ketika aku mengadukan perihal Mamma Noureddin dan kisahnya tentang Faduma, Dokter mengatakan bahwa Mamma Noureddin mengidap PTSD dan menyarakanku untuk mendistorsi ingatan bahwa Mamma Noureddin telah membunuh Faduma dengan tidak memberikan air putih. Sesuatu harus dibenarkan dari memori itu, sesuatu harus diluruskan.

Ma, Faduma tidak meninggal karena engkau tidak memberinya air putih. Ia meninggal, karena Allah menyayanginya dan tak mau Faduma berlama-lama kesusahan di dunia ini. Faduma sudah bersama Allah, ia tak lagi menangis dan membutuhkan air minum. Ia tak pernah menyalahkan Mamma Noureddin karena lebih memilih Wardo daripada Faduma. Ia bahkan akan sedih ketika Mamma terus menerus menyalahkan diri Mamma, terus menerus menganggap bahwa Mamma lah yang membuat Faduma meninggal. Faduma pasti menganggap Mamma Noureddin adalah wanita tangguh yang bahkan kuat memilih dan memutuskan mana yang tepat ketika bahkan ia harus mengorbankan jiwa raga dan sanubarinya sendiri. Faduma bangga punya Mamma seperti Mamma Noureddin. Janganlah terus menerus menganggap bahwa engkau membunuhnya, Faduma takkan suka. Ia bahkan akan bahagia jika engkau bahagia kini, Ma… Ingatkah apa kata Rasul kita? Kita tidak lah boleh berkabung terlalu lama atas orang-orang yang meninggal dunia, Faduma sudah bahagia, Mamma. Dan engkau yang membuatnya bahagia…”

Aku menahan nafasku, memandangi Mamma Noureddin yang kini semakin banjir air mata. Dalam tangisnya, ia mengangguk padaku dengan matanya yang memerah karena bening yang berhamburan dari sana. Jauh di dalam hati, aku merasakan Mamma menyadari kebenaran kata-kataku. Ia terus terisak di dalam pelukku, namun aku yakin itu bukanlah isak kesedihan dan penuh penyesalan seperti yang sudah-sudah. Ada sebuah niatan dan tekad yang bisa ku rasakan lewat hangat pelukannya dan kata yang coba ia sampaikan sambil terbata-bata.

“Emna, jazakillah[4]…”

Aku tersenyum sambil terus memeluknya. Memeluk seorang ibu yang begitu mencintai anaknya, seorang ibu yang begitu banyak mengalami pahitnya kehidupan dan kerasnya perjuangan. Seorang ibu, bagaimanapun juga, takkan pernah berkurang cintanya untuk anaknya***

[1] Maaf (Bahasa Afrika)

[2] Tidak apa-apa

[3] Panggilan untuk ibu

[4] Semoga Allah membalas (kebaikan) mu (Bahasa Arab)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s