Cerpen

Percakapan Senja

–dimuat di Majalah Civitas, Edisi Mei 2012

 

Barangkali aku tidak salah, barangkali ini wajar saja, barangkali ini memang sebuah skenario yang dititipkan pada anak-anak Hawa. Barangkali, diam-diam, kamu juga sedang merasakannya.

Aku memecah rindu ini menjadi tiga, sama seperti tahun-tahun yang kita habiskan untuk menikmati senja bersama-sama. Kemudian setiap serpihnya ku taburkan ditiap persimpangan jalan. Agar ketika kamu berjalan pulang, kamu akan merasakan bahwa aku akan selalu membersamaimu. Seperti senja, yang selalu ada tuk mengingatkanmu betapa punggung yang lelah sedang mengharapkan penawarnya. Seperti aku, yang sedang sekarat rindu.

 

SATU.

Sesekali ku tatap langit, membingkai pesawat yang melaju dengan dua bola mata, berharap ia akan luluh dan mau mengantarku kembali pulang tuk sekedar memelukmu. Kemudian pergi. Lagi. Akan selalu ada banyak pesawat yang mondar-mandir di atap rumahku, seperti kini, meramaikan langit yang ranum yang selalu—seakan—memaksaku membongkar lemari ingatan. Bukan mustahil jika terkadang aku mengangkat tangan di dada dan memohon pada Tuhan. Aku ingin hilang ingatan. Menyibak semua puisi dan memindahkannya di atas air laut, dengan jari-jemari yang saling mengepal, mencoba melawan memori bahwa jemari itu pernah mengenal sebuah genggaman hangat seorang sahabat.

Duhai, setiap senja selalu mampu menarikku ke dalam percakapan-percakapan melankolia. Dua orang anak Hawa. Mentahbiskan senja untuk mengikat mimpi bersama.

Aku ingat ketika abu-abu masih melingkar di sepanjang pinggang hingga mata kaki, dan angkot biru rasanya begitu setia menanti dan merekam buih-buih cerita khas anak muda. Mengurai benang-benang yang pernah tergantung di awan, tergulung matahari dan tali-temali yang pernah bersaksi bahwa pernah ada dua bocah yang selalu ingin berbagi cerita. Sepertinya, tak ada kata bahagia yang lebih bahagia.

“Amia, aku jatuh hati pada Jogja,”

“Jogja? Apa bagusnya, Re?”

“Amia, kamu tau tempat paling keren untuk menikmati senja?”

Aku menggeleng, sejujurnya memang tak mengerti apa kaitan antara Jogja dan senja.

“Senja terlihat keren di setiap sudut Kota Jogja! Aku ingin setiap hari menikmati senja di Kota Jogja, Amia. Disana indah,”

“Memangnya disini ga indah, Re?”

Senyummu simpul, menjawab keningku yang berkerut.

“Amia, aku ingin ketika lulus sekolah nanti aku pergi ke Jogja. Aku ingin hidup disana. Kita ke  Jogja ya, Amia? Kita akan terus bercerita dibawah senja.”

Bercerita dibawah senja. Di Kota Jogja.

Dan hari itu menjadi hari ikrar janji. Dengan angkot biru dan deru angin jalanan sebagai saksi.

 

DUA.

Aku ingin kamu tahu, aku sedang berdiri di garis batas paling rapuh. Paling sendu. Paling abu-abu meski kita sudah lama menanggalkan abu-abu. Aku ingin kamu tahu aku membatukan kalbu. Mengais penawar racun biru-ungu. Memenggal dongeng-dongeng masa lalu. Mengumpulkan keping-keping biografi rembulan yang kita rajut sambil menadah hujan yang kuyu. Aku ingin kamu, mengampuni rindu.

Aku ingin kamu tahu, aku tak butuh rintih gesekan biola nona-nona Skandinavia, tak butuh prosa para penyair berima satu-dua, tak butuh ilalang yang dihembus angin utara, tak butuh ucap manis-klimis warna kesumba. Tak butuh apapun untuk mendeklarasikan simpul putih berjudul persahabatan yang hampir tumbang. Aku hanya butuh sepenggal tarikan nafas sebagai wakil dari tiga tahun kerlipan cerita, untuk mengampuni, bukan untuk menghakimi.

Di sebuah titik yang tak lagi terdefinisi mana rancu mana ambigu, kamu mengadu. Pada ikatan pelangi yang tiba-tiba menjadi teramat bisu, kamu genggam erat pelangi itu disudut jarimu, memuntahkan bening-bening yang menjadikanku tahu kamu tak rela aku pergi jauh.

“Re, aku ga bisa ke Jogja. Aku, aku harus ke Ibukota,”

“…”

“Re, aku minta maaf ya,”

“Berarti ga akan ada lagi cerita-cerita dibawah senja,”

“Di Ibukota ada senja, Re. Ada bangunan-bangunan tinggi, ada banyak jembatan layang, ada banyak orang-orang hebat, ada banyak gedung bioskop dan mall warna-warni, ada lebih banyak tempat-tempat indah untuk menikmati senja, Re. Kita bisa sama-sama ke Ibukota, kita bisa tetap bercerita dibawah senja.”

Ada segaris tipis senyum yang takut-takut, kamu menggeleng pelan dan memelukku hangat. Seakan sebuah adegan baru sudah harus dimulai, sebuah jurang lompatan yang kini mendorongmu untuk memelukku sedemikian kuat dan pekat. Seakan-akan, ini bukan hanya hanya sekedar pelukan seorang kawan yang akan ditinggalkan. Ini bukan hanya sededar jarak antara Ibukota dan Jogja.

“Ibukota tidak menawarkan apa yang aku butuhkan, Amia. Aku akan tetap pergi ke Kota Jogja yang asri dan damai. Nanti, ketika kamu libur, jangan lupa mampir ke Jogja, jangan lupa temui aku disana,”

Senyum takut-takut itu lagi, dan setitik bening yang coba kamu sembunyikan sekuat tenaga. Seketika aku merasa ada sesuatu yang kamu curi, sesuatu yang kamu bawa pergi.

 

TIGA.

Di Kota Jogja yang menentramkan ini, dibawah matahari yang redup dan keunguan, aku ingin menebus setiap senja untukmu, setiap senja yang kau pandangi sendirian tanpa kisah melankolia atau hiruk-pikuk dan kasak-kusuk kita berdua. Sebelum pesawat warna-warni kembali melambungkanku ke terik pengap Ibukota, sebelum semuanya menjadi sangat terlambat dan aku habis masa untuk membayar lunas setiap hutang pada senja. Aku ingin terus menaburkan rinduku dan menungguimu di sini selama ribuan kali senja, sehingga kita tak pernah berpisah seperti yang mungkin pernah kamu ceritakan pada sahabat barumu di Jogja. Sehingga tak akan ada pongah kemenangan betapa jarak mampu melerai genggaman kita berdua. Dan, setiap lembar tebusanku atas senjamu akan menjadikanku anak matahari yang beku ketika malam yang pekat hendak menelannya, aku akan menelusuri jejak langkah yang diberangus waktu, kemudian berpegang pada titik air di sudut mata yang turun dengan butir-butir kerinduan.

Entah berapa lama sejak percakapan terakhir, meski ada angka-angka yang terus berulang bersama ingatan bahwa pernah ada suara gelak tawa, di hari-hari singkat ketika kulihat kau membawa buku-buku tebalmu, berdiri di sana untuk gemuruh mimpi yang menyesaki dada. Walau akan mundur jauh ke belakang ketika mengakuinya, aku masih berharap akan bersorak memanggilmu lagi, dengan sumringah, seperti julukan-julukan yang kita sebutkan kala masih dibalut kain abu-abu, yang lebih merdu dari bisikan pelangi yang kamu simpan rapat-rapat di ujung jarimu. Lalu kita akan duduk berdua di jalur lalu lintas kehidupan, menggambar balon udara di langit senja, melambai pada setiap pesawat yang tak punya rumah.

Aku merasakanmu dimana-mana di kota ini. Di Jogja yang selalu mampu membuatku ingin terus menangisi. Karena di Jogja ini, kamu telah menjadi segalanya yang pernah kamu impikan, yang pernah kamu pikirkan, yang pernah kamu ikrarkan. Aku bahkan bisa merasakan denyut nadimu yang berdetak di setiap sudut kotanya, pancaran semangatmu di setiap sendi-sendi bangunannya, aku bahkan bisa mendengar helaan nafasmu di setiap sinar mentari yang jatuh diatas ubun-ubunku. Ini tempat hidupmu, ini tempat yang menyatukanmu dengan senjamu. Ini Jogjamu.

“Rerisaaaaa….!!”

Mungkin senja mampu meresonansikan teriakanku untukmu, yang sedang bersembunyi di sudut jagat raya. Mungkin saja aku sedang menyampaikan rindumu untuk senja. Mungkin saja, ah, sudah habis semua kata mungkin itu. Sama sepertimu yang telah habis usia, yang telah selasai menikmati senja.

 

2 thoughts on “Percakapan Senja

  1. @_@
    sebutir air itu hampir berjalan menyudut, namun janganlah mengiyakan hujan itu menari-menari diatas deburan mimpi-mimpimu dalam samudra nafas.
    nice!!! bahasa yang lembut, alur yang gemulai..gali topik2 lainnya untuk ditiupkan pada torehan tinta :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s