Keluarga · munakahat

Laki-Laki Ini…

 

candid-my-husband

Laki-laki ini,
Yang tangannya bergetar ketika memasangkan cincin di jari saya, dan harus dipaksa (karena entah awkward saking gugupnya) oleh Ibu Mertua untuk menggandeng saya setelah akad nikah.

Laki-laki ini juga yang selalu membesarkan hati ketika saya terkaget-kaget beradaptasi: lulus kuliah langsung nikah dan langsung hamil tanpa jeda, dengan segala drama yang melekat di dalamnya.

Laki-laki ini,
Yang terus-menerus menguatkan saya kala setiap dokter yang kami kunjungi mendiagnosa bayi kami takkan panjang usianya. Ia yang tak pernah absen di sisi istrinya kala saya mengadu nyawa dalam persalinan anak-anaknya. Ia yang merawat luka-luka jahitan dan membersihkan darah saya.

Ia yang tak pernah lelah menyemangati, tak bosan menghapus air mata yang tak bisa berhenti, ia bacakan ayat-ayat pengharapan untuk menghibur saya. Balasan surga yang paripurna dari Allah bagi mereka yang berkali-kali diambil anaknya, jika mereka mau bersabar menghadapinya.

Laki-laki ini,
Ia yang berkata dengan tegas kala nama saya tercantum dalam daftar penempatan dengan kota di Pulau seberang, persis ketika anak kedua kami tengah diambang kematian, tergeletak dan tak bergerak.

“Tetaplah bersama, jangan pergi walau selangkah, sungguh Mas lebih ridho uang kita sedikit tapi senantiasa serumah. Jangan pergi walau sebentar, sungguh kita tak tahu kapan datangnya ajal, bisa besok bisa lusa. Anak-anak kita mengajarkan bahwa mati sungguh tiba-tiba. Mas tidak mau salah satu diantara kita mati dalam keadaan berjauhan. Mas ingin meninggal di dekat istri, dirawat istri, begitu juga sebaliknya. Jangan pergi walau selangkah, jangan pergi walau sebentar. Tetaplah disini, sampai mati kita bersama, tak boleh ada yang menjauhkan kita.”

Dan keputusan ini pulalah yang membahagiakan hati saya. Lihatlah saya menikahi lelaki pemberani. Sungguh ia berani memutuskan untuk tegas dimana istrinya seharusnya berada. Walau ternyata hingga detik ini saya tak bisa lupa, keputusan ini pula yang justru menjadi ujian palingg drama yang menimpa saya.

Laki-laki ini,
Ia yang memasang badan melindungi saya dari segala cerca. Dianggap lemah, dianggap kalah, dianggap tak punya rasa syukur karena melepas pekerjaan berharga, dianggap akhwat tak berguna lantaran tak bisa diharapkan produktivitasnya di dunia kerja. Dibicarakan oleh mereka, orang-orang yang saya pikir mereka saudara. Saya pikir mereka keluarga. Namun nyatanya kasak-kusuk berhari-hari, spekulasi tiada henti, tanpa sedikitpun tabayyun ke saya pelaku utama. Saya kecewa, saya marah, dan bukan sekali dua kali terfikir untuk berhenti bersama mereka. Apa yang saya lakukan ini sesuai syariat, saya tidak maksiat, saya tidak kabur begitu saja, saya jalankan semuanya dengan sebaik mungkin yang saya bisa. Bukan dukungan yang didapat justru tekanan yang entah bagaimana caranya.

Tapi laki-laki ini, ia yang terus-menerus membesarkan hati saya, mengingatkan saya pada kalam-Nya:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya….”
–(QS Al-Kahfi 28)

Ah duhai, bahkan bersama orang shalih pun ujian sabar itu merongrong jiwa. Sungguh tak mudah, karena justru disaat-saat rapuh itu saya merasa sendirian, tak punya teman. Hanya suami saya seorang, yang saya dekap lekat dan peluk erat, hanya ia seorang yang mampu memahami dan mengerti.

Laki-laki ini,
Ia yang kobarkan semangat saya dengan izin dan ridhonya. Ia sisihkan sebagian rezeki kami sambil berkata, “Daftarlah, belajarlah, jadilah calon Ibu yang penuh ilmu. Kelak ajarkan pada anak-anak kita, semoga Allah karuniakan kita berkah melimpah.”

Ia antarkan saya dengan motor satu-satunya pemberian mertua, dari satu kajian ke kajian, satu majelis ke majelis. Hari ini Kajian Tafsir di Masjid ini, besok Kajian Hadist di Masjid itu, lusa privat Bahasa Arab dengan mahasiswi LIPIA, akhir pekan belajar Sejarah Peradaban Islam di pusat kota. Nyaris setiap harinya, bahkan hingga ke ujung-ujung terjauh Jakarta. Ia antar-jemput saya ke stasiun demi ilmu, bersambut senyumnya, juga kata penuh cinta, “Tadi bahas apa Ustadznya? Mas dibagi ya ilmunya.”

Laki-laki ini,
Yang setiap bulannya menjadwal dan menanti penuh harap. Membelikan saya berbagai makanan sambil menguatkan, “Ubi Cilembu kan Dek Fira suka, ini Mas belikan, katanya bisa buat program hamil anak kembar.”

Sungguh sejak lama ia berdoa semoga Allah karuniakan kami anak-anak kembar, agar kami tetap merasa banyak anak walau sebagian telah diambil-Nya.

Ia pula yang setiap bulan selalu (ah iya, selalu) membelikan tespek, mengingat dengan baik jadwal rutin saya, dan tak pernah kecewa walaupun tespek itu selalu berakhir dengan satu garis. Ia selalu punya kekuatan untuk tetap “waras” dan bahagia, dan menularkannya pada saya. Ia terus berharap, terus bersemangat, dan terus membelikan tespek setiap bulannya. Hingga kami paham betul di apotek sebelah mana tespek dijual paling murah. Haha.

Ah Kanda, sudah berapa bulan kita (akhirnya) berhenti beli tespek ya? :’)

Laki-laki ini,
Baru tiga tahun kami bersama. Baru tiga tahun saja, andai manusia tentu masih balita. Tapi bersamanya membuat saya begitu banyak berubah. Dan saya yakin ia pun pasti berubah.

Satu harap kami, semoga dengan berdua kami berubah menjadi lebih baik, lebih bertaqwa, lebih kokoh imannya, lebih melimpah sabarnya, lebih barakah rezekinya, dan semoga jalan menuju syurga pun lebih mudah kami meraihnya.

 

happy-anniv

Allah. Jadikan laki-laki ini makin shalih, dan mampukan aku tuk jadi shalihah. Hingga dengannya kami berupaya meraih ridho-Mu, syurga-Mu.

Allah. Jadikan kami pasangan yang tak hanya saling mencintai di dunia, tapi juga di surga. Jangan jadikan kami kelak pasangan yang berseteru di akhirat, sungguh, cita-cita terbesar kami adalah menjadi keluarga yang sakinah mawadah rahmah, bersama-sama kami bergandengan menghadap-Mu, dan mendapati Engkau pun menatap kami dengan penuh ridho. Aamiin.

signature

14 thoughts on “Laki-Laki Ini…

  1. Sedang di rumah, edit naskah orang. Sedikit jenuh, tapi email pengingat dari wordpress bikin beralih sebentar dari edit naskah. Rasanya campur aduk bacanya. Ngiri? iya (beneran, hehe). Bahagia? iya. Bangga? iya. Pengen nangis? iya. Setelah baca, banyak ‘semoga-semoga’ untuk Fira dan mas Yunis-nya. Aamiin ya Allah, kembar ya. Aamiin. :’)

    1. Aaaaaah, Mba Faaiiiz, peluk sayang dari jauh. Doaku selalu menyertaimu Mbakku sayaang, semoga Allah karuniakan yang lebih baik dan semakin baik untukmu seorang ya Mbaaak… Aku selalu mengagumi kekuatanmu untuk tetap bisa sekuat ini, tanpa keluhan tanpa galauan, tapi aku yakin doa-doa Mba Faiz yang dirapal dalam diam itu pasti dikabulkan, pasti, pasti, karena Allah Maha Mendengar.
      Peluk erat lagi, aku sayang Mba Faiiizz :’)

      1. Barusan Fira menguatkan lagi (dan lagi, karena seringnya). Allahumma aamiin doanya. Makasih Fira. Sayang Fira juga. Peluk. Jarang bertemu, tapi dekat di doa ya Fira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s