Keluarga · Perjuangan

Bekerjalah Kamu, Sungguh Allah Maha Melihat

businessperson-working-at-the-office-2-uid

Beberapa hari yang lalu pasca Idul Adha, sebelum adzan Ashar berkumandang, suara deru motor yang saya hafal terdengar. Kaget, loh kok suami udah pulang jam segini? Lantas mengalirlah ceritanya. Saya, yang berkutat dengan bumbu dan daging jatah Idul Adha, setengah mati memasak Nasi Kebuli yang pada akhirnya tak jadi (hiks), harus mendengar ceritanya sambil bolak-balik dapur-kamar mandi. Menahan nafas, mual, menenangkan diri sebentar, kemudian kembali lagi menekuri daging dan bumbu, sambil tetap memasang telinga mendengar ceritanya.

Sejujurnya saya tak begitu mendengarkan suami bercerita, tapi karena permasalahan ini sudah terjadi sejak kemarin-kemarin, dan saya sering kepo baca chat di hape suami, setidaknya saya paham akar masalahnya.

Sebuah chaos terjadi, perjanjian antar instansi yang wanprestasi, dan suami saya—beserta seratusan yang terlibat di dalamnya—menjadi korban atas ketidak-professionalan ini. Hampir sebulan terakhir memang suami saya merelakan jatah liburan semesternya, dan memilih sementara tidak banyak mengikuti kegiatan mahasiswa, demi mengerjakan tugas ini dengan segenap jiwa dan raganya. Bahkan, jauh-jauh hari, suami saya sudah sholat istikhoroh sebelum memutuskan untuk menerima pekerjaan ini.

Maka ketika chaos yang sudah berhari-hari terjadi ini mencapai titik puncaknya justru menjelang pekerjaan ini terselesaikan, sudah pastilah kecewa. Malu iya. Marah iya. Mau protes juga gimana?

Dan tiba-tiba suami saya bertanya,

“Kalau ternyata ga dibayar gimana?”

Saya—karena sejak awal sudah tidak konsentrasi—menjawab sekenanya.

“Ya gapapa Mas, kasian juga mereka, kerjaan belum selesai, di-cut sepihak dan tiba-tiba, masa juga harus bayar honornya.”

“Ya harusnya pihak yang membatalkan perjanjian yang ganti rugi honor kami.”

“Ya kayak gatau aja Mas, mereka ya pasti gamau lah.”

“Ini namanya dzolim!”

Suami saya kemudian merasa jengkel, ya namanya juga bekerja ya, tentu tujuannya untuk mendapatkan uang. Kalau sudah bekerja dan tidak dibayar, bagaimana rasanya? Walaupun sejujurnya saya agak kaget juga, tumben-tumbenan suami gitu banget ngomongin honor. Biasanya suami saya ini slow banget kalau urusan rezeki. Kalau dapat ya alhamdulillah, kalau enggak ya udah. Tapi memang sih, beberapa waktu ke depan kami harus mengeluarkan banyak biaya karena banyaknya kebutuhan, dan penugasan ini sempat membuat kami mendapat angin segar. Ditambah lagi, kejengkelan suami bukan hanya karena honor, tapi karena kekonyolan sistem yang sengkarut. Ah sudahlah, intinya ya begitu lah, hehe.

Kemudian saya jadi merasa bersalah karena meremehkan perasaan suami, dia (dan seratusan teman-temannya) sudah berlelah-lelah bekerja, tapi jangankan hak yang terpenuhi, justru malah dilempar-lempar kesana dan kemari.

Kalau saja pekerjaan ini adalah bisnis, barangkali kami bisa lebih bisa memahami. Konon bisnis memang memiliki resiko untung rugi, belum lagi tertipu dan semacamnya. Tapi pekerjaan suami ini sungguh jauh dari atmosfer bisnis atau sejenisnya. Tak heran jika banyak yang kaget dan kecewa.

Lantas saya teringat sebuah ayat, yang semoga ayat ini kembali membuat tenang dan tenteram hati yang tadinya marah dan kecewa. Sungguh duhai Kanda, apa yang engkau kerjakan tak pernah sia-sia. Kalau memang tak dibayar di dunia, Allah sendiri yang akan membayar kelak di akhirat…

 

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,”

–QS. At-Taubah : 105

 

Saya sadar diri saya tak merasakan sendiri bagaimana rasanya bekerja kemudian digantungkan, tapi sebagai istri (yang mencoba menjadi bijak dan shalihah, eaaa) cukuplah saya meyakinkan bahwasanya apa yang suami lakukan itu sungguh mulia, ia bekerja demi menghidupi keluarganya, menafkahi saya, mengirimi Bapak Ibunya, ditengah kondisi ekonomi yang tak tentu arah. Dan sungguh kemuliaan itu takkan berkurang sedikitpun wahai Sayangku, andaikata tak ada rupiah yang kau bawa pulang. Karena istrimu ini yakin, Allah tak pernah salah menghitung rezeki hamba-Nya. Barangkali honor yang terancam tak dibayar itu, akan berganti dengan rezeki lain yang tak kalah berkahnya, tak kalah indahnya. Insya Allah.🙂

signature

6 thoughts on “Bekerjalah Kamu, Sungguh Allah Maha Melihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s