Muslimah

Biarkan Hujan Menderas

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan,

yang satu mengokohkan yang lain”

(Risalah Ta’alim)

 

“Aku kok merasa kalian seperti dua orang yang saling sebal yah?”

“Hah? Separah itukah?”

-obrolan seusai UTS, air mancur STAN-

 

Bisa jadi, mungkin memang ini yang kita butuhkan. Sedikit menjauh, memuhasabah diri. Setelah terukir jalinan ukhuwah yang –mulanya kita niatkan— lillahi, apakah memang berjalan demikian? Atau justru, sekian ratus lembar siang dan malam yang terlewati, hanyalah perkawanan yang hanya berputar untuk urusan duniawi. Tak ada yang tahu bukan? Kecuali mungkin kita mengembalikannya kepada Rabbi. Sudah seperti apakah kita, dengan jalinan yang mengikat, saat ini? Ketika bahkan tampuk amanah dibebankan bersama, namun sekiranya ditengah jalan, kita malah sibuk berjalan di ego masing-masing. Yang satu tak peduli pada perasaan, yang satu lagi mendewakan perasaan.

“Ah dasar kita ini perempuan, gila perasaan,”

Pantas saja Nabi itu lelaki. Khulafaur Rasyidin itu lelaki. Kita, terkadang, serta merta menjadi sangat tidak rasional justru disaat-saat dimana logika menjadi utama.

 

Iya, memang. Tapi ah, bukan itu masalahnya. Kita hanya harus bersabar terhadap diri kita sendiri. Memuhasabah diri, saudariku.

Dulu, ketika kita memegang amanah yang berbeda, kita baik-baik saja, bak kawan erat yang tak terpisahkan—bahkan. Kini, ketika kita dipersatukan dalam amanah yang langit-gunung-bumi tak mau mengembannya, mengapa justru demikian memercik ego dan menyulut tangis?

Mungkin kita yang lemah. Tidak! Aku lah yang terlampau lemah. Yang masih harus sangat amat belajar bagaimana bekerja dengan kawan dalam satu barisan. Mungkin aku yang terlampau egois. Mungkin aku yang tak pernah mau memamahami, tak pernah mau mengerti. Mungkin memang aku yang harus diperbaiki.

Maka, maafkan aku, saudariku. Jika kini aku melangkah menjauh, membiarkan langit tetap menggantung dengan warna semakin kelabu. Biarkan dulu setiap gumpalannya memuntahkan tangis hujan yang menderas, membadai, menumpahkan setiap derai yang mengerak disana, membersihkan dari setiap yang tak seharusnya. Nanti, ketika hujan telah usai, aku yakin akan ada pelangi yang terajut diantara tangan kita. Bahkan, pelangi ini bisa jadi akan menambahkan nikmat dalam manis ukhuwah kita. Bukan kah memang, hal ini wajar dalam menjalin ukhuwah?

 

Mungkin, saat ini, kita sedang mengalami ujian, saudariku sayang.

Allah ingin kita ujian dulu, untuk naik tingkat. Dari ta’aruf, kemudian tafahum, kemudian takaful. Aku memimpikan kita berada di titik puncak ukhuwah, suatu hari nanti, seusai hujan yang menderas ini… :’))

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s