Kontemplasi

Kontemplasi

Image

Pernah suatu hari bercakap dengan seorang kawan.

“Apa yang kau pikirkan tentang mereka?”

Spontan saja menjawab,

“Tipikal pekerja. Sangat bagus, memang. Eksekutor yang handal. Bodoh jika ada yang meragukan kemampuan teknis mereka.”

“Tapi, mereka bukan tipikal konseptor.”

Kemudian, hening..

–(mungkin) Juli 2012

Jauh-jauh hari harusnya saya sudah paham akan konsekuensi ini. Konsekuensi untuk memilih, mengikuti arus ini. Sebagian menggeliat memberontak, meski sebatas gerutuan diam-diam dalam hati. Sedang yang lain belajar menyesuaikan, mengerutkan kening, meski toh kemudian tetap akan terus berjalan dengan alis terangkat.

Ada yang semakin menyeruak, lantaran nyatanya perbedaan dua hal ini tak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. Konsep, teknis. Teknis, konsep. Atau mungkin memang saya yang tak pernah paham bagaimana menakar pola hubungan vertikal horizontal dalam titik yang sama. Semacam garis yang membias oleh arus yang menderas.

Jadi, sebenarnya, mau dibawa kemana?

Kini, mungkin saya semakin buta membaca peta. Tak peka menangkap sinyal akan perhelatan macam-macam manusia. Mulanya ragu luar biasa, kemudian semakin yakin seiring dengan sejengkal ucap-kata yang, sejenak, bergemuruh. Namun bagaimana pun juga, di ujung masa, selalu merasa ini tidak baik-baik saja.

Ada yang salah, duhai. Andai saya tau bagaimana cara berucap lebih bijak, lebih pantas, lebih di dengar. Andai ada satu saja analogi yang melekatkan apa yang ada dalam benak dengan apa yang tergambar oleh indera. Hanya, sekiranya semua ini mungkin saja memang kontemplasi yang berputar-mendesing di kepala saya.

Tak ada apa-apa, sebenarnya!

Bisa saja demikian, bukan?

Atas semua ragu yang menelusup, atas semua kepekaan yang -mungkin- tak seharusnya, atas semua kebertanyaan yang tak pernah terjawab, dan atas pemikiran yang -rasanya- mustahil dipersamakan. Mungkin, sangat amat mungkin, semua ini karena iman saya yang mengerat berkarat. Hingga tak lagi memampukan akal untuk jernih menilai, tajam menakar.

Sangat mungkin, duhai, bukankah memang semua selalu berujung pada seberapa banyak hikmah yang mampu kita kumpulkan dalam perjalanan ini?

Kemarin dan hari sebelum kemarin, sempat yakin yang menggugah bahwa ini sudah terurai. Sudah menerang secemerlang matahari pagi. Namun ternyata, saya masih disini, berputar-putar di keranda ini. Dan tetap saja tanya ini tak pernah terlepas dari neuron saraf di pelupuk mata;

Jadi, sebenarnya, mau dibawa kemana?

5 thoughts on “Kontemplasi

  1. bagi para fisikawan yang mengetahui “kasta” ilmuwan fisika, maka mereka menyatakan bahwa ketika habibie fokus untuk membuat pesawat terbang itulah titik awal “kejatuhan”-nya sebagai fisikawan
    *abis nonton habibi-ainun

    1. oh… tapi tetap saja kak, konseptor yang melulu konsep tidak akan pernah nyata hasil pemikirannya tanpa seorang eksekutor. Pun dengan eksekutor yang banting tulang kesana kemari tapi tak punya konsep kerja yang jelas, ya sia-sia juga. Intinya harus balance, tapi di lapangan memang tak semudah itu ternyata. Yah, yang penting usaha🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s