Rindu

un-reach-able

fotoblogs

“Ah, tak suka! Unreachable itu!”

“Hum?”

“Iya, tak perlu tau hal-hal seperti itu. Nanti jadinya berharap. Ah, terlalu tinggi. Tak sampai. Nanti malah kecewa.”

–Kereta ekonomi Kertajaya, Surabaya-Jakarta

Hari ini aku melihat lagi sesuatu yang kau bilang unreach-able itu, dear. Mungkin memang masih unreach-able, seperti yang kau bilang. Dan tak pernah tau apakah pena langit sudah mengeringkan tintanya. Tak pernah tau selintas pikir itu akan bertemu dengan nyata atau tiada.

Hanya saja, sepanjang waktu sejak percakapan di kereta itu hingga kini, aku mengikuti katamu. Tak perlu tau. Unreach-able. Takut berharap. Takut kecewa. Sayangnya, detik yang barusan saja terlewati, mendadak harapan itu tumbuh. Tiba-tiba saja, bahkan sebelum aku sempat menyadari kedipan mataku sendiri.

Kau tau linger, dear?

Ibarat aroma dari sekuncup bunga yang berlalu dari hadapan kita. Bunganya sudah tak ada, namun harumnya masih terasa. Lekat di dalam paru-paru.

Nah, seperti itu!

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Dan berpura-pura tak mau, padahal sesungguh harap dan ingin telah menyesaki dada?

Satu yang ku tahu, di dalam harapan itu ada cinta. Di dalam cinta, mestinya, berbalut doa. Atas semua doa, kau pasti tau dear,  Allah tak pernah tak mendengarnya.

Maka, aku percaya tak ada yang mustahil di dunia ini.

Tak ada yang unreach-able.

Semua bisa terjadi; hanya perlu lebih banyak berupaya, lebih banyak berdoa.

Allah itu, Maha Pengabul Doa😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s