Mahasiswa

Belum Selesai, Belum Usai

Akhir-akhir ini, amat sering diri ini dihinggapi kekhawatiran, sejumput keinginan untuk memarahi waktu agar ia tidak berlari tergesa-gesa. Atau minimal, memintanya agar melambatkan langkahnya. Namun ia lagi-lagi mencurangi, mengambil satu per satu usia, lantas yang tersisa hanya segenggam pasrah. Duhai, andai boleh aku menghentikan waktu, aku ingin berhenti di titik ini. Titik yang membuatku kasmaran setengah mati.

Seperti sebuah roller coaster yang mulanya berjalan lambat, lantas berderap penuh semangat, meliuk, tajam, menukik, bersaing dengan angin, kemudian berderu mengerahkan segenap daya untuk mampu menanjak tinggi, meninggi, meninggi, terus meninggi, hinggu di suatu titik paling tinggi, paling gemilang, paling mendebarkan, kemudian wusss, terjun bebas.

Namun sayang, agaknya kini diri ini di titik dimana terjun bebas adalah sebuah sinyal akan adanya perpisahan. Masih jelas dalam ingatan, ketika mula-mula dipertemukan dalam satu mimpi yang sama, Berderet agenda yang dihimpun dengan satu kata cita. Lantas kita menata langkah, berjalan mula-mula, berderap penuh semangat, meliuk, tajam, menukik, segala macam jenis gaya. Kita pernah lelah, kita pernah jengah, kita pernah marah, kita pernah merelakan hati untuk melepas sebagian dari kita, kita pernah tertawa, kita pernah sama-sama berduka. Kita pernah mengalami hampir-segalanya.

Kemudian di titik paling tinggi, di Bulan April yang menggelisahkan ini, kita harus mengakrabkan diri dengan sinyal paling nyata, sinyal tentang sebuah kata yang tak kusuka.

Sudah akan Pemira, ternyata. Sudah hampir habis masa kita. Sudah harus memikirkan laporan pertanggung-jawaban selama setahun. Sudah harus ah, masih belum ingin diri ini mengatakannya. Masih amat ingin aku berjuang lagi dan lagi bersama kalian. Masih sangat amat ingin, sangat amat ingin.

Amat sering diri ini dihinggapi rasa, keinginan untuk memarahi waktu agar ia tidak berlari tergesa-gesa. Atau minimal, memintanya agar melambatkan langkahnya. Namun ia lagi-lagi mencurangi, mengambil satu per satu usia, lantas yang tersisa hanya segenggam pasrah. Duhai, andai boleh aku menghentikan waktu, aku ingin berhenti di titik ini. Titik yang membuatku kasmaran setengah mati.

Kita belum selesai, kawan, ini semua belum usai.

Di sisa waktu ini, mari kita nikmati, segala apa yang mungkin belum pernah kita kecap bersama. Segala apa yang mungkin belum kita berikan pada mahasiswa. Kerja-kerja kita, lelah-lelah kita, mimpi-mimpi kita.
Untuk mahasiswa, untuk kampus kita, untuk BEM kita, atau minimal, untuk PPSDM kita.

Amat bangga mengenal kalian, amat terhormat rasanya berjuang bersama kalian.

Vivat academia :’))

Untuk, para pejuang PPSDM:

Neyla Afida yang penuh ide-ide keren,

Danang Syaefrudin yang selalu tampak bahagia,

Wahyudin Sam yang kalem, dan disegani,

Edda Muttaqien yang ramah, dan sering bagi-bagi makanan,

Gustian yang selalu rajin datang rapat.

Amat bangga mengenal kalian, amat terhormat rasanya berjuang bersama kalian.

bem ppsdm

11 thoughts on “Belum Selesai, Belum Usai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s