Cerita · munakahat

Belajar dari Anna Karenina

Saya sungguh sangat amat terlambat membaca novel ini, sebuah karya klasik yang sudah lama sekali saya dengar, tapi tidak pernah benar-benar saya minati. Mungkin, karena saya terlanjur kecewa pada novel-novel sastra yang–umm, saya harus bilang–terlalu banyak adegan dewasa yang tidak perlu. Pun pada novel ini, saya khawatir ia sama saja dengan novel-novel vulgar itu, bahkan dari sampul bukunya saja (Penerbit Narasi, Yogyakarta) menampilkan sosok perempuan dengan gaun yang bagian atasnya terbuka. (btw, saya sampe googling dan mencari cover buku yang lebih sopan dan nemunya ini, buku saya sendiri malah pengen tak kasih stiker aja biar menutup auratūüėÄ )

Ah, ya. Tapi setidaknya saya harus bersyukur, Anna Karenina yang saya baca sama sekali tidak ada adegan dewasanya. Jadi aman buat dibaca siapapun asal bukan anak-anak. Walau mungkin, versi asli Bahasa Russia dan Bahasa Inggris beda lagi.

6a01156ee390d3970c017d3c2b53c3970c
Anna Karenina Karya Leo Tolstoy

Terus kenapa beli? Pertama, karena saya sejujurnya masih penasaran dengan buku-buku ini, kenapa banget usianya sampai berabad-abad. Sekeren apakah? Siapa tau saya bisa belajar, suatu saat nanti bisa juga menciptakan karya yang tak lekang oleh zaman. Aamiin. Kedua, dan yang paling penting haha, harganya cuma 30 ribuuu. Kalau toh novel ini ga bagus, setidaknya kan saya ga kecewa-kecewa amatūüėÄ

Di satu sisi sebenarnya saya sadar diri, sangat besar potensi saya tidak menyukai tulisan sejenis ini. Saya lebih suka novel semacam Ayat-Ayat Cinta atau sejenisnya. Tapi suami, disatu sisi, ia ingin mendorong istrinya. Membaca segala jenis genre bacaan, menambah perbendaharaan kata dan gaya bahasa, membuka sudut pandang-sudut pandang lain yang belum pernah saya jamah. Sebenarnya ia menawarkan saya buku-buku karya Jane Austen, Haruki Murakami, dan beberapa sastrawan besar lainnya. Tapi¬†kemudian ia membelikan saya buku ini–dan buku karya¬†Jose Samarago. Sebagai tanda ia mendorong saya membaca, dan kemudian menulis. Ah, romantis kan suami saya?‚̧

a08132
Anna Karenina (1873)

Ditulis oleh Lev Nikolayevich Tolstoy (1828-1910) dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1873, hingga kini novel ini berusia 143 tahun, ia dianggap oleh majalah Time sebagai “greates ¬†novel ever written” alias novel legendaris terbaik sepanjang masa. Tak ayal, wikipedia mengatakan kisahnya diangkat ke layar lebar hingga 14 kali, 6 kali di panggung teater, dan berkali-kali diputar di radio, televisi, ballet, opera, musical teater dan entah apa lagi.

Dan yap! Inilah yang sejak dahulu kala selalu mengakar dan mengurat nadi dalam diri saya. Lihatlah kekuatan tulisan, betapa ia sungggguuuuh amat sangat berpengaruh. Kisah begini saja lho ya–ya kalau untuk zaman sekarang mungkin terlihat biasa–sampai sebegitunya berpengaruh kepada dunia ini. Difilmkan saja sampai 14 kali. Padahal ceritanya hanya tentang seorang bangsawan yang berselingkuh. That’s it. Coba bayangkan kalau saja ada novel klasik Islami yang kental akan nilai-nilai syariat yang luhur dan lurus, yang indah nan malu-malu, yang juga mendapat predikat greatest novel ever written, legendaris terbaik sepanjang masa. Ah, barangkali ia akan bisa menjadi sebuah simbol kebanggan ummat, agar ummat ini tak lagi malu akan keimanan dan keislamannya yang nyaris selalu diidentikkan dengan terorisme dan kebrutalan.

Oke, kembali ke Anna.
Novel ini menceritakan tentang kehidupan para elite Russia dengan segala kompleksitasnya. Harga diri, martabat, omongan orang, kasta sosial, dan tentu saja uang. Tentang Anna, seorang istri dan ibu, yang menjalani rumah tangganya dengan kebekuan yang nyaris membunuhnya, dan kemudian tiba-tiba ia bertemu dengan sosok yang membuatnya hidup dan jatuh cinta. Lantas terjadilah segala macam konflik perselingkuhan dengan segala beban moralnya.

Iya, beban moralnya. Kisah ini, walau sama sekali jauh dari nilai-nilai Islam, tapi ia dengan sangat pandai mengatakan bahwa kisah cinta paling menggelora pun, kalau tidak dilandasi dengan ikatan yang halal, ia akan menjadi beban dan dosa yang menggelayuti diri sampai mati. Anna memang lebih memilih Vronsky–lelaki pemimpin pasukan berkuda yang mencuri hatinya–dan meninggalkan Karenin suaminya yang kaya raya namun dingin padanya. Mereka berdua kemudian pergi dan menempuh hidup baru, mempunyai anak bayi yang manis dan lucu. Tapi kenapa sih Anna ini nggak juga bahagia? Bukannya dia sudah dapat Vronsky, yang selain ganteng dan diinginkan banyak orang, juga kaya mapan dan memuja Anna?

Saya merasakan dengan jelas apa yang menggelayuti Anna. Sebuah cinta yang gelap, yang pekat, yang begitu posesif-adiktif, yang kemudian berubah menjadi cinta yang menggelisahkan, cinta yang membingungkan. Ditambah lagi sosok lelaki yang dicintainya ini kurang matang, kurang bijak dalam bersikap (yaiya lah ya, mana ada lelaki yang matang dan bijak yang mau nyerobot istri orang). Walau hingga akhirnya terbuki bahwa Vronsky sama sekali tak pernah menduakan Anna, tetap saja Anna ini tidak pernah benar-benar merasa aman dari cintanya. Ia selalu merasa merana dan menderita, oleh sebab yang tidak pernah jelas dipahaminya. Anna menikahi Karenin, tapi tak mendapat cinta. Ia mendapat cinta dari Vronsky, tapi status sosialnya tak memungkinkan mereka untuk menikah. Dan tiba-tiba dia bertemu Levin, lantas Anna jatuh cinta juga?

Oalah, nduk, nduk…
Saya merasa kasian dan iba padanya, sosok yang–oleh salah satu reviewer di blog sebelah–dianggap sebagai perempuan tidak tahu diri. Saya sepakat, walau jika seandainya saya bertemu dengannya di dunia nyata, saya mungkin tidak akan sekejam itu menghukuminya.

Leo Tolstoy sendiri bahkan berkata bahwa mulanya ia juga membeci perempuan ini, sosok Anna yang seakan tidak tahu diuntung. Sifatnya yang terlalu gegabah jatuh cinta dan terlalu mengandalkan emosinya. Ia nyaris tidak pernah berfikir dengan logika, segala yang ia perbuat hampir semuanya berdasar pada emosi yang ia anggap sebagai naluri. Dan bahkan, di akhir kisahnya, cinta yang begitu menggelisahkan ini membuat dirinya buram dan buta. Cintanya yang posesif-adiktif terhadap Vronsky membuat Anna¬†merasa ia harus menghukumnya. Dan yap, cara dia menghukum kekasihnya adalah cara yang sangat sangat amat lazim dilakukan oleh perempuan. Ini adalah cara yang sangat-perempuan-sekali.¬† Walau saya juga agak shock karena Anna melakukannya diluar batas dengan sangat ekstrem–bahkan kelewat ektrem.

Kisah rumit antara Anna, Karenin, Vronsky, dan tokoh-tokoh lainnya, semua ini membuat saya teringat pada materi-materi munakahat yang hingga kini terus-menerus saya murajaah kembali.

Kerapuhan pernikahan Anna dan Karenin misalnya, ia membuat saya teringat pada perkataan Umar ibn Khattab bahwa cinta bukanlah segala-galanya dalam pernikahan. Sekalipun tak cinta, ada juga pilar yang seharusnya kokoh dijaga: komitmen. Karena bahkan dalam agama Karenin, Kristen, tidak mengenal adanya perceraian. Inilah yang kemudian membuat saya paham, ahiya yah, mengapa harus sebegitunya mengagungkan cinta? Cinta memang penting, sangat penting, tapi bukankah komitmen juga sama pentingnya?

Lagipula, saya dan suami juga menikah tanpa didasari cinta. Satu-satunya cinta yang kami bawa saat itu adalah cinta pada Rabbul Alamin, yang karenanya lah kami menikah, dan kemudian mengikhtiarkan cinta. Cinta antara saya dan suami juga bukan cinta yang ujug-ujug datang dan bermekaran. Ia diciptakan, ditumbuhkan, diusahakan. Dengan segala macam cara. Pun yang sedang dilakukan suami saya ini, memberikan saya buku Anna Karenina, sebagai tanda bahwa ia mencintai saya. Iya kan? Hehe‚̧

Ohya, di kisah ini pun saya merasakan cinta Anna ini, selain posesif-adiktif, ia juga egois. Selalu saja dihinggapi pertanyaan, Vronsky ini cinta aku ga sih? Dia sayang aku ga sih? Kalau dia cinta harusnya dia begini begitu dong, harusnya dia bla-bla-bla. Yap. Cinta yang egois ini selalu menuntut: menuntut untuk dipahami, dimengerti, dipenuhi keinginannya, dan menuntut orang untuk membahagiakannya. Padahal, cinta yang sejati adalah cinta yang mendorong kita memberikan yang terbaik agar pasangan bahagia, bukan justru sebaliknya.

Di titik ini, saya merasakan apa yang Anna rasakan. Saya pernah mengalami cinta yang egois, menuntut suami untuk mengerti, memahami, dan melakukan apapun yang saya inginkan. Dan pada akhirnya memang tidak akan pernah ada selesainya, semakin saya menuntut semakin saya tidak merasa bahagia dan semakin kacau rumah tangga. Duh, terima kasih, Anna, terima kasih telah mengingatkan untuk tidak lagi melakukan apa yang pernah kita lakukan. Menuntut, adalah kesalahan besar dalam sebuah hubungan.

Tapi lebih dari apapun, Anna Karenina menjadi kisah yang juga membekas bagi saya karena ia mengajarkan bahwa cinta yang tidak halal itu memang tidak akan membawakan kebahagiaan. Setampan apapun Vronsky, sekaya apapun ia, dan sekeren apapun profesinya toh Anna tidak juga menemukan kebahagiaannya. Alih-alih bahagia, ia malah was-was dan gelisah.

Dan, oh ya, satu pelajaran penting saya dapatkan dari cara Leo Tolstoy menulis Anna Karenina. Barangkali inilah yang membuatnya menjadi greatest novel ever written. Tolstoy menggambarkan Anna dengan begitu kuat dan dalam, melekat dalam benak pembaca. Membuat setiap pembacanya merasa tidak suka pada Anna, tapi juga sekaligus kasihan dan iba padanya. Pada zaman ini, itu hal biasa. Tapi pada tahun 1873, tentu saja novel yang kuat, dalam dan berkarakter akan menjadi yang terbaik di zamannya. Ia pun mengangkat tema yang tidak akan ada habisnya. Tema percintaan dan pernikahan, ia mencakup segmentasi yang luas. Dari mulai anak SMA sampai kakek nenek, semua masih bisa menikmati kisah dengan tema ini kan?

Well, ini lah yang saya pelajari dari Anna Karenina. Apa yang harus kami lakukan agar tak satu pun diantara saya dan suami yang kelak bernasib seperti Anna ini. Maka mari, kokohkan cinta dan komitmen dengan pasangan. Karena kita tidak menikah kemudian otomatis bahagia, melainkan kita menikah kemudian menciptakan sendiri kebahagiaan kita.

11988388_986223821445194_5672075474487802156_n
DISCLAIMER: Saya tidak membaca Anna Karenina versi asli, melainkan versi retold (yang sudah disederhanakan dan tidak otentik. Versi asli jaraaaang banget ada di Indonesia, mungkin karena pembacanya sedikit dan kurang menguntungkan, jadi yang dibaca ya versi sudah diubah gaya penceritaannya jadi lebih sederhana, namun isi cerita masih tetap sama. Lebih jelasnya mengenai buku klasik bisa dibaca di sini)

One thought on “Belajar dari Anna Karenina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s