Rindu

Epilog Kerinduan

Mungkin memang ini tampak seperti tempat peristirahatan yang nyaman, tempat dimana sekelebat memori akan menyibukkan derai matamu, atau justru meneguhkan mimpimu. Mungkin juga ini tempat untuk membasuh kalbu, dari penatnya engkau di kota juangmu. Atau boleh jadi, seperti yang kau bilang, ini adalah epilog kerinduan, sebatas etalase atas bukti-bukti juang yang sudah kau lakukan.

Tak ada yang salah, memang. Hanya penafsiran kita saja, yang lagi-lagi teramat bebeda.

Jika bagimu rumah hanyalah tentang bagaimana merehatkan jiwa atas semua lelah. Maka bagiku, rumah adalah tentang bagaimana kita menyusun kembali keelokan semesta, lewat jemari kita.

Bayangkan jika apa yang kita temui di jagat raya ini kita genggam erat-erat, tuk kita bagikan pada mereka yang ada di rumah. Betapa gembiranya mereka, betapa sumringahnya. Di tanah ini kita akan menyemaikan mimpi-mimpi, meruntuhkan tirani keterpinggiran, dan menanamkan benih-benih perubahan. Lantas kita akan menyaksikan dengan mata kepala kita, jutaan mimpi tumbuh. Menyemarakkan rumah yang semula sepi ini.  Menggelorakan rumah yang semula layu ini.

Semesta di luar sana, yang kita amat takjub kemilaunya, yang kita amat terpukau pada pesonanya, ia berpindah ke rumah kita. Lewat jemari kita, kita lah orang-orang yang mau membangunnya. Di rumah kita. Rumah kita sendiri.

 

Merindukan adanya gerakan mentoring di sekolah-sekolah, merindukan adanya rumah tahfidz di kota ini, merindukan adanya social movement yang bergerak lagi menggerakkan, merindukan adanya pemilu bersih, merindukan adanya sosial-politik yang sehat, merindukan adanya kesejahteraan masyarakat, merindukan suatu masa dimana ia bukan lagi kota yang ditinggalkan generasi mudanya, namun kota yang dibangun dengan sepenuh cinta oleh para generasi muda.

Dan besar harapku, generasi muda itu, adalah kita. Kita.

 

Jika bagimu rumah hanyalah tentang bagaimana merehatkan jiwa atas semua lelah. Maka bagiku, rumah adalah tentang bagaimana kita menyusun kembali keelokan semesta, lewat jemari kita.

Jika bagimu rumah hanyalah epilog kerinduan. Maka bagiku, rumah adalah prolog peradaban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s