Keluarga · Kontemplasi

Pasrah

img_20150820_185921
Falah dan Ayahnya, Agustus 2015.


Bayi mungil yang sedang menguap ini sebentar lagi akan jadi Mas.

Laki-laki yang sumringah disebelahnya ini sebentar lagi akan naik level dari Bapak-Bapak menjadi Bapak-Bapak-Bapak. Haha.

Dan, ada seorang balita cantik yang tak ikut foto disini, usianya 2,5 tahun lebih sedikit,  yang sebentar lagi akan mempunyai dua adik.

Juga, ada seorang perempuan berusia 24 tahun, yang menghabiskan 3,5 tahun masa awal pernikahannya dengan hamil terus-menerus. Melahirkan. Hamil lagi. Melahirkan lagi. Hamil lagi. Dan kini ia sedang bersiap melahirkan untuk yang ketiga kalinya. Jangan tanya bagaimana rasanya. Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya.


Kalau ada satu kata yang bisa mewakili semuanya, barangkali kata itu adalah pasrah.

Pasrah, terserah Allah saja lah, apapun yang Ia takdirkan tak pernah salah. Apapun yang Ia tentukan terjadi dalam hidup kita, tak pernah meleset kebenarannya. Apapun yang Allah berikan itu baik, pasti baik. Maka dari itu lah, kami memilih untuk pasrah.

Pasrah. Bukan berarti diam dan berserah, tak berusaha. Dalam hal-hal yang kami sebagai manusia biasa sanggup lakukan, ya kami lakukan sebaik mungkin. Ikhtiar segala macam cara. Dari mulai hanya makan yang baik-baik, berbuat yang baik-baik, mulai menambah amalan ibadah walau jujur kadang kami pun masih berat melakukannya. Juga berkonsultasi dengan dokter sana dan sini, pemeriksaan itu dan ini. Apapun yang bisa kami lakukan, ya kami lakukan. Yang tak bisa kami lakukan, maka kami berlepas diri. Berpasrah diri. Terserah Allah saja.

Karena kami tak lagi berani untuk sekadar bermimpi indah. Tapi, kami pun tak sanggup jika harus lagi-lagi diuji dengan kehilangan yang sama.

Maka kami berusaha berdamai dengan segala pikiran. Segala pikiran yang baik-baik tetap tumbuh subur di kepala kami, tapi pikiran yang buruk-buruk juga enggan pergi dari otak kami. Maka kami berusaha mengakurkan keduanya, duhai kamu pikiran baik dan pikiran buruk, tak apalah kamu sama-sama berada di kepala ku. Aku lelah jika kalian bertengkar terus. Sudahlah, aku terima kalian apa adanya. Sini mari duduk bersama, tak apa. Aku pasrah.

Pasrah. Bukan berarti diam dan berserah, tak berdoa. Karena kami ini hanyalah hamba, apa sih yang bisa kami lakukan ini? Sekeras apapun usaha, tetap saja Ia yang menjalankan bidak-bidak-Nya. Maka kami merayu dengan doa. Doa-doa yang memelas, yang menghiba, kadang pun doa-doa yang memaksa, mendesak-Nya, bahkan barangkali sering doa-doa kami yang lebih mirip orang memberi perintah. Apapun yang bisa kami minta, dalam sujud-sujud panjang yang kadang khusyuk kadang tidak, dalam amal ibadah yang tambal sulam, dalam keikhlasan yang timbul tenggelam dan patut dipertanyakan. Kami berdoa, sebagai hamba yang lemah dan banyak salah, yang memohon-mohon pertolongan-Nya. Karena bukankah Ia sendiri yang berkata,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kemenangan.”

(QS. Al-Baqarah 186)

Dan bukankah Rasul-Nya sendiri yang berkata,

“Sesungguhnya Rabb kalian tabaraka wata’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.”

(HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dha’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Maka doa menjadi semacam penyembuh kegalauan kami. Cara ampuh untuk mengakurkan pikiran baik dan pikiran buruk yang siap adu jotos kapan saja di kepala kami. Doa menjadi penghibur, penyelamat, penenang, walau entah ia kelak dikabulkan kini atau nanti. Terserah Allah saja.

Yang kami tahu, cukuplah kami berusaha dan berdoa sebaik mungkin, berhusnudzon pada-Nya. Karena Ia senantiasa mengikuti prasangka hamba-Nya.

Yang kami tahu, Allah takkan pernah mengabaikan pinta dan doa mereka yang memohon pada-Nya.

Yang kami tahu, Allah takkan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.

signature

Advertisements

9 thoughts on “Pasrah

  1. Aaaahhh mbak Fira… peluk sayang dari saya.
    Cuma bisa mendoakan ..semoga Allah berikan mbak Fira dan suami kemudahan , semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan , serta semoga Allah karuniai mbak Fira bahagia dunia dan akhirat. Sehat selalu ya mbak Fira . terimakasih , lagi2 tulisannya mengingatkan & menguatkan saya malam ini T_T

    1. Peluk erat juga buat Mba Ichaaa…
      Terima kasih banyak doanya, Mba, semoga doa-doanya pun untuk Mb Icha dan suami yaa. Dikaruniai kebahagiaan dunia akhirat, juga anak-anak yang shalih dan lucu kelak. Tetap semangat ya mbaa, keep fighting! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s