Keluarga · Pregnancy

Kehamilan Ketiga: Antara Takut dan Bahagia

pregnancy-test
Kehamilan Ketiga

Sejak menikah, Allah karuniakan kemudahan bagi saya untuk hamil. Kehamilan pertama saya sama sekali tidak perlu menunggu banyak waktu. Saya haid beberapa hari sebelum akad nikah, dan menikah dalam kondisi masa subur. Walhasil, saya mendapati dua garis merah tepat ketika usia pernikahan kami baru menginjak 1 bulan.

Baca : Istri dan Calon Ibu, Welcome Hidup Baru!

Pun setelah anak pertama kami lahir dan pergi hanya dalam waktu 34 jam, Allah lagi-lagi karuniakan kemudahan bagi saya untuk hamil lagi. Hanya berselang 3 bulan, saya kembali mendapati dua garis merah yang kehadirannya membahagiakan, tapi juga sejujurnya membuat saya dirudung ketakutan.

Baca : Calon Hafidz, Insya Allah

Maka dari itulah, karena kecepatan hamil yang cukup mengejutkan, anak pertama dan kedua kami sama-sama lahir di Bulan Syawal, di satu sisi memang karena saya sama sekali tidak sempat menyusui anak pertama, jadi tubuh saya tidak ter-setting untuk KB alami. Berbeda dengan anak kedua, saya menyusuinya hingga 47 hari tepat di saat ia meninggal, dan masih memerah ASIP beberapa pekan setelahnya hanya agar tidak sakit dan bengkak. Jadi tubuh saya ter-setting untuk KB alami, ditambah lagi rahim yang perlu istirahat setelah marathon panjang dua tahun berturut-turut hamil dan melahirkan. Dokter kandungan kami menyarankan untuk istirahat dulu enam bulan, baru program hamil lagi. Jadilah, kami butuh waku yang lumayan lama menanti kehamilan ketiga ini.

Baca : Ubi dan Doa Suami
Baca juga : ย Menjadi Seorang Ibu

Setelah anak kedua kami pergi, banyak sekali saudara dan sahabat yang mendoakan semoga kami cepat mendapat ganti (tentunya, sebagian juga menyarankan kami untuk periksa dulu sebelum hamil lagi).

Baca : Ternyata, Hamil Tidaklah Sederhana

Segera setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan dinyatakan sehat, aman dan diperbolehkan hamil lagi, Bapak Ibu dan suami saya bersemangat sekali mendoakan dan berikhtiar agar saya segera hamil lagi. Segala macam cara, mulai dari minum vitamin, menanggali masa subur, hingga meminta didoakan kepada saudara yang Haji dan Umroh ke Tanah Suci, kami lakukan.

Namun sejujurnya, ada semacam kegalauan yang melanda. Rasa-rasanya semua keluarga pengennya saya segera hamil (maklum, saya anak pertama dari Bapak Ibu saya) namun apakah memang saya pengen cepet-cepet hamil lagi? Sayangnya, tidak.

Saya merindukan suara tangis bayi, mengingini dengan sangat kehadiran buah hati, tapi sayangnya saya tidak ingin hamil lagi. Bingung kan? Dimana-mana yang namanya pengen punya anak ya pasti hamil dulu. Tapi saya–maunya sih–enggak pakai hamil, saya tidak terlalu menginginkan anak lagi, saya maunya Hafsha dan Falah hidup lagi, ada bersama kami. Tapi yah bagaimana, tentu saja itu mustahil. Tapi saya tak kurang akal, saya sering menawarkan pada suami supaya mengizinkan saya menjadi ibu susuan bayi-bayi yang ibunya meninggal. Malah kalau bisa bayinya diasuh kami saja, toh kalau sudah saya susui secara syariat bayi itu akan menjadi anak kami juga, urusan mahram dan aurot kelak jadi tidak masalah karena kami juga orangtuanya. Untuk masalah ASI juga ga masalah, Allah karuniakan pada saya ASI yang melimpah-ruah, bahkan setelah Falah pergi ASI saya masih sering merembes-rembes ke baju, diperah pun masih banyak hingga berbotol-botol.

Tentu saja gagasan ini ditolak mentah-mentah oleh Bapak Ibu saya. Jangan dulu, kalian itu masih sangat bisa punya anak sendiri, ngapain ambil anak orang. Begitulah. Disatu sisi juga saya tak kunjung menemukan bayi yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan kami, jadilah gagasan ini meredup dengan sendirinya.

Kenapa sih gamau hamil aja? Entahlah, dalam benak saya, hamil itu susah. Sakit. Capek. Berat. Menguras emosi dan tenaga. Saya memang tipikal Ibu hamil yang mual muntah-nya luar biasa di trimester pertama, dalam sehari saya bisa muntah 7-10 kali, bahkan sering kali saya tidak bisa makan apa-apa karena semuanya selalu dimuntahkan lagi. Setiap hamil muda juga selalu BB saya berkurang 3-5kg, tak sanggup melakukan apapun dan selalu berakhir bedrest berhari-hari di atas kasur. Iya, saya memang tipikal ibu hamil yang mabuk berat, dan bagi saya itu tidak mudah.

Saya juga seringkali bermasalah dengan pencernaan dan resiko wasir yang menghadang di depan mata (ibu hamil memang rentan wasir, tapi karena sejak masih gadis saya ini punya masalah pencernaan, resiko ini jadi semakin berkali-lipat ketika saya hamil) dan menginjak trimester tiga, beban berat kehamilan dan bayang-bayang sakitnya proses melahirkan membuat saya jadi terbebani. Di kehamilan kedua saya bahkan hampir setiap hari saya mimpi melahirkan, dan anak yang saya lahirkan di dalam mimpi itu tidak sehat dan kemudian meninggal. Duhai sungguh kehamilan kedua saya itu sangat melelahkan jiwa dan raga, saya harus bertarung dengan segala macam jenis trauma dan ketakutan yang hinggap di kepala saya.

Saya tahu, semua rasa sakit dan lelah itu adalah kewajaran dan semua ibu hamil di seluruh dunia juga pasti mengalami. Tapi apa yang membuat mereka tetap tersenyum bahagia walau setiap hari kaki kram, perut kaku kencang, punggung pegal, tidak pernah bisa tidur nyenyak, bergerak pun susah, dan pinggang serasa mau patah? Yang membuat semua itu hilang seketika adalah harapan dan bayangan akan ada bayi mungil yang hadir dan mencerahkan hari-hari masa depan. Harapan itulah, yang mampu mengirimkan kekuatan untuk bertahan dan menikmati semua rasa sakit dan lelah.

Lantas apa jadinya ketika saya harus melewati semua perjuangan itu, tapi tidak tersisa harapan-harapan indah, justru yang ada adalah ketakutan dan rasa trauma? Saya lelah, sungguh, saya lelah. Saya menangis hampir setiap hari, saya bermimpi buruk pun juga hampir setiap malam. Saya melewati hari-hari sebagai ibu hamil dengan segala pertarungan batin itu, saya bahagia, tapi saya juga trauma.

Karena itu lah, karena semua itulah, saya merasa tidak siap untuk hamil lagi, walau saya sangat mengingini kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kami. Ya Allah, bisa ga sih punya anak tapi ga pake hamil dulu? Langsung ujug-ujug ada bayinya gitu…

Saya paham, semua perasaan ini tak lain karena iman saya yang rombeng dan rasa tawakkal ilallah yang kurang. Astaghfirullah, ampuni hamba ya Rabb…๐Ÿ˜ฅ

Tapi sungguh memang Allah sebenar-benar Rabb, Ia beri saya waktu untuk menata hati, menyiapkan diri, melawan segala rasa dan pikiran yang seringkali hinggap di kepala, lantas Ia berikan kami hadiah ketika kami sudah benar-benar siap menjaganya, merawatnya, dan semoga kelak bisa mengasuhnya hingga dewasa dan menua bersama.

photogrid_1469573515109
Alhamdulillah, positif hamil 4-5 minggu

Delapan bulan persis setelah kepergian Falah, setelah rahim saya cukup beristirahat dan mengumpulkan kembali kekuatannya, setelah saya berdamai dan bersepakat dengan diri sendiri, Allah titipkan lagi amanah pada kami. Sebuah hadiah ditengah-tengah doa, ikhtiar, dan kepasrahan diri. Tentu saja masih tersisa banyak sekali rasa takut dan trauma, tentu saja lagi-lagi saya harus berjuang melawan mual-muntah yang luar biasa, tentu saja saya harus kembali menyicipi segala sakit dan lelah yang selama ini saya hindari itu. Namun kami tetaplah manusia yang ingin sekali menjadi sebaik-baik hamba, ada syukur yang jauh lebih memenuhi dada ketimbang segala ketakutan itu. Ada bahagia yang jauh lebih membuncah ketimbang segala rasa sakit dan lelah itu.

Saya harus bahagia, iya, saya harus bahagia! Segala apa yang pernah terjadi, saya berusaha melupakannya, atau minimal mengabaikannya. Walau dalam banyak hal, tentu saja saya secara tidak sadar menyimpan ketakutan-ketakutan itu. Setiap hari saya selalu bertanya ke suami,

Sehat kan ya dia, Mas? Masa sih nanti harus gitu lagi. Allah baik kan sama kita? Allah ga mungkin kan ya jahat sama kita?

Setiap hari pula saya selalu mensugesti diri sendiri sendiri.

Kali ini sehat, insya Allah sehat. Kali ini selamat. Allah baik kok, bismillah…

Setiap kali berkunjung ke dokter pun, saya selalu membawa-bawa setumpuk dokumen pemeriksaan dan riwayat kehamilan sebelumnya. Selalu banyak bertanya dan menyampaikan semua kekhawatiran saya.

photogrid_1472303326308
USG ketika masih 8-9 minggu

Alhamdulillah sampai detik ini, dedek bayi sudah berusia 23 weeks atau jalan 6 bulan, dan sejauh ini berdasarkan pemeriksaan dokter, alhamdulillah sehat, normal, tidak kurang suatu apapun, segala macam perkembangannya pun sesuai dengan usianya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ah, tentu saja diam-diam saya tetap menyimpan rasa khawatir itu. Walau saya berusaha menyalurkan semua kekhawatiran itu dengan baik. Meminta kepada dokter untuk melakukan semua jenis pemeriksaan, misalnya (walau sebenarnya kata dokter ada beberapa pemeriksaan yang tidak perlu, tapi saya tetep ngotot minta diperiksa, hehe). Yasudahlah, toh supaya saya bisa bernafas lega. Setidaknya saya sudah berupaya dengan semaksimal mungkin, dari sisi ikhtiar manusiawai. Walau sejujurnya semua itu membuat tabungan kami berkurang banyak sih. Tak apa lah, rezeki Allah tak pernah kurang dilimpahkan pada kami, insya Allah.๐Ÿ™‚

 

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kemurahan dan kemudahan yang Ia berikan pada kami. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum Adiknya Hafsha dan Falah lahir, masih ada beberapa rangkaian pemeriksaan medis yang harus kami lakukan, dan kelak setelah lahir pun, masih ada banyaak sekali pemeriksaan yang harus kami lalui bersama. Mohon doanya ya, semoga Allah karuniakan kami kekuatan dan rezeki yang cukup, sehingga kami bisa menyambut amanah ini dengan sebaik-baiknya… :’)

Insya Allah, nanti saya akan menuliskan pengalaman melewati serangkaian pemeriksaan, dari mulai TORCH, skrining fetomaternal, USG 4D, dan amniosentensis (duh, makanan apa nih? hehe). Dengan harapan semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat untuk para ibu hamil diluar sana yang kurang lebih mengalami hal yang sama dengan saya. Insya Allah. Tapi jangan lupa doakan saya dulu yaaa, hihihihi.๐Ÿ˜€

Bismillah, mari kita berjuang bareng yuk, dedek bayi!

signature

 

10 thoughts on “Kehamilan Ketiga: Antara Takut dan Bahagia

    1. Hehe iya, sudah jalan 6 bulan, tadinya malah berencana ga usah cerita aja biar langsung taunya pas udah lahir, tapi lama-lama gatel juga sih ga nulis haha. Makasih ya doanya๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s