Perjuangan

Welcome Home, Ibu…

Indrawati
Welcome home, Ibu :’)

Sedari kemarin, media sosial saya penuh sekali dengan ucapan ini. Media sosial yang kebanyakan memang isinya teman-teman kuliah, yang kini telah menjadi bagian dari orang-orang yang berjuang menyelamatkan keuangan negara.

Welcome home, Ibu…

Ada semacam perasaan yang membuncah ketika mendapati bahwa ternyata kabar ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Ibu pulang! Ah ya, seperti itu rasanya. Seperti serombongan anak yang sudah lama sekali merindukan ibunya, ibu yang tak pernah bisa digantikan oleh siapapun.

Ada segunung kekaguman yang sudah melanda sejak SMA. Mengikuti sepak terjangnya yang terangkum media, kemudian mendapatinya dijegal sedemikian rupa ketika polemik Century melanda. Saya kala itu hanya seonggok anak SMA yang sedang pontang-panting mendaftar kuliah dimana-mana. Meminjam TV ibu kos demi menyaksikan persidangan-persidangan yang mempertontonkan komedi terbesar di negara ini: DPR vs Sri Mulyani.

Hasilnya tentu saja membuat saya mengelus dada.

“Bodoh banget orang-orang ini. Habibie diusir ke luar negeri. Sekarang Sri Mulyani. Setiap ada orang nggenah selalu ditendang pergi.”

Barangkali nyaris sebagian penduduk Indonesia bersedih (walau tentu saja bangga juga) lantaran Ibu SMI memutuskan hijrah ke World Bank. Sebuah institusi prestisius yang tengah membuka lebar-lebar kedua tangannya.

Ibu pergi, dan saya datang.

Bergabung dengan keluarga besar Kementerian Keuangan, walau saat itu status saya masih sebagai Mahasiswa STAN. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk kemudian mengetahui bahwa setiap orang disini jatuh cinta padanya.

Gedung ini, Gedung I dan J, dibangun atas perintah Bu Sri Mulyani. Juga air mancur ini. Dulu mah kampus ini jelek banget, kambing dan soang seliweran. Sekarang udah bagus kaan. Ini karna Bu Sri Mulyani.” (Kakak tingkat entah siapa)

Ibu Sri Mulyani itu sayang banget anak STAN. Ibu itu sayang banget sama kita. Kata beliau, kita adalah harapannya.” (Alumni STAN)

MK09
Ketika peresmian gedung J (sumber)
MK07
Gedung J STAN
Sri-Mulyani11
Di Air Mancur (sumber)

Bukan hanya sekadar kakak kelas yang menunjukkan betapa Bu Sri Mulyani merombak besar-besaran kampus kami, tapi juga dosen-dosen yang selalu mengenang kehebatan dan kebesaran jasa-jasa beliau.

“Apa yang Ibu lakukan itu sangat luar biasa bagi kita. Dulu pajak, bea cukai, semua lini Kementerian Keuangan ini tidak seperti ini! Sekarang reformasi birokrasi telah begitu kuat mempengaruhi. Kita bahkan menjadi istitusi pemerintah yang paling bersih. Orang-orang dulu bangga ketika mendapat uang yang bukan haknya. Sekarang justru orang-orang bangga ketika jujur. Mindset kita berubah, kinerja kita berubah. Kementerian Keuangan terlahir kembali!”

Ada satu hal yang tak bisa dibohongi dari setiap pujian para dosen itu. Sorot mata. Dan kalimat-kalimat tulus yang mengalir dari lisannya.

Kampus STAN memang 90% lebih dosennya adalah pegawai Kementerian Keuangan. Mereka paham betul kondisi di lapangan. Bukan sekadar hafal teori dan pasal-pasal aturan, tapi mereka terjun langsung dalam penerapan. Bahkan sebagian dosen kami adalah pejabat di beberapa eselon Kementerian Keuangan. Sebagian kecilnya adalah pegawai KPK, dan Kementerian Perekonomian.

Ketika saya sudah lulus dan ikut merasakan arus pekerjaan di Kementerian Keuangan. Lagi-lagi nama beliau yang begitu harum dielu-elukan. Padahal ketika saya ngantor, Menteri Keuangan sudah ganti empat kali! Tapi kenapa hanya Ibu Sri Mulyani yang sosoknya begitu melekat erat? Entahlah, itu adalah misteri terbesar yang ingin saya rasakan. Seperti apa Ibu itu? Seperti apa rasanya bekerja dengan beliau? Se-powerful dan se-jenius apa sih Ibu ini, sampai-sampai setiap orang disini jatuh cinta padanya. Tak ada loh, tak ada satupun kalimat negatif tentang beliau yang pernah saya dengar.

Dan sekarang Ibu pulang. Sayangnya, saya sudah pergi dari Kementerian Keuangan.

Aaah, Ibuu…

Tapi saya tetap akan merasakan kekuatannya, barangkali lewat suami, karena suami saya kan masih pegawai aktif yaa walau sedang tugas belajar. Apalagi suami saya di Sekretariat Jenderal, satu gedung sama Menteri Keuangan. Semoga bisa ngintipin Ibu di Lapangan Banteng suatu hari nanti😀

Ah setidaknya kini, ada satu hal yang saya tangkap dan rasakan. Ibu pulang, dan segenap rasa optimis membanjiri setiap dari kami yang berkecimpung di Kementerian Keuangan. Teman-teman saya, kakak-kakak kelas, dosen-dosen, senior di kantor, bahkan anak-anak magang, juga para mahasiswa baru yang kini sibuk daftar ulang, semuanya tiba-tiba saja bahagia dan optimis luar biasa.

Ibu pulang, ada harapan baru yang menyala terang.

Ibu, semoga kepulangan Ibu membuat Kementerian Keuangan jauh lebih kokoh dan perkasa. Semoga Indonesia jadi lebih kuat dan berjaya…

Welcome home, Ibu. Selamat berjuang, kami akan siap membantu!

 

7 thoughts on “Welcome Home, Ibu…

  1. Kesediaan memenuhi “panggilan negara” , setelah “diusir” merupakan sesuatu yang patut diteladani. Bukan materi yang dia cari, tetapi makna di balik kata “pengabdian” itu sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s