Cerita · Muslimah

Buka Bersama dan Hati yang Terluka

ditching-the-reunion-rookerville-UKbfUH-quote

Haha, judulnya lebay. Tapi tak apalah, memang itu yang sedang ingin saya bahas sebenarnya.

Dua tahun belakangan saya selalu menolak ajakan reuni teman lama dalam bentuk buka bersama. Entahlah, saya kok akhir-akhir ini—sejak lulus kuliah sih tepatnya—merasa rikuh untuk berbaur dengan teman lama. Kecuali teman-teman dekat yaa, yang se-geng kesana kemari dan hanya kisaran 4-5 orang, baru deh saya ikut kalau diajak reunian.

Pertama, alasan menolak karena biasanya buka bersama ini diadakan di 10 hari terakhir, yang mana sungguh sangat amat disayangkan. 10 hari terakhir Ramadhan itu klimaksnya ibadah, saat-saat segala ibadah dan doa diobral habis-habisan oleh-Nya. Sedangkan, sudah rahasia umum ya kalau buka bersama—apalagi di restoran atau tempat umum—itu rawan telat sholat maghrib dan bablas sholat isya dan tarawih.

Kedua, alasan menolak karena temen-temen yang ikut buber ga akrab-akrab banget. Hehe. To be honest, saya ketika masih SMA jaaaauh lebih supel dan lebih berbaur dengan teman-teman ketimbang jaman kuliah. Ga pandang bulu mau cewek cowok anak rohis anak olimpiade anak OSIS anak paskib anak nge-band, saya bisa berbaur dengan mereka. Ketika kuliah memang saya jadi jaim, lebih memilih teman, dan kebanyakan memang gaulnya ya sama lingkaran itu-itu doang. Nah, tapi walau sebanarnya saya akrab sama teman SMA, entah kenapa rasanya enggak satu frekuensi lagi.

Apa pasal?

Karena entah sejak kapan, obrolan yang terjadi ketika kumpul teman lama adalah:

PEKERJAAN.

Duh, harus banget ngomongin kerjaan?

Ini bukan tendesi pribadi yang penuh dengan subjektivitas ya—walau mungkin sedikit banyak sih iya hha. Bukan karena saya sudah berhenti kerja kemudian saya jadi anti ngomongin kerjaan. No. Bukan itu. Saya sudah menangkap sinyal-sinyal percakapan tidak nyaman ini bahkan ketika saya masih aktif ngantor pun. Lagipula kalau diingat-ingat, saya sebenarnya malah lulus duluan dan kerja duluan lho, tapi topik pekerjaan ini sama sekali tidak menarik bagi saya.

Tapi, marilah kita renungkan sejenak. Saya dan teman-teman ini usianya masih 23-an tahun. Sebagian besar memang sudah bekerja. Tapi masih ada sebagian yang masih harus berjuang menyelesaikan kuliahnya. Kebayang ga sih, ketika diri kita ini udahlah stress karena ga lulus-lulus, entah skripsi yang ga beres-beres, atau memang ada kendala finansial, atau apalah, ikut buber kumpul temen biar happy, eeeeh yang ada malah ngomongin “si ini kerja diini, si itu kerja disitu, eh kamu udah beli mobil yaa, eh traktir dong kan kamu udah jadi ini itu di kantor” halooo tidakkah kita bisa berempati kepada mereka yang belum bekerja. Atau kepada mereka yang sudah bekerja tapi belum seberuntung kita😥

Kenapa ga diganti aja percakapannya? Cerita-cerita jaman SMA misalnya!

“Eh Pak Hasan gimana kabar yaa? Masih karismatik gitu ga sih? Hahaha.”

“Bu Hesti masih suka nyanyi-nyanyi ga sih kalau di kelas?”

“Eh kepala sekolah ganti ya?”

“Sekolah kita kok jadi ga punya lapangan sih, gaya banget anak jaman sekarang ga mau naik angkot pada bawa motor semua.”

“Mbak Eni yang di kantin itu masih jualan ga sih?”

Dan yaaaa cerita-cerita semacam itu. Betapa kita dulu remidi berkali-kali ujian Matematika Integral. Betapa dulu kita ga ngerti sama sekali ketika Pak Harto menjelaskan Fisika dengan segenap jiwa dan raganya, kita malah cuma ngah-ngoh ga ngerti apa-apa. Betapa dulu kita pernah nervous setengah mati gara-gara disuruh pidato Bahasa Inggris di depan kelas oleh Pak Jack. Betapa kita sungguh beteeee bukan main gegera disuruh nyanyi lagu Bahasa Mandarin di depan kelas sama Lalause.

Reuni yang dibungkus dengan tema buka bersama entah mengapa tetiba hilang makna, berganti menjadi ajang pamer “aku udah ini, aku udah itu” kepada sesama teman SMA…

Itulah mengapa saya agak males ikut reuni-reunian, apalagi lebaran ini yah banyak banget reunian, buber lah, halal bi halal lah, ya bagus sih sebenarnya, cuma kalau pulang buber malah menyakiti hati teman secara tidak langsung, bukannya itu malah nambah dosa kita..

Yaah walaupun sebenarnya ga semua teman saya kayak gini juga, yang hore-hore dan nostalgia juga banyak. Cuma karena ada beberapa oknum yang hobi banget ngomongin kerjaan, dan itu jadi berimbas ke yang lainnya.

Dan tidak semua obrolan mengenai pekerjaan juga selamanya salah, karena barangkali lewat obrolan semacam itu, kita jadi bisa memberitahu info lowongan pekerjaan kepada teman, berbagi pengalaman, atau malah kalau teman kita sendiri yang ingin merekrut dan membuka lapangan kerja baru, justru bagus. Tapi, kita pasti sadar lah ya, mana yang memang niat membantu, dan mana yang cuma sekadar pamer dan sesumbar. Makanya, saya kalau ikut buber skala kecil aja. Temen yang bener-bener akrab banget, yang kita ngerti wataknya dan kita udah bisa menebak kemungkinan besar obrolan kita seputar apa. Saya jadi lebih ayem, ga was-was, lebih nyaman juga.

 

Tulisan ini bukan bermaksud mengajak segenap pembaca untuk kemudian ga ikut reuni ya, tapi barangkali mungkin kita sudah harus kembali memperbaiki diri, menjaga lisan kita dari yang tidak perlu dan sia-sia, apalagi jika sampai menyakiti hati yang lainnya. Reuni itu perlu, sebagai ajang silaturahim, mengekalkan ukhuwah, tapi semoga kita bisa lebih pandai menyikapinya.

Selamat menjalani 10 hari terakhir Ramadhan! Semoga Allah mengampuni salah dan khilaf kita semua :’)

2 thoughts on “Buka Bersama dan Hati yang Terluka

  1. Haha kita punya pandangan yang sama… dengan sedikit sudut pandang berbeda. Tapi eeh tapi tahun 2011 gw bukber temen2 SMA, masih single. Tahun depannya nikah 😄😄 ketemu jodohnya di bukber. Halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s