Islam · Perjuangan

Mengagumi Keislaman Hadji Murat

haji murad-tolstoy

 

 

“Tapi sungguh hebat tenaganya dan kekuatan hidupnya. Betapa kerasnya ia bertahan, dan betapa mahalnya ia menghargai hidupnya.”
—(halaman 5)

Setelah mengagumi Anna Karenina, saya kemudian memutuskan untuk mulai giat mencari dan membaca buku-buku sastra klasik. Ternyata, sastra abad pertengahan itu lebih berbobot dan bermakna ketimbang sastra modern yang entah mengapa selalu memasukkan urusan selangkangan baik sedikit maupun banyak.

Baca : Belajar dari Anna Karenina

Saya tak sengaja menemukan dua buku sastra klasik Hadji Murat karya Leo Tolstoy dan Oliver Twist karya Charles Dickens dalam jajaran bazaar buku di Pasuruan beberapa waktu silam. Sebenarnya dua buku ini sudah lama tamat dibaca, dan sudah saya tulis juga resensinya dan bahkan saya kirim untuk lomba. Tapi entahlah lombanya ga jelas, sampai sekarang belum juga muncul pengumumannya -___-”

Karena saya sangat jatuh cinta dengan buku ini, maka tak apalah saya tulis saja disini resensinya. Semoga bisa membuat yang lain juga terpesona dengan kecantikan buku-buku sastra klasik🙂

Barangkali nama Leo Tolstoy sudah kadung menggema di muka bumi berkat karya-karyanya yang tak lekang dimakan zaman. Walau telah berusia ratusan tahun, karya-karyanya masih tetap saja menjadi rujukan dan panutan sastrawan-sastrawan besar dunia, karya yang tetap tegak terpancang walau kisah-kisah lain bermunculan dan tenggelam. Dan karyanya yang satu ini membuat saya takjub sekaligus penasaran, sekaliber Tolstoy menjadikan tokoh Muslim sebagai karakter utama novelnya; Hadji Murat. Sesaat saya mengira Tolstoy takkan menulis kisah yang jauh dari karya legendaris sebelumnya; Anna Karenina.

Tapi sungguh betapa terkejutnya, kisah ini jauh berbeda! Novel Hadji Murat bertutur tentang kegundahan seorang pejuang, kegamangan para bangsawan, dan egoisme penguasa. Betapapun kisah tentang intrik politik memang tidak pernah mudah, dan novel ini punya caranya sendiri dalam menuturkan pada setiap pembaca.

 

Berlatar tahun 1851 di Pegunungan Kaukasus, Cechnya, cerita dimulai ketika Hadji Murat tengah menyusun rencana bersama pengikutnya untuk melarikan diri dari Shamil, seorang Imam yang memimpin kaum Muslimin di daerahnya, untuk kemudian pergi menyeberang ke pihak Rusia—musuh yang selama ini selalu berkerut ketakutan ketika mendengar nama Hadji Murat.

Mengapa?

Karena Shamil ingin membunuhnya.

Untuk apa?

Kemudian kita dibawa melompat-lompat ke masa sebelum pelarian diri ini dimulai. Hadji Murat adalah seorang Gubernur yang amat dicintai oleh rakyatnya sekaligus amat ditakuti oleh musuhnya: Tsar Rusia. Ia terkenal akan kepiawaiannya dalam peperangan, kecerdikanannya menyusun strategi, dan kegesitannya dalam pertarungan. Sejenak, saya jadi teringat sosok Pangeran Diponegoro. Keduanya barangkali memang memiliki kemiripan, sama-sama berasal dari kalangan yang taat agama, dan sama-sama pejuang tangguh yang getol melawan penjajah di negerinya.

Berbeda dengan Pangeran Diponegoro yang merupakan panglima teratas, Hadji Murat berada dalam kepemimpinan seorang Imam bernama Shamil. Sosok yang begitu diuntungkan dengan kekuatan Hadji Murat, namun diam-diam menyimpan kegelisahan. Hingga pada suatu hari Shamil kemudian berbalik dan kehidupan Hadji Murat pun berubah.

 

“…aku ditanyai siapa yang pantas menjadi Imam setelah Shamil. Aku katakan bahwa Imam haruslah orang yang memiliki pedang yang tajam. Shamil diberi tahu hal ini dan dia ingin menyingkirkan aku.”   —(halaman 118)

Meskipun bergelar Imam, Shamil tak ubahnya seekor singa yang taring dan cakarnya adalah Hadji Murat. Kerajaannya goyah tanpa keberadaan Hadji Murat, sosoknya begitu penting, bahkan selama ini yang membuat Rusia takut kepada Kerajaan Shamil adalah sosok Hadji Murat yang lihai bak siluman pegunungan. Namun sisi egoisme Shamil merayunya lebih kuat. Betapapun sungguh sosok itu layak menggantikannya, Shamil bergeming, ia tak ingin posisinya terusik. Hingga palu pun diketuk dan keputusan pun diambil: Hadji Murat haruslah mati.

Maka dari sinilah kegundahan yang menyelimuti Hadji Murat bermula, ia dan sekelompok pengikutnya yang setia kemudian mencari cara untuk keluar dari cengkraman Shamil, dan menyeberang ke pihak Rusia. Walau telah bertahun-tahun Hadji Murat memerangi Rusia habis-habisan, ia menekan egonya dalam-dalam dan mencoba menjadikan Rusia sebagai kawan. Karena betapapun ia tak suka, Rusia adalah musuh utama Shamil, dan bergabung dengan Rusia tentu akan memudahkan Hadji Murat untuk berbalik menyerang Shamil. Musuh dari musuhmu adalah kawanmu, begitulah yang ia pahami. Gayung pun bersambut, Hadji Murat kemudian mendapatkan perlindungan dari Tsar Rusia.

Namun kegundahan itu sama sekali tidak melenggang dari pikirannya lantaran ibu, istri dan anaknya tengah berada dalam tekanan Shamil. Dijadikannya mereka sebagai umpan agar Hadji Murat mau kembali ke Shamil untuk kemudian dilenyapkan dari muka bumi.

Sedang di sisi lain, para Panglima Rusia juga antara percaya-tak-percaya dengan kabar Hadji Murat menyerahkan diri dan berniat bergabung dengan pasukan Rusia. Sosoknya terlalu kuat dan tangguh untuk kemudian menyerahkan diri begitu saja, terlalu tidak masuk akal bagi pasukan dan kekaisaran. Namun tak bisa disangkal juga andaikata Hadji Murat sungguh-sungguh menyerah, ia pasti membawa dampak yang besar bagi kekuatan pasukan. Kemahirannya dalam peperangan selama ini selalu menjadi ancaman mematikan bagi Rusia, dan kini ancaman itu berbalik menjadi tawaran pertemanan yang begitu menggoda.

Seorang Pangeran dari kalangan bangsawan, Vorontsov, adalah sosok yang kemudian menjadi orang pertama yang menerima Hadji Murat dengan tangan terbuka, walau dalam hatinya ia pun gamang dan bimbang. Begitu panjang dan rumit pergolakan batinnya untuk percaya sepenuhnya atau tidak, mengingat bisa saja Hadji Murat saat ini sedang berpura-pura dan justru menjadi mata-mata, mencari celah dan rahasia Rusia, untuk kemudian kembali kepada Shamil dan mereka berdua membantai habis pasukannya.

***

Novel ini bukan hanya menceritakan tentang peperangan yang tak bisa ditebak, sekarang kawan besok lawan, atau sebaliknya. Namun juga menunjukkan dengan apik pergesekan antara dua budaya, dua agama, bahkan dua sisi kepribadian yang begitu kontras.

Satu hal yang amat mengesankan dari cara Tolstoy menggambarkan Hadji Murat adalah betapa ia sungguh sangat mengenal bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap. Tolstoy tak hanya sekadar menyampaikan bahwa Hadji Murat adalah sosok yang tekun ibadah dan menjaga sholatnya, tapi lebih dari itu, ia menggambarkan dengan gamblang keagungan akhlak seorang Muslim. Bahkan Tolstoy begitu indah menunjukkan apa yang Hadji Murat lakukan ketika ia berhadapan dengan perempuan-perempuan Rusia setengah telanjang di hadapannya.

“Semua orang memiliki adatnya sendiri-sendiri. Perempuan-perempuan kami tidak berpakaian seperti itu,” —(halaman 184)

Sebuah akhlak yang agung, bukan? Tolstoy tidak menggambarkan bahwa Hadji Murat kemudian berceramah tentang aurot dan panasnya api neraka lantaran mengumbar tubuhnya kemana-mana. Tapi ia menjawab dengan santun, tidak mencemooh, dan tetap menjaga pandangannya!

Sungguh, bahkan Tolstoy pun tahu bahwa muslim itu menjaga mata dari perempuan-perempuan Rusia, dari dada yang sebagian terbuka, dari rambut pirang dan kulit putihnya. Ia dengan sangat apik menunjukkan bahwa Hadji Murat menjalankan laku mulia sebagaimana yang Rasulullah ajarkan.

Dan tak hanya itu, lihatlah betapa sungguh Tolstoy terpukau dan terkesima dengan jiwa tangguh seorang pejuang muslim yang iman dan islam mengakar dalam dadanya, Tolstoy bahkan dengan gamblanya memuji Hadji Murat,

“Tapi sungguh hebat tenaganya dan kekuatan hidupnya. Betapa kerasnya ia bertahan, dan betapa mahalnya ia menghargai hidupnya.”
—(halaman 5)

Belum selesai saya ternganga-nganga akan kedalaman pemahaman Tolstoy pada akhlak muslim di zamannya. Saya pun kembali terkejut pada pilihan-pilihan Hadji Murat dalam menentukan nasibnya. Betapa bahwa pilihan itu kemudian membawanya pada sebuah resiko yang tak hanya menelan habis harapannya, tapi juga harapan keluarga dan pengikutnya yang setia. Ah disinilah saya kemudian jatuh cinta, bahwa sekalipun tak ada kata “jihad” yang tertulis dalam kisahnya, saya menemukan arti jihad dalam keputusan Hadji Murat di akhir hidunya. Bahwa ia akan berjuang, tidak sebagai muslim yang dicurangi juga bukan sebagai penjilat Tsar Rusia. Hadji Murat akan berjuang dengan caranya sendiri, dengan kekuatan dan kejernihan iman yang terpatri begitu nyata dalam pikiran dan tingkah lakunya.

Novel setebal 242 halaman ini begitu mampu membuat saya tercenung dan menekuri banyak hal. Sebagaimana laiknya karya sastra abad pertengahan, kisahnya rumit dan panjang, sarat akan makna dan pesan. Tolstoy menggambarkan Hadji Murat bukan hanya sosok nyata yang pernah ada dan berjuang dengan susah payah, tapi juga sebagai kritik terhadap peperangan yang berkecamuk di zamannya. Pada pilihan-pilihan hidup manusia yang serakah, juga hubungan personal antar manusia yang secara mengejutkan menciptakan banyak kesan berwarna.

Satu-satunya hal yang menjadi kritik adalah banyaknya tokoh yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi, berganti-ganti, tanpa dikisahkan kemudian seperti apa mereka pada akhirnya. Hanya sebagian kecil saja yang dielaborasi dengan kuat dan dalam sejak awal cerita hingga akhir.

Membaca novel Hadji Murat bagi saya bukan hanya sekadar membaca cerita biasa. Ini adalah novel sejarah yang nyata, bertahan hingga ratusan tahun untuk menyampaikan pada kita betapa kehidupan sungguh tak pernah mudah, dan berjuang sekuat tenaga adalah satu-satunya cara melewatinya. Karena, perjuangan yang gigih selamanya takkan mengkhianati, ia akan terus dikenang menuju keabadian.

“Kalian, burung-burung yang mengembara, terbanglah ke rumah kami dan katakan kepada saudari-saudari kami, ibu-ibu dan gadis-gadis berkulit putih kami, bahwa kami semua mati dalam Perang Suci.” —(halaman 209)

16 thoughts on “Mengagumi Keislaman Hadji Murat

  1. sama! saya juga suka banget sama novel ini. Karya-karya klasik dunia memang biasanya penuh nilai kehidupan yang deep insight. Udah pernah baca najib mahfouzh dan orhan pamuk mbak? mereka berdua juga baguuusss sekali.

      1. najib mahfouz yang saya rekomendasikan yang harafisy, kalau orhan pamuk yang my name is red, istanbul. Selamat berburuuu🙂

      2. Mba Sekar TOP banget lah bacaannyaaa, bisa kenal banyak buku begini. Aku makasih banyaak yaa ini dikasih tau infonya. Segera meluncur hunting Najib Mahfoudz dan Orhan Pamuk *yes*

  2. suka…suka…suka… ^^

    Bicara soal sastra klasik juga ada kok yang nyinggung soal ‘selangkangan’ (sastra wangi) misal novel karya nawaal el sadawiy, contohnya bukan dari barat…hehe. Kalau Nawaal kebanyakan novelnya memang sastra wangi karena beliau melihat realita yang ada pada saat itu.

    Kalau mau melebarkan bacaan lagi, coba baca karya-karya Orhan Pamuk (Turki), Ghadah as-Sammaan (Timur Tengah, kalau karya2 beliau kayaknya masih susah cari yang berbahasa Indonesia, kalau Inggris udah banyak. Najib Mahfoudz (dalam bahasa Inggris atau Indonesia juga udah banyak). Dan masih banyak lagi…hohoho

    Duh, komenku panjang banget, maapkan yaaak…😀

    1. Nambahi deh, soal Nawaal yang karya-karyanya bernuansa sastra wangi karena beliau ingin mencari keadilan melalui tulisan-tulisannya, semacam bentuk protes karena penindasan terhadap anak dan perempuan.

      1. Kyaaaaa Mba Cindiiiii, dikau pasti sudah expert dalam beginian yaa, secara kan jebolan sastra arab hihi. Aku mau dong mbaaa ini gimana dapatnya beli dimana ya? Aku ga familiar bahkan sama sekali enggak kenal sih sama penulis2 Turki dan jazirah Arab, duh pembaca macam apa aku ini -,- Soalnya emang jarang muncul di gramed kan yaa? Itu betewe cantik banget sih disebutnya Sastra Wangi, tapi apa ya mereka vulgar juga mba? Kalau yang vulgar-vulgar aku skip aja lah hhe…

      2. Karya Orhan Pamuk udah diterjemahkan yang kebanyakan diterbitkan penerbit Serambi (di Gramed ada). Kalau karya Nawaal biasanya diterbitkan sama Yayasan Obor Indonesia. Kalau Ghadah aku baca versi arabnya, inggrisnya ada mungkin dalam bentuk ebook atau beli di amazon yang mahal di ongkirnya…hehehe

        Kalau karya-karya timteng yang berbau sastra wangi beda sih sama Indonesia. Sana menggambarkannya bertele-tele melalui kiasan atau kalimat-kalimat yang menurutku cantik, sedangkan di Indonesia cenderung to the point..

        Aku juga berusaha seimbang, baca sastra dari mana aja. Cuma kalau baca yg berbahasa Arab emang harus siap dengan effort yang lebih besar…😀

      3. whuiiiiih, baca langsung versi Arab duuh, aku mah entah kapan lah bisa baca langsung begitu, hhihi.
        Siap mb ciind, abis lebaran kalau ada rezeki aku mau hunting ah buku-buku itu :3

      4. aamiin…
        InsyaAllah ada🙂
        Semoga ada kesempatan ngobrol2 juga, bedah sastra (agak berat kalau pakai istilah ini)…hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s