Muslimah

Ramadhan Kali Ini

 

ramadan-kareem-celebration-greeting-card-holy-month-muslim-community-colorful-hanging-arabic-lamp-moon-stars-53172930

Sejak menikah, setiap bulan Ramadhan, kami selalu dipusingkan dengan hal-hal:
Kapan cuti? Kapan pulang? Kapan HPL? Dan kapan kapan lainnya.

Pasalnya, Hafsha dan Falah sama-sama lahir di bulan Syawal. Jadi Ramadhan kami pasti dilalui bertiga–walau yang seorang masih sembunyi–dengan kerempongan izin cuti lebaran dan cuti melahirkan..

Ramadhan kali ini. Tak ada lagi kata “cuti” yang kami pikirkan. Suami kuliah, yang ada mah bukan cuti tapi bolos, hihi. Dan saya, sekarang sudah ga pake surat-surat cuti segala deh.

Dua tahun yang lalu adalah Ramadhan pertama kami sebagai suami istri, yang qadarallah saat itu saya sedang hamil besar. Usia kandungan Hafsha sudah delapan bulan. Dengan hasil konsultasi dokter dan ijtihad pribadi, saya memutuskan untuk puasa aja, toh kayaknya biasa aja deh hehe. Jadilah waktu itu saya puasa full di 20 hari pertama. Hafsha ini sepertinya sabar, diajak puasa dia mau dan kooperatif. Dieeem aja diperut, setelah buka puasa baru deh dia lonjak-lonjak dalam perut. Mungkin dia juga baru punya tenaga untuk nendang-nendang saya setelah buka dulu. Eeeh tapi ujug-ujug di hari ke 21 saya masuk UGD lantaran diare. Setelahnya, tak lagi puasa. Haha. Persis haru kedua lebaran Hafsha lahir, saya nifas, dan sebulan kemudian sudah muncul dua garis merah. Belum sempat bayar utang puasa, sudah muncul adiknya Hafsha.

Baca : Bahagianya Melahirkan, Bahagianya Melahirkan 2.

Tahun berikutnya, Ramadhan tahun lalu, lagi-lagi saya hamil besar. Usia kandungan Falah juga hampir sama persis dengan kakaknya, baru menginjak delapan bulan. Nah karena sudah berpengalaman sebelumnya, walau diperbolehkan puasa full sama dokter, saya tetap ga pede dan memutuskan puasa diselang-seling. Sehari puasa, sehari enggak. Naah, beda dengan Kakaknya, Falah ini diajakin puasa bukannya lemes dia malah lebih heboh jumpalitan dalam perut. Semakin saya lemas dan lapar, semakin dia gedor-gedor dari dalam. Hahaha. Mungkin dia lagi demonstrasi di dalam, menuntut hak makan. Saya yang sedang ngantor, ditambah harus ikut diklat prajab yang penuh dengan upacara dan apel-epel itu. Walau ga ikut guling-guling, tapi ya lumayan ikut kepanasan. Jadilah saya puasa cuma 10 hari. Wkwkwk.😀

Baca : Welcome to The World, Nak!

Hafsha dan Falah, semuanya datang dan pergi sangat cepat, tak hanya menyisakan kerinduan, tapi juga utang puasa 32 hari akumulatif 2 tahun yang menunggu untuk dibayar. 32 hari, lho! Haha, seumur-umur belum pernah saya punya utang puasa sebanyak itu :’D

Barangkali utang puasa 32 hari itu terasa gampang ya kalau dicicil pelan-pelan, pasti bisa. Nah masalahnya, bagi saya pribadi, sungguh dibanding jenis ibadah yang lain, puasa adalah ibadah yang sangat berat. Mungkin karena saya terlahir dengan bakat laper mata dan doyan makan, makanya saya sussaaah banget untuk puasa sunnah. Jadi utang 32 hari itu sesuatu banget, extra effort luar biasa utk membayarnya -,-

Walau diam-diam dalam hati saya merindukan momen Ramadhan dengan perut buncit maksimal, tetap saja selalu ada yang disyukuri dari Ramadhan kali ini.

Ini adalah Ramadhan pertama kami yang hanya berdua saja sebagai suami istri, bukan sebagai calon ayah dan calon ibu. Kami bisa lebih fair dalam kompetisi ibadah, lebih optimal memaksimalkan upaya, dan tentu saja, ini momen bagi kami untuk merefleksikan visi misi pernikahan kami dalam tataran praktis.

Selain itu, setidaknya ada hal baik yang teramat besar bagi saya. Ramadhan kali ini tak perlu utang-utangan lagi kecuali waktu-waktu yg memang haram bagi saya berpuasa. Jadi saya ga perlu dibayang-bayangi utang puasa lagi, alhamdulillah. Hihihi.

Duhai kakanda, tak apa ya sayang, mungkin memang belum waktunya aku hamil sekarang. Semoga Allah kabulkan doa-doa kita, dan Ramadhan depan udah bertiga, berempat, berlima, berenam, atau berdelapan mungkin. Hah kok bisa?? Yaaaa sapatau ntar langsung hamil kembar tujuh wkwkwkwk. 

NOTE:
Ada perbedaan pendapat ulama berkaitan dengan ibu hamil yang meninggalkan puasa ramadhan. Ada ulama yang menganjurkan hanya membayar fidyah saja, ada beberapa ulama lain yang mengharuskan untuk membayar fidyah dan menqodho puasa di hari lain. Saya, dalam rangka kehati-hatian (dan disuruh suami sih hhe) memilih pendapat yang kedua.

8 thoughts on “Ramadhan Kali Ini

  1. semangat fira, aq sempet denger kisahnya jg dr kawanmu yg d padang sini… semoga kesabarannya fira dan suami berbuah keberkahan, aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s