Islam · Kontemplasi

Hujan yang Tak Romantis

lightning-1158027_1920

Alih-alih romantis, belakangan hujan yang turun membuat saya ketakutan. Apalagi jika hujan turun di malam hari, dengan curahan yang derasnya tak tanggung-tanggung, juga kilat yang sambar-menyambar. Dan yang paling membuat saya takut adalah petir yang menggelegar. Duhai, rasanya seperti dibentak oleh semesta. Suaranya tak hanya memekakkan telinga tapi juga hati.

Ketakutan ini akan semakin menjadi-jadi manakala suami sedang tidak di rumah, dan saya harus menghadapi hujan petir kilat ini seorang diri. Kalau sudah begini, saya pasti akan meringkuk dibawah selimut dan mendekap guling. Pertahanan paling akhir yang saya pakai untuk menyelamatkan diri adalah dengan berdzikir kencang-kencang.

“Subhanalladzii yusabbihu ro’du bihamdihi walmalaaikatu min khiifatih,”

“Mahasuci Allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya.”

(Al-Muwatta II/992, Al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no 723, Shahiih al-Adabul Mufrod no. 556)

 

Entah apa yang sebenarnya saya takutkan. Hujan petir juga membuat saya tidak mau berdekatan dengan hape, laptop, dan colokan listrik. Dahulu ketika masih kecil, kami tidak diperbolehkan untuk dekat-dekat dengan alat elektronik apapun. TV dimatikan, colokannya dicabut. Hape dijauhkan. Pokoknya semua yang ada listriknya, pantang didekati.

“Nanti disambar petir!”

Begitu kata Ibu saya. Entah mengapa doktrin itu masih juga melekat hingga saya sebesar ini, walau kadang juga masih meragukan keabsahannya. Memang iya yah kalau petir bisa menyambar alat elektronik?

Ketakutan ini memang tidak terlalu menganggu—karena frekuensi hujan besar dengan petir menggelegar juga jarang-jarang—tapi tetap saja membuat gundah manakala ia datang. Dan apesnya, sering kali hujan besar ketika suami sedang tidak di rumah. Karena itu, saya merasa harus mencari tahu tentang hakikat hujan. Bukankah hujan itu rezeki? Bukankah hujan itu adalah salah satu saat diijabahnya doa? Bukankah hujan pula yang selama ini membuat suasana jadi romantis dan pikiran jadi puitis? Iya, benar semuanya. Tapi kalau hujannya besar, deras, dengan kilat dan petir, semua berubah.

Lantas entah bagaimana, dalam proses pencarian hakikat hujan ini, saya tidak sengaja menemukan sebuah hadist dengan bunyi:

“Ar-Ro’du (petir) adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.”

(HR Tirmidzi No. 3117. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih)

 

Allaah, bukannya ketakutan saya sembuh, ketakutan ini malah semakin bertambah-tambah. Walau kini yang saya takutkan bukan lagi hal yang sama.

Bahwa ternyata suara petir yang menggelegar itu adalah suara malaikat! Dan tiba-tiba saja pikiran saya tertuju pada akhirat kelak.

Betapa mengerikannya sungguh, betapa memekakkannya suara yang kelak akan dijumpai ketika saya (naudzubillah) harus mengicipi panasnya neraka. Suara malaikat yang sedang mengatur hujan saja sudah sedemikian menggelegar, membuat saya serasa dihantam di ulu hati, lantas bagaimana nanti di neraka? Suara yang kelak akan memarahi dan membentak kita, tentu saja suara petir ini takkan ada apa-apanya. Sekalinya Malik malaikat penjaga neraka marah, seketika jantung ini lolos dari tempatnya. Sekadar suara, Allaah, sekadar suara! Sekadar suara saja yang harusnya tak menyakiti, ia sudah menggentarkan diri. Apalagi panasnya, apalagi siksanya, apalagi besi, cambuk dan entah apa saja macam siksa di neraka. Allaah, Allaaah, ampuni kami. Sungguh membayangkan saja sudah mengerikan, membayangkan saja sudah sedemikian ketakutan, apalagi jika harus memasukinya kelak?

Ya Raabb, lindungilah kami, lindungilah kami, jauhkan kami dari siksa api neraka. Jangankan siksanya dan apinya, suara penjaganya saja sudah pasti membuat kami terkencing-kencing saking takutnya…

“Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu membuat kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman,” (QS. Al-Furqon : 65-66)

7 thoughts on “Hujan yang Tak Romantis

    1. Aku tau aku taauuuu. hihihi. Aku habis kepo nih di mutiaraitqon tapi ga ngeh ini sapa deh kayaknya ga kenal, wkwk. Pas nyoba cari di tapakakikuas baru deeeh aku tau. Jeng jeng jeeeng. Mb Diana kaaan?😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s