Kontemplasi

Masa Lalu, Masa Depan, dan Keputusan-Keputusan

Suatu hari pernah saya memuntahkan semua yang saya rasakan dengan tersedu-sedu pada suami, betapa saya sungguh tidak bisa berkompromi pada banyak hal. Tentang kekecewaan saya–yang kemudian semakin menegaskan kekakuan saya, dan keputusan-keputusan kami yang rasa-rasanya tidak pernah bisa dimengerti oleh orang lain.

“Karena mereka belum mengalami kehilangan, dan barangkali dari situ, mereka belum merasakan betapa waktu dan kebersamaan itu tidak bisa digantikan dengan apapun.”

Saya mengangguk setuju.

Lama sesudahnya, saya kemudian menghadapi sebuah momen bersama seseorang yang setiap kali kami bertemu, selalu itu dan itu lagi yang beliau bahas, beliau sampaikan dengan sungguh-sungguh kepada saya. Betapa pentingnya perempuan menghasilkan uang sendiri, bahkan beliau melarang saya resign sebelum saya punya penghasilan lain yang melebihi gaji saya saat itu. Hal itu tentu saja langsung mental di pikiran saya, prioritas saya bukan tentang uang, uang dan uang. Bagi saya, rezeki itu adalah karunia Allah, sudah ada ukurannya. Memang kita harus mengikhtiarkan diri, tapi lagi-lagi menurut saya, tidak perlu sampai harus meninggalkan kewajiban utama dan pertama sebagai seorang Istri dan Ibu, apalagi kalau sampai jauh-jauhan dengan suami. Kalau bekerja itu harus konsekuen karena sudah terikat kontrak, bagi saya menikah pun juga harus konsekuen, bahkan tanda tangan kontraknya pun langsung dengan Allah. Hingga berbusa-busa saya menyampaikan itu ke suami, kemudian lagi-lagi suami menjawab dengan konteks yang sama.

“Karena kita belum merasakan apa yang beliau rasakan. Kehilangan suami itu tidak mudah, secara psikologis dan secara finansial pasti tidak mudah, beliau juga harus membesarkan anak-anaknya sendirian.”

Dan begitulah, saya kemudian menyadari bahwa masa lalu kita, segala apa yang pernah kita alami, akan sangat mempengaruhi hidup kita, mendoktrin keputusan-keputasan kita, dan mengubah masa depan kita. Barangkali memang sudah fithrahnya manusia, untuk belajar dari pengalaman, untuk tidak lagi dan lagi jatuh pada lubang yang sama.

Tapi kemudian kembali muncul pertanyaan, apa kita menyerahkan segala sesuatunya pada masa lalu, pada apa yang pernah kita alami, kemudian menjadikannya referensi dalam menentukan keputusan-keputusan, menghadapi masa depan?

Saya terpekur, selama ini saya selalu menjadikan pengalaman masa lalu sebagai alasan. Sebagai tameng untuk setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Mencoba mencari pembenaran. Hingga kemudian saya menyadari, semua itu ibarat bangunan yang tak kokoh, sepintas memang masuk akal dan manusiawi, tapi seharusnya bukan itu yang menjadi pedoman di pikiran dan di hati.

 

Saya tiba-tiba teringat pada isu yang beberapa waktu lalu sangat ramai dibicarakan, yang entah mengapa tiba-tiba sekarang menguap begitu saja.

LGBT. Iyap, penyimpangan seksual yang konon kabarnya, banyak sekali menjangkiti mereka yang memiliki pengalaman masa lalu yang kelam. Keluarga yang broken home, atau pengalaman dengan lawan jenis yang tidak menyenangkan, diduga menjadi salah satu faktor terbesar kemunculan LGBT ini.

Bisa jadi memang ketika kita masih kecil atau bahkan balita, tak tahu apa-apa, kemudian menyaksikan (naudzubillah) Ayah Ibu kita bertengkar, berpisah, bermusuhan satu sama lain, ditelantarkan dan disakiti, dikecewakan. Hal-hal itu pasti akan mengendap begitu jauh dan dalam di pikiran kita, membentuk alam bawah sadar kita, dan begitu banyak mempengaruhi kita dalam menjalani hari-hari selanjutnya. Kita kemudian menganggap bahwa semua laki-laki sama brengseknya, berkomitmen untuk tidak akan pernah menikah selamanya, dan perlahan-lahan menjadi pembenaran bahwa apa yang kita jadikan keputusan adalah sesuatu yang normal, manusiawi. Bahwa kita belajar dari masa lalu, dari pengalaman-pengalaman kelam, agar tidak mengalami hal yang sama, kita kemudian memilih menjadi lesbian. Begitu kah?

Saya tiba-tiba saja teringat pada Ibu saya. Ibu yang sangat saya cintai dan kagumi. Ibu saya adalah seorang survivor dari keluarga broken home. Bukan hanya broken home, tapi memang sudah morat-marit ga karuan. Ibu saya dan ketiga adiknya mengalami masa sulit yang bukan main, diasuh sendirian oleh nenek saya yang penjahit kampung, ditinggal begitu saja tanpa nafkah lahir-batin oleh bapaknya, hingga kemudian saking sulitnya menghidupi semua anak-anaknya, Ibu saya sebagai anak sulung diasuh oleh almarhum Mbah buyut saya.

Ibu saya selalu sedih ketika bercerita betapa ia dulu dianggap tidak pantas menjadi istri orang, hanya karena anak seorang janda. Pernah suatu hari Ibu sudah akan dilamar seseorang, namun kemudian orangtua si lelaki tidak setuju karena keluarga Ibu saya yang broken home. Kesakit-hatian itu membekas begitu dalam. Hingga detik ini, nyaris empat puluh tahun kemudian, walau sekarang kakek saya sudah berhubungan baik dengan anak-anaknya, luka yang menganga di batin ibu dan dua bulik saya tidak pernah benar-benar sembuh.

Tapi apakah kemudian ibu dan bulik-bulik saya menganggap semua laki-laki sama saja? Ah, betapa bangganya saya bilang bahwa ibu dan kedua bulik saya saat ini sangat bahagia dengan suami mereka, keluarga yang sakinah mawaddah rahmah, penuh kasih sayang, dan satu sama lain saling mengingatkan dalam ketaqwaan dan kesabaran. Pengalaman broken home ternyata membuat Ibu dan Bulik saya menjaga mati-matian pernikahan mereka, bekerja keras untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.

Pengalaman yang sama, sama-sama broken home, namun hasilnya jauh berbeda. Yang satu memilih menjadi lesbian, sedang yang satu memilih untuk menikah dan membangun rumah tangga yang bahagia.

Disinilah kemudian saya menyimpulkan satu hal, bahwa segala apa yang kita alami di masa lalu kita, memang benar ia akan sangat mempengaruhi dan mendoktrin isi kepala kita. Tapi tak cukup hanya masa lalu saja yang kita izinkan untuk “menyetir” hidup kita. Bukankah sesungguh pedoman adalah Islam? Islam dan syariatnya lah yang harus menjadi doktrin utama di pikiran kita, mempengaruhi keputusan-keputusan kita, dan mengubah masa depan kita menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan-Nya.

Broken home dan LGBT adalah contoh yang ekstrem, memang. Walau pada kenyataannya kita lebih sering dihadapkan pada kondisi-kondisi yang lebih samar perbedaannya, lebih tipis perbandingannya. Namun tentu saja, selalu ada jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh ikhtiar untuk tetap hidup dalam bingkai keislaman, selalu ada cara bagi hamba untuk mendekat pada Rabbnya, bahkan ditengah hiruk pikuk dunia yang mengaburkan pandangan dan pikiran.

Oh Allah, semoga Engkau turunkan hidayah-Mu di hati kami, sehingga kami tidak tertipu oleh diri kami sendiri…😥

save me from myself

Ditulis setelah diskusi pagi bersama seorang saudari. 
Pondok Aren, 11 April 2016.

signature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s