Keluarga · Perjuangan

Ujian Kita dan Rasa Syukur Atasnya

Semalam saya tidak sengaja menemukan hashtag #CourageousCaitie di Instagram, menekuri fotonya satu-satu, menghimpun sisa-sisa ketegaran, dan kemudian menunjukkannya ke suami. Dan malam ini, saya tidak sengaja (lagi) menemukan video Caitie di YouTube.

Nih, Mas, temennya Hafsha sama Falah.

Saya tidak bisa berbohong saya tidak sedih, melihat ketegaran Caitie, perjuangan orangtuanya, dan pengalaman kami yang tidak jauh berbeda. Tapi sungguh, dalam hati, sejujurnya saya bersyukur.

Karena kami tidak diberi ujian yang sama persis dengan mereka.

Memandangi gadis cilik ini, dengan ketegarannya yang mengagumkan, saya jadi bersyukur pada apa yang kami alami. Allah tidak karuniakan kami ujian yang sama persis, dan saya sungguh terselamatkan karenanya.

Tiga tahun usianya, bayangkan!

Sudah bisa berlarian, sudah bisa mengoceh ini itu, sudah bisa berbakti pada orangtuanya dengan cara-cara sederhana. Sudah bisa banyak hal. Dan alangkah beratnya, sungguh, saya membayangkan alangkah beratnya ketika diuji seperti itu. Tiga tahun usianya, ada jutaan kenangan yang berkelebat di kepala ayah ibunya, dan setiap hari kenangan itu terus-menerus meniupkan kesedihan dan ratapan. Tiga tahun usianya, bayangkan!

Dan saya bersyukur, jaaauuh lebih bersyukur, karena kami tidak diberi ujian yang sama persis dengan mereka. Kenangan kami dengan anak-anak kami jauh tidak ada apa-apanya, dan seharusnya lebih mudah bagi kami untuk melawan kenangan itu dari kesedihan.

Saya bersyukur, Allah, saya bersyukur, Engkau tak karuniakan ujian yang sama dengan mereka.

Andaikan ujian kami sama, saya tidak bisa membayangkan kesedihan macam apa yang terus-menerus harus saya perangi. Tapi ah, Allah memang tahu, bahwa setiap ujiannya tidak akan melebihi kemampuan hamba-Nya…

 

keepyourheart

 

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.”
(HR. Tirmidzi dan dihasankan Al-Albani)

Dikatakan kepada anak yang mati ini, ‘Masuklah ke dalam surga’. Kemudian si anak mengatakan, ‘Tidak, sampai orang tuaku masuk surga’. Kemudian disampaikan kepadannya, ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian’.”
(HR. Nasa’i dan dishahihkan Al-Albani)

Tidak harus tiga, dua anak yang meninggal sebelum baligh juga bisa menjadi pelindung bagi orang tuanya pada hari kiamat. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika ada seorang muslim yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh maka anak itu akan menjadi tameng untuk ortunya dari neraka.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Bagaimana jika dua orang?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Meskipun yang mati cuma dua anak.”

 

Duhai Fira, duhai Fira, sungguh Demi Allah, mau ditampar seperti apa lagi supaya kamu bersyukur???  :'(😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s