Islam · Keluarga

Ilmu Kita dan Manfaat untuk Keluarga

muslim-mother-daughter
Ibu dan Muslimah Kecilnya

Pagi ini saya mendaftarkan diri mengikuti kelas tahsin di lembaga tahsin dan tahfidz Halaqah Cinta Quran, lokasinya persis di sebelah Masjid Baitul Maal kampus STAN, Jurangmangu Timur, Tangerang Selatan. Saya sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal tahsin, selama ini ilmu tajwid yang saya miliki adalah bekal dari ngaji di TPQ zaman masih SD dulu, dan beberapa kali pertemuan tahsin privat bersama sahabat saya di kampus (judulnya sih memang tahsin, tapi kenyataannya kami lebih banyak ngobrol dan curhat, hehe).

Setelah menikah, hari-hari pertama kami dihabiskan dengan tahsin bareng.

“Qo!”

“Ko!”

“Bukan ko, tapi qo, ayo ulangi,”

“Qho!”

“Qo!”

“Ko? Koh? Qho? Qoh?”

Begitulah, kami nyaris setiap pagi menghabiskan waktu dengan a, ‘a, da, dha, tha, dan huruf-huruf lain yang bebal sekali di bibir saya. Mulanya saya malu ke suami, ini akhwat udah segede gini huruf aja masih ga bener. Lama-lama malu saya ke suami hilang, tapi berganti malu kepada temennya suami. Kami masih tinggal di kosan suami saat itu, bersama dua orang ikhwan yang kamarnya bersebelahan. Kadangkala, ketika adegan “Qo!” “Ko!” itu berlangsung, saya jadi malu kalau kedengeran temennya di kamar sebelah. Ih Yunis ngajar tahsin tapi istrinya sendiri ga bisa tahsin. Buru-buru saya hapus suudzon itu, saya yakin temennye suami ga akan mbatin seperti itu. Yang ada kemudian saya bersyukur, Allah datangkan guru tahsin langsung di kamar saya, gratis, ganteng pula. Kalau salah hukumannya cubit mesra, kalau bener bonusnya cium sayang, haha, kan asik *no baper buat jomblo yak * 😀

Hingga pagi tadi, saya izin mau ikut placement tes di HCQ, dan minta disimak bacaan saya. Suami saya kurang setuju sebenarnya. Ngapain tahsin diluar? Kan bisa belajar sendiri sama suami. Ah ya, bacaan saya sudah jaauh lebih baik dibanding dulu, tapi tetap saja saya mau belajar tahsin.

“Aku mau belajar sungguh-sungguh, Mas, yang ada ujiannya, biar ilmunya mantep. Nanti biar aku bisa ngajarin anak kita,”

Dan begitulah, apapun yang saya lakukan dalam kerangka ilmu, selalu saya niatkan agar ilmu itu bisa bermanfaat untuk keluarga kecil kami.

Semenjak resign, ada beberapa teman yang menanyakan dan menawarkan kerja disini dan disana untuk mengisi waktu, mereka tahu saya mantan orang kantoran yang berangkat pagi pulang maghrib, barangkali mereka khawatir saya jetlag dengan aktivitas Ibu Rumah Tangga sekarang. Tapi yah, mayoritas saya tolak. Saya bukannya malas cari uang, saya merasa ada sebuah peran yang sangat jelas terasa di keluarga kecil kami. Suami saya kewajibannya adalah mencari nafkah, itu mutlak. Kewajiban saya sebagai istri adalah melayani suami dan mendidik anak kelak. Kini, karena belum ada anak (lagi), jadi tugas saya adalah belajar, menuntut ilmu, mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik.

Duluuuu sekali, zaman masih gadis, gagasan ‘memantaskan diri’ adalah motivasi terbaik untuk menyambut kedatangan jodoh yang diimpikan. Pun saat ini, gagasan ‘memantaskan diri’ itu masih sangat relevan bagi saya. Bukan hanya berhenti pada idelisme bahwa laki-laki baik adalah pasangan bagi wanita baik. Tapi juga anak-anak hebat hanya akan terlahir dari rahim ibu yang kuat. Maka disinilah saya memilih. Saya ingin memiliki anak-anak hebat, selevel dengan Muhammad Al Fatih, atau Shalahuddin Al-Ayubi, atau dalam konteks kekinian, saya ingin kelak anak saya seperti Recep Tayyip Erdogan. Impian setinggi langit sah-sah saja, asal bukan hanya sekedar wacana tanpa aksi nyata. Maka bagaimana kah mungkin saya dikarunia anak sehebat itu? Tentu saja dengan memantaskan diri, saya harus menyiapkan yang terbaik dari dalam diri saya, untuk kemudian mencetak anak-anak tangguh kader dakwah yang militan.

Maka dari itu, saya kurang responsif ketika ditawari kerja ini dan itu, tapi luar biasa cepat tanggap kalau ada yang ngajakin kajian kesini kesana. Keliling Jakarta pun saya mau, demi ilmu. Demi menjadi istri dan ibu terbaik yang mengasuh rumah tangga.

Belakangan saya teringat dengan Musa bocah cilik yang namanya harum berkat Hafidz Indonesia. Di usianya yang baru 4,5 tahun, Musa sudah selesai menghafal Al-Quran dengan mutqin, hafal tuntas diluar kepala. Karena ketakjuban itulah, saya dan suami kemudian membeli sebuah buku dengan judul “Balita pun Hafal Al-Quran” dan ketakjuban kami menjadi bertambah-tambah.

buku_balita_hafiz
Balita pun Hafal Al-Quran

Nyaris semua balita-balita yang kisahnya tertulis disana berawal dari Ayah dan Ibu yang azzamnya tegak terpancang di dada. Visinya jelas dan nyata, ketangguhannya menempa diri sendiri membuatnya sanggup menempa anak-anaknya. Dan mereka semua, ah ya, mereka yang kisahnya tetulis disana, dididik langsung oleh Ayah Ibunya. Bukan, bukan diserahkan kepada lembaga tahfidz atau sejenisnya. Tapi perlahan dan pasti, Ayah Ibunya lah yang mengajari mereka dengan kesabaran dan ketaqwaan sejak masih bayi merah.

Duhai Allah, betapa bangga dan bahagianya pasti ketika kelak kami berdiri di hadapan-Mu dengan anak-anak yang di dadanya melekat erat kalam-Mu, tingkah lakunya selaras dengan ajaran agama-Mu, lisannya penuh kalimat-kalimat ke-Esa-an Mu, dan pasti akan jauh lebih bahagia dan bangga jika mereka demikian karena hidayah dari-Mu dan kerja nyata Ayah Ibu.

Ya Rabb, ini anakku. Telah purna tugasku mendidiknya seperti apa yang Engkau wajibkan atas semua orang tua. Telah sungguh-sungguh kami ajarkan, telah benar-benar kami sampaikan. Karena sungguh ilmu yang Engkau karuniakan tidak lah pantas disimpan kecuali untuk dibagikan, dan yang pertama-tama berhak atas ilmu tentu saja anak dan istri yang Engkau amanahkan.

Maka dari sini lah pelajaran saya pagi ini. Ilmu yang kita miliki, pertama-tama yang harus merasakan adalah keluarga, kemudian suadara, tetangga sekitar, baru masyarakat luas, bangsa dan Negara. Jangan sampai ilmu kita ini banyak, gelar akademis berjajar, lulus mahad ini itu, tapi keluarga terdekat tidak merasakan manfaatnya. Boro-boro ngomongin dakwah bangsa dan Negara kalau yang paling dekat saja tidak dijamah.

Oh, Allah, ampuni kami dari kefaqiran ilmu dan buruknya laku. Semoga Allah karuniakan kita ilmu yang bermanfaat dan barakah, yang manis terasa dari keluarga hingga ummat manusia, aamiin.

signature

9 thoughts on “Ilmu Kita dan Manfaat untuk Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s