Keluarga

Zaman yang Berubah

TAKAFUL
Sumber gambar

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena ia hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu dahulu,”

–Ali bin Abi Thalib r.a.

Kalimat ini masyhur sekali. Saya mengerti, walau tidak terlalu bisa membayangkan bagaimana cara mengaplikasikannya nanti. Namun akhir-akhir ini, kalimat ini menjadi jauh jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Beberapa hari yang lalu saya kembali menonton film legendaris favorit anak muda zaman saya: 3 Idiots. Film ini–ah saya ga perlu lah ya menjelaskan inti cerita film ini–membuat saya lagi-lagi menekuri satu hal. Ah iya ya, bagaimana pun orangtua, ia tetap akan sedikit “ketinggalan zaman” dibanding anaknya.

Salah seorang tokoh di film itu, saya lupa namanya, memiliki bakat dan minat yang besar untuk menjadi wild animal photographer. Sebuah profesi yang, umm, tentu saja sangat jarang dipikiran oleh orangtua kita.

Saya mengingat kembali masa TK dan SD. Pertanyaan tentang cita-cita ini adalah hal yang sangat lazim: “Cita-citamu apa?”

Maka jawabannya nyaris selalu; dokter, tentara, polisi, guru, presiden, astronot, dan yah, sebagian besar cita-citanya berputar disitu-situ juga. Beranjak SMP-SMA, kita mungkin mengenal profesi baru yang lebih keren; insinyur, psikolog, pengacara, jurnalis, pramugari, bahkan artis.

Tapi coba kita tengok berbagai macam profesi yang sedang nge-hits sekarang ini; programmer, online shop, web designer, blogger, book advisor, motivation trainer, bahkan konselor laktasi.

Saya membayangkan diri saya ketika TK ditanyai mengenai cita-cita dan saya menjawab “konselor laktasi” misalnya. Tentu saja semua orang akan memicingkan sebelah matanya. Apaan tuh konselor laktasi? Bahwa sesuatu sesederhana menyusui (yang mana zaman dahulu semuanya pasti merasa menyusui adalah hal yang gampang: buka kancing baju, sodorkan, beres!) Jadi tentu saja tidak akan terfikirkan, untuk apa menjadi seorang konsultan yang menasehati bagaimana cara menyusui?

Dua puluh tahun yang lalu, orang-orang pada zamannya tidak akan bisa memahami bahwa ternyata menyusui adalah sesuatu yang begitu rumit. Apa itu bingung puting, latch-on, colostrum, hiperlaktasi, relaktasi, e-ping, donor ASI, dan bahkan kurir ASIP!

Hal ini kemudian membuat saya dan suami memikirkan kembali cita-cita kami, kami ingin minimal satu anak kami kelak menguasai ilmu syariah, dan ingin agar anak-anak perempuan kami kelak menjadi Ibu Rumah Tangga (yang walaupun bekerja, bekerjanya ya di rumah). Dua puluh tahun mendatang, apakah keinginan kami masih relevan dengan keadaan zaman?

Lantas pikiran saya berputar-putar bukan lagi masalah profesi. Betapapun, kami ingin anak yang sholih dan sholihah, urusan profesi itu tidak penting. Namun untuk sekadar sholih dan sholihah saja tentu butuh effort yang tidak mudah.

Baca : LGBT dan Masa Depan Anak Kita

Zaman ini misalnya, di tahun 2016 yang gegap gempita ini, negara kita sedang digempur habis-habisan dengan isu LGBT. Sesuatu yang, oke, 20 tahun yang lalu orangtua kita tidak paham apa itu LGBT. Mereka mungkin hanya menemui satu-dua orang laki-laki yang agak gemulai dan kemayu, atau satu-dua orang perempuan yang terlihat tomboy. Tapi ya hanya berhenti disitu. Zaman berubah. Kini kita terjebak dalam masalah-masalah sosial yang begitu rumit yang tidak pernah kita duga. Dan siapa yang akan menyangka bahwa masalah serumit ini, adalah sesuatu yang tidak ada apa-apanya dibandingkan setumpuk permasalahan sosial 20 tahun kemudian, ketika anak-anak kita tengah beranjak dewasa?

Barangkali kelak LGBT hanyalah permasalahan basi. Bisa saja, ketika kita saat ini membiarkan gerakan LGBT meluas dan menyebar, kemudian dianggap halal dan lazim, 20 tahun kemudian, anak-anak kita akan menghadapi hal-hal semacam: berhubungan seks dengan hewan, atau berhubungan seks dengan anak dibawah umur (pedofilia) adalah sesuatu yang harus dianggap normal, lazim, dan legal. Who knows?

Zaman berubah, dan manusia (seharusnya) berbenah. Hanya saja, kita terkadang lupa, sekalipun zaman ini bergeser-geser kekanan dan kekiri, maju ataupun mundur, berjaya ataupun dijajah, pedomannya hanya dua: Al-Quran dan sunnah.

Ya Allah, semoga Engkau beri kami kemampuan, bukan hanya sekadar hamil dan melahirkan, namun juga mendidik dan mendampingi anak-anak kami hingga kelak ia menjadi khalifah yang amanah di muka bumi ini. Aamiin…

7 thoughts on “Zaman yang Berubah

  1. Harus jadi orang tua yang visioner ya Mbak. Bisa memprediksi kondisi berpuluh tahun yang akan datang. iya juga sih ya. Biar tau ancaman gangguan hambatan masa depan. New insight..hehe. Biasanya memprediksi teknologi, dkk😀

    1. Sebenarnya sih ga harus bisa memprediksi juga, yang paling penting adalah menanamkan nilai-nilai pokok dan dasar-dasarnya, seperti Al-Quran, yang selalu mampu mengimbangi perkembangan zaman. Jadi walau seperti apapun zaman berubah, kalau kita yakin dan mantap memegang nilai-nilai utama, insya Allah akan selamat. Terkait implementasinya bagaimana ya tinggal disesuaikan dengan zamannya. Menurutku sih begitu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s