Keluarga · Perjuangan

LGBT dan Masa Depan Anak Kita

559d607ceda6f5dd57649084c0f311ea
Sumber gambar: Pinterest

Ada banyak sekali kampanye menolak LGBT yang berseliweran di timeline media sosial saya, hampir semuanya menolak dan bahkan hanya satu saja teman di facebook saya yang mendukung LGBT ini. Sesaat saya merasa, saya ga perlu menulis tentang ini karena isu LGBT tidaklah sebesar yang saya bayangkan, toh buktinya masih banyak teman-teman saya yang sadar bahwa homoseksual adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima. Tapi ternyata saya keliru. Saya berkesimpulan demikian karena media sosial saya berisi anak-anak masjid, pegiat parenting, aktivis dakwah, dan semacamnya.

Saya kemudian berkunjung ke salah satu akun mahasiswi pendiri SGRC (Supprot Group and Research Center) yang kemarin ramai sekali dibicarakan. Barangkali kami seumuran, bedanya dia baru lulus kuliah dan menghirup angin bebas dunia, sedangkan saya yang sudah lulus kuliah lebih dari dua tahun lalu, lebih sibuk tenggelam dalam hidup Ibu rumah tangga dan kelas-kelas Tarbiyyatul Aulad demi masa depan anak-anak saya kelak. Berharap tangan ini bukan hanya mendorong ayunan, tapi juga ikut meramaikan kemenangan peradaban Islam.

Agak shock karena ternyata, kesimpulan saya bahwa “isu LGBT yang tidak terlalu parah” ini kemudian tertolak mentah-mentah. Ada banyak sekali–luar biasa banyak yang mendukung LGBT ini. Mereka dengan sangat gamblang dan terang-terangan membela, mendukung, dan memperjuangkan LGBT.

Belum lagi berita yang berseliweran mengenai komunitas LGBT yang mengecam beberapa pejabat pemerintah yang menolak mereka. Saya marah sebenarnya, apa-apaan ini, kenapa gerakan LGBT ini sudah sampai ditahap sedemikian berani. Kenapa bahkan mereka sudah selantang ini?

Dunia sudah cukup awut-awutan tanpa kehadiran gerakan LGBT. Keberadaannya hanya akan menambah beban hidup kita semua. Saya, pada dasarnya tidak membenci orang-orang yang mengalami kesalahan orientasi seksual, saya hanya sangat membenci gerakan menyebarkan LGBT dan menjadikannya hal yang legal di negara ini.

Disini, saya masih berusaha menabah-nabahkan diri, memaksa diri sendiri untuk bersikap lebih adil sejak dalam fikiran, apalagi ucapan dan perbuatan. Saya masih merasa baik-baik saja, walau mungkin dengan susah payah. Sampai kemudian saya membaca sebuah tulisan seorang Ayah untuk anak lelakinya. Tulisan yang menyampaikan betapa ia sudah siap jika suatu saat nanti anaknya menjadi gay, bahwa ia adalah Ayah yang bijak yang akan menerima apapun pilihan anaknya ketika dewasa kelak. Ia akan membela, mendukung, dan tetap mempertahankannya. Sekalipun anaknya homo.

Saya membayangkan Bapak saya menatap saya sambil berkata,

Nduk, kalau kamu suka sama sesama jenis, kemudian pacaran, hidup bahagia dengan perempuan pilihanmu. Bapak ridho, Nduk…”

Saya seketika jadi pusing. Saya tidak bisa tidur berhari-hari setelah membaca tulisan itu.

Ada ribuan bahkan mungkin jutaan tulisan positif beredar di grup-grup parenting wassap, artikel, buku sekalipun. Bukan saja mendidik anak sesuai fithrahnya, tapi bahkan cara memilihkan mainan anak; kayu atau plastik, popok kain atau popok sekali pakai, ASI atau Sufor, semuanya mengarah pada satu hal: kebaikan anak. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan orangtua yang sedang mati-matian menjaga anaknya dari segala ancaman psikis dan moral. Bukan hanya masalah berantem di sekolah, cemburu antara kakak-adik, atau bahkan bulliying dan kekerasan seksual pada anak yang ramai diluar sana. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan orangtua yang setiap harinya selalu berusaha memperbaiki dirinya demi anak-anaknya tumbuh normal, sehat, dan waras di tengah kacau-balaunya dunia ini.

Sudah saya katakan, hidup kita dan anak-anak kita sudah cukup awut-awutan tanpa kehadiran gerakan menyebarluaskan dan menghalalkan LGBT. LGBT hanya akan menambah beban hidup kita semua.

Oke, baiklah. Saya, dalam hati saya, sekalipun menolak dengan sangat keras LGBT ini, tapi toh saya masih bisa memahami mengapa ada banyak sekali anak muda diluar sana yang mendukung LGBT ini. Mereka menganggap dengan mendukung LGBT, mereka menjadi orang-orang yang terdepan dalam toleransi, orang-orang yang progresif dan kekinian, orang-orang yang berpikiran maju dan update dengan perekembangan zaman. Sedangkan orang-orang seperti saya, yang sedikit-sedikit selalu membawa-bawa agama, adalah orang yang dianggap kuno, kolot, konvensional, ketinggalan zaman, ga progresif, bebal, bahkan dianggap radikalis dan rasis. Saya masih sangat bisa memahami semua ini, segala fenomena dan alasan-alasan ini.

Tapi seorang Ayah yang bahkan sejak jauh-jauh hari dengan bangganya mengatakan ia mau jika anaknya gay? Ya Raabb, naudzubillah, naudzubillah. Saya sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang dipikirkan bapak itu. Sudah sejauh inikah LGBT merenggut kewarasan dari dalam diri kita?😥

Seketika saya kembali teringat pada semangat yang begitu menggebu-gebu. Hanya beberapa pekan yang lalu, saya merasa bahwa dunia yang kacau balau ini adalah berita baik untuk semua orangtua di dunia, bahwa semakin bobrok kita, semakin dekat pula kita pada titik balik kehidupan.

Baca: Melahirkan Generasi Shalahuddin al-Ayubi
Baca juga: Indonesia dan Kebangkitan Islam Dunia

Saat itu, saya sampai-sampai tidak bisa tidur saking bersemangatnya. Saking tidak sabarnya saya pada titik balik kegemilangan dan kemajuan. Tapi mirisnya, beberapa hari ini pun saya sampai-sampai tidak bisa tidur lagi, bukan karena semangat yang menggebu, tapi karena rasa takut dan ngeri yang menjalar di hati.

Salahaddin Al-Ayubi memang lahir dari peradaban yang carut-marut. Segala yang kita hadapi saat ini ada: korupsi, mental bebal, tawuran, sikut-menyikut pejabat, ulama yang kehilangan izzah. Semua yang ada saat ini terjadi di zaman Shalahuddin, tapi bukan dengan homoseksual.

Homoseksual terjadi ketika zaman Nabi Luth. Dan alih-alih kemenangan seperti generasi Shalahuddin, kaum Nabi Luth justru dibinasakan. Hancur. Mati dalam kehinaan.

Ya Rabb, saya tidak bisa membayangkan kaum ini–saya, keluarga, saudara, sahabat semuanya–dibinasakan atas adzab yang begitu pedih karena penyakit penyimpangan seksual ini. Saya juga tidak bisa membayangkan apa yang kelak akan dihadapi oleh anak-anak kita di kemudian hari. Jika sekarang saja yang kita hadapi saat ini adalah kaum Sodom yang semengerikan ini, mungkinkah anak-anak kita menjumpai yang jauh lebih mengerikan dari apa yang kita hadapi?

4 thoughts on “LGBT dan Masa Depan Anak Kita

  1. Pingback: Shahfira Alif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s