Islam

Indonesia dan Kebangkitan Islam Dunia

Masih terasa betapa besar optimisme yang menancap di dada pasca merenungi kebangkitan Islam era Perang Salib, tentang betapa kacau-balaunya umat Muslim kala itu, dan tentang betapa hebatnya mereka mengambil pelajaran darinya.

Baca: Melahirkan Generasi Shalahuddin Al-Ayubi

Lantas kemudian teringat broadcast whatsapp beberapa waktu silam, sebuah broadcast yang membuat saya terang saja membatin, “ah masa iya sih?” Bahwa konon katanya, dunia sedang menunggu kebangkitan Islam di Indonesia.

Suatu saat kami duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina.

Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya”, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama & kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin RasuluLlah, Khulafaur Rasyidin, & beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama & Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling & menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul & anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaaLlah.”

Ah.. Campur aduk perasaan, tertusuk-tusuk rasa hati kami di Jogokariyan mendengar ini semua. Ya Allah, tolong kami, kuatkan kami..

–Ustadz Salim A. Fillah dalam tulisannya Islam dan Syiar Dakwah Nusantara

Semoga bukan saya saja yang merasakan optimisme, harapan, dan semangat yang membuncah-buncah di dada.

Semoga bukan saya saja yang tiba-tiba menganggap keterpurukan ummat yang belakangan terjadi adalah sebuah kabar gembira. Bahwa semakin terpuruk sesuatu, semakin ia mengambil banyak pelajaran, semakin besar pula tekadnya meraih kemenangan, juga semakin ia dekat pada kebangkitan. Bukankah malam akan semakin pekat dan semakin gelap, sebelum kemudian terbit fajar yang cahayanya merekah dan bersinar?

Semoga bukan saya saja yang kini, diam-diam merapal doa di sujud dan rukuknya, “Ya Rabb, pilih saya, pilih saya. Untuk menjadi perempuan yang melahirkan calon-calon Ulama. Ya Rabb, pilih saya, pilih saya. Untuk menjadi perempuan yang mendidik calon-calon pemimpin kebangkitan ummat.

Semoga bukan saya saja yang kini, memilih dan memantapkan hati, akan ikut berkontribusi dalam kerja peradaban ini. Walau panjangnya tak tentu, walau hasilnya tak mesti ditemu. Tapi bukankah kita pun ingin, kelak di akhirat nanti, kita berucap pada-Nya, “Ya Rabb, aku ikut bekerja, aku ikut memperjuangkan kebangkitan agama-Mu di dunia.” Hingga kelak, Allah tersenyum dan memuji kita atas usaha dan perjuangan kita.

Allah, Allah, semoga Engkau jadikan kami hamba-hamba-Mu yang tak hanya duduk diam, melainkan ikut serta menyebarkan kalimat-Mu di bumi ini…

 

–Lagi-lagi, ditulis dengan segenap optimisme di dada.

4 thoughts on “Indonesia dan Kebangkitan Islam Dunia

  1. “Pilih saya juga, ya Rabb.” ^^
    Same du’a insha allah Mb..hehe

    Semangatnya luar biasanya Mb. Optimismenya menular (^^)b

    Salam kenal Mb Fira. Jazaakillah khayr sharing ilmu2nya🙂

    1. Iyaaa kayaknya memang harus banget ya kita berdoa kayak gitu, hhehe.
      Alhamdulillah yaa kalau menular optimismenya, harus ditularkan nih memang, hhe. Wa anti faa jazakillahu khoiron, mba. Saling sharing ya kita🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s