Islam

Melahirkan Generasi Shalahuddin Al-Ayubi

Pertemuan ke 6 SSPI
Materi oleh Ust Asep Sobari, Lc.
Diresume oleh Shahfira Alif Asmia

12418874_1298257540199714_3435730320884398105_o
Sumber gambar: Omah Peradaban

 

Perdaban silih berganti, sebagaimana silih bergantinya siang dan malam, juga rotasi dan revolusi bumi. Ini adalah hakikat qauniyah yang berlaku pada semua manusia. Tidak memihak apakah manusia ini beriman atau tidak, semuanya berlaku hakikat qauniyah. Fenomena jatuh bangunnya peradaban tak lain adalah ujian dari Allah. Ujian-ujian ini merupakan tamhis atau seleksi kepada seluruh manusia, manusia manakah yang layak tampil sebagai pemenang dalam perlombaan fastabiqul khoirot.

Dalam ujian ini, seleksi yang Allah berlakukan bukan lagi seputar hakikat qauniyah, melainkan hakikat diiniyah. Mereka yang terpilih adalah mereka yang diiniyah-nya terjaga, ibadahnya istimewa, keimanannya menancap di dada, dan semangat jihadnya membara. Sosok-sosok seperti itulah yang dibutuhkan oleh umat muslim kini, untuk mengembalikan kejayaan Islam yang pernah ada. Sosok yang akan mengawali kembalinya umat Islam sebagai pusat peradaban dunia.

Namun sebelumnya, ada beberapa hal yang harus kita pelajari mengenai kemunduran generasi Islam:

  1. Umat Islam tidak mampu menempatkan kemuliaan Allah. Umat Islam lupa bahwa segala kemajuan adalah karunia Allah. Kebanyakan yang terjadi justru kekufuran atas nikmat Allah. Ketaatan melemah dan kenyamanan yang membuai. Inilah yang menjadikan umat Islam rapuh.
  2. Adanya pengaruh generasi sebelumnya. Perlu ditekankan disini bahwa kekuatan sebuah generasi sangat erat hubungannya dengan kekuatan generasi sebelumnya. Generasi Abbasiyah yang gemilang tentu dipengaruhi oleh generasi para khulafaur rasyidin. Generasi kita, saat ini dipengaruhi oleh generasi yang sebelumnya juga sudah melemah, sehingga semakin lemah.
  3. Pilar-pilar yang menjadi penyangga Islam dari dalam internalnya rapuh dan tidak dijaga. Pilar-pilar ini seperti sifat amanah para pemimpinnya, sifat zuhud dan tawadhu para penguasa, juga para masyarakat yang taat dan Ibadah dan muamalah. Pilar-pilar ini melemah dan rapuh. Sehingga menyebabkan umat Isam tidak lagi kokoh.
  4. Serangan asing untuk membuktikan bahwa Umat Islam lemah. Di titik ini, dengan rapuhnya internal dan generasi, umat islam sedang sempoyongan, kemudian diserang oleh peradaban Barat, maka umat Islam menjadi semakin hancur seperti sekarang.

Hal inilah yang kemudian senada dengan hakikat qauniyah yang telah disinggung tadi, bahwa sungguh peradaban ini silih berganti. Muslim yang tadinya jaya kini lemah. Namun, sebagaimana silih bergantinya malam dan siang, kita pun percaya bahwa suatu saat kelak, umat yang sedang terpuruk ini dengan seizin Allah akan kembali menjadi baik.

Kondisi sebuah masyarakat dari maju kemudian mundur, dari kaya menjadi miskin, dari damai menjadi kacau. Ini semua berlaku dimulai oleh perubahan yang digawangi oleh suatu kaum. Perubahan ini terjadi dari apa yang dimiliki umat itu sendiri, apa yang ada dalam diri umat itu. Yang disebut dengan konten masyarakat.

Konten sebuah masyarakat adalah keyakinan, sistem nilai, tradisi budaya, dll. Inilah yang dimiliki oleh suatu kaum ketika mereka mengubah konten masyrakat dari baik menjadi buruk, maka akan memicu kondisi perubahan yang besar pada masyarakat itu.

Suatu masyarakat, ketika terpuruk itu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Masyarakat itu sendirilah yang mengubah secara perlahan-lahan. Itulah yang terjadi. Pun dengan masyarakat ketika menyadari keterpurukannya, ia membaca kembali proses yang membuat mereka terpuruk, dan mereka mengganti konten yang buruk tersebut, maka Allah akan membalikkan keadaannya menjadi lebih baik. Sebagaimana dalam kalam Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.”  (QS ar-Ra`ad: 11)

Maka dari itu, ada peran yang sangat besar dalam masyarakat terhadap konten masyarakat itu, nilai-nilai yang ada didalamnya, yang akan membawa kebaikan ataukah keterpurukan sebuah generasi.

Kita belajar dari era perang Salib pada puncaknya yaitu 491 H, pasukan Salib dengan sangat luar biasa masuk ke Palestina dan menghabisi. Inilah yang paling menandai keterpurukan ummat. Ummat islam yang tadinya ada di puncak, kuat sehat walafiat, namun kemudian menjadi lemah, tentu karena ada perubahan kolektif sistem nilai masyarakat. Mengapa? Karena di abad 4 dan 5 ummat Islam luar biasa jauh dari kondisi Islam ideal.  Bahkan jauh lebih terpuruk dari umat Islam saat ini. Beberapa fenomena yang terjadi pada saat itu adalah:

  1. Inflasi besar-besaran. Gambarannya, saat ini di Suriah, sebuah mobil ditukar dengan 15 kg beras. Namun di abad ke 4 dan 5 seseorang akan menjual rumah untuk mendapat sekarung gandum. Bahkan 1 dinar hanya mampu untuk membeli satu buah apel saja. Betapa kondisi ekonomi saat itu luar biasa kacau balau.
  2. Masalah sosial, tawuran bukan hanya di pasar-pasar melainkan di pesantren-pesantren tempat menempa kader umat pun rawan perpecahan dan perkelahian. Perbedaan kecil dalam hal khilafiyah para ulama dan antar mazhab pun terjadi, perbedaan pendapat dalam hal furu mampu meledakkan sebuah perpecahan, tawuran massal, kerusuhan, membakar passer dan kekacauan-kekacauan di kala itu.
  3. Politik luar biasa kacau. Kudeta dari waktu ke waktu. Pembunuhan level elit, Perdana Menteri, pejabat, menjadi hal yang biasa. Jegal-menjegal dan bunuh-membunuh antar pejabat pun marak. Bahkan sebuah kelompok yang dimanfaatkan oleh kubu-kubu tertentu yang sangat luar biasa mengerikan dalam pembunuhan muncul. Hasyasyi, atau bahkan kini terkenal dengan nama Assasins, adalah kelompok yang lahir pada masa itu. Kondisinya luar biasa berantakan.

Apakah tidak ada ulama? Ada. Masih ada, namun ulama-ulama itu tidak mampu membuat tren positif, mereka kalah dengan oknum-oknum lain yang memunculkan tren negative. Karena inilah, karena tidakmampuan ulama untuk membawa kebaikan massal, menjadikan pemerintah mengintervensi lembaga-lembaga keummatan. Dan kemudian bahkan dikooptasi oleh kekuatan politik. Inilah fakta sejarah.

Semua ini, kondisi sosial politik ekonomi pada dasarnya bukanlah penyakit. Ini semua hanyalah gejala. Seperti halnya batuk, penyakit sesungguhnya bukan batuk. Batuk adalah gejala yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada tenggorokan kita. Inilah yang terjadi! Yang sesungguhnya rusak bukan kondisi ekonomi sosial budaya, melainkan kondisi ummat.

Inilah kemudian yang disadari oleh satu generasi ulama, bahwa kondisi ummat harus segera dipulihkan. Mereka kemudian melahirkan perubahan. Dari buruk menjadi baik. Dari kacau menjadi damai. Dan semua rangkaian proses perubahan ini memakan waktu kurang lebih 50 tahun. Bagaimana proses perubahannya?

  1. Ada kesadaran yang mendalam pada ulama di generasi itu bahwa ummat sedang sakit. Para Ulama menyadari hal ini dan mereka mendiagnosa penyakit-penyakit ummat. Setelah itu, mereka mencari obat atas penyakit itu. Setelah meracik obatnya, mereka menerapkannya. Dan apa yang para ulama temukan intinya adalah sama dengan apa-apa yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa: “Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi belakangan umat ini kecuali apa yang telah dapat memperbaki generasi awal.”

    Umat saat itu dinilai sudah melenceng dari garis keemasan dan kegemilangan zaman Rasul dan para sahabat. Masa itu abad ke 5 atau 6 hijiriah, generasi yang sudah cukup jauh dari generasi awal. Sehingga masuk dalam kategori generasi belakangan seperti yang disampaikan oleh Imam Malik.Kemudian kita pun seharusnya meneladani hal ini untuk menyembuhkan apa yang terjadi pada masa itu. Apakah dengan cara mengembalikan segala sesuatau di zaman Rasul? Iya, benar secara bahasa. Namun yang maksudnya kembali ke zaman salafushalih adalah dengan berbagai penyesuaian yang terjadi kekinian. Kita dihadapkan dengan tantangan zaman yang tidak semuanya bisa dipakai secara saklek instan dengan apa yang dilakukan dengan zaman terdahulu. Masalah-masalah yang kita hadapi tidak semuanya terjadi di masa lalu. Lantas apa yang dilakukan oleh para ulama era perang Salib agar umat Islam saat itu bisa kembali ke era para sahabat?
  1. Mengukur sejauh mana umat islam saat itu melenceng. Dan mereka menemukan bahwa umat sudah jauh dari risalah Islam. Risalah Islam ini merupakan titik tumpu para ulama, bahwa para ulama lah yang mengambil estafet keilmuan para Nabi. Dan ternyata para ulama pun sudah melenceng dari kondisi ideal. Para ulama saat itu belajar ilmu syariat agar mereka menjadi pejabat, atau mendapat posisi sebagai penguasa. Mereka pun belajar dengan cara yang instan, tidak menkaji kitab-kitab secara mendalam, melainkan dengan menghafal fatwa-fatwa ulama yang mana itu lebih ringkas daripada mengkaji kitab-kitab. Para ulama pun gemar berdebat, saling menghambat satu sama lain. Baik tentang ilmu kalam sampai masalah fiqh. Jadi dapat kita pahami bahwa saat itu risalah keilmuan tidak dalam kondisi ideal.
  1. Memperbaiki risalah keilmuan. Membersihkan ilmu dari segala yang tidak sesuai dengan aqidah dan syariat, yang melenceng dari Alquran dan sunnah. Mereka juga berangkat kembali dari titik awal, bagaimana politik yang benar, bagaimana pemimpin yang baik. Juga hal-hal terkait tasawuf, akhlak, sehingga kemudian masuk kepada bagaimana mewujudkannya.
  1. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kunci tahap selanjutnya. Posisi muslim ketika berada di puncak peradaban adalah amar ma’ruf, sedangkan posisi muslim ketika berada di keterpurukan peradaban adalah nahi mungkar. Bahwa segala apa yang kufur dan syirik yang dibawa oleh peradaban Barat adalah sebuah kemungkaran yang harus ditolak oleh Islam.
  1. Membuat mainstream. Semua upaya ini dilakukan terus-menerus sampai di satu titik hingga mereka membuat arus sendiri. Membangun madrasah sendiri, membangun kader ulama sendiri, membentuk kurikulum independen. Institusi keilmuan Nidzomiyah, sebuah universitas kelas Internasional, yang saat itu menjadi pusat keilmuan sebelum perang Salib sudah tidak lagi mampu mencetak kader islah seperti yang diharapkan oleh ulama saat itu. Hingga akhirnya para ulama membangun madrasah sendiri. Madrasah ini berkembang menjadi dua generasi. Generasi pertama melahirkan Imam Al-Ghazali, dan generasi kedua melahirkan Abdul Qadir Jailanai. Mereka memahami bahwa benteng umat adalah pendidikan.

    Madrasah Islah ini dibangun dibagi menjadi dua yaitu pusat dan daerah. Madrasah-madrasah di daerah difungsikan untuk mengembangkan potensi daerah, dan para anak muda dengan potensi-potensi yang menonjol dikader ke pusat di Baghdad untuk diasuh langsung oleh Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Di daerah di Palestina, mereka menemukan bibit unggul yang kemudian dikirim ke pusat di Baghdad, salah satu dari para kader itu adalah Ibnu Khudamah dan Abdul Ghaniy.

    Selain itu, ada juga sebuah daerah di utara Iraq bernama Daerah Hakkar, yang merupakan daerah sarang penyamun, daerah dimana Hasyasyi atau Assasins yang masyhur akan militer kejam yang sering dimanfaatkan sebagai tentara bayaran, kemudian di daerah tersebut dibangunlah Madrasah oleh Ali bin Muzafir, hingga para penyamun disana bertaubat. Mereka ditempa secara intelektual dan kejiwaan. Mereka menjadi orang-orang yang salih, tapi tidak menghilangkan skill mereka dalam militer dan bela diri. Mereka memiliki jiwa baru dan visi baru. Mereka sholih, kuat, pintar, dan menjadi panglima-panglima kuat, jenderal-jenderal di kesultanan. Daerah ini pula yang kemudian melahirkan sosok yang masyhur sebagai pahlawan perang salib, seorang murid yang begitu berbakat dan menonjol ini kemudian dikirim ke Bagdad. Ia tak lain adalah Shalahuddin Al-Ayubi, terlahir dari sebuah daerah sarang penyamun Hasyasyi, ialah yang kemudian kelak menjadi salah satu tokoh penting penaklukan Perang Salib.

  1. Menyentuh kesultanan Nuruddin Zanki. Madrasah-madrasah yang dibangun oleh para ulama ini melahirkan banyak kader dan ulama yang unggul, sehingga Kesultanan Nuruddin Zanki merekrut banyak sekali ulama-ulama jebolan madrasah ini. Kesultanan berubah menjadi Islami, berubah dari yang semula kondisinya carut-marut menjadi tertata dan sesuai bingkai syariat. Dari sinilah kemudian, sosok Al-Ayubi itu bangkit dan menyejarah.

 

Sosok Al-Ayubi memang tidak serta merta menjadi Sultan Daulah dan menaklukan Perang Salib segera setelah lulus dari Madrasah Islah. Perjalanannya masih panjang, beliau diangkat menjadi pejabat di kesultanan, kemudian keluar dan menjadi oposisi pemerintah, dan kemudian beliau pun atas izin Allah menjadi Sultan dan memimpin pasukan dan memenangkan Perang Salib. Hal yang menjadi titik kritis pembahasan ini bukan lah pada sosok Shalahuddin Al-Ayubi, melainkan pada kerja-kerja peradaban untuk melahirkannya. Bagaimana kondisi ummat saat itu dan bagaimana sebuah kebangkitan diciptakan. Karena memang sungguh, kebangkitan tidak mungkin tiba-tiba jatuh dari langit, ia perlu diupayakan kehadirannya dengan kerja-kerja nyata dari tangan kita, para anak muda yang merindui kemenangan Islam di muka bumi ini.

Barangkali dari sini, setelah kita memahami betapa carut-marut Umat Islam saat ini ternyata pernah juga terjadi berabad-abad silam. Dengan berbekal pengetahun ini, semoga menjadikan kita tergugah untuk ikut meneladani apa yang para ulama terdahulu lakukan, bekerja bersama-sama dalam mengupayakan kebangkitan, kerja-kerja nyata, kerja-kerja peradaban.

Allahu’alam bisshowab.

 

–Ditulis dengan segenap optimisme, bahwa sungguh, tiba-tiba saja, kebangkitan Islam terasa amat dekat. Semoga, Ya Rabb, Engkau takdirkan dari rahim ini anak-anak yang kelak akan melanjutkan kerja-kerja ini, anak-anak yang kelak menjadi Shalahuddin Al-Ayubi. Anak-anak yang kelak menjadikan Islam sebagai pusat peradaban dan kejayaan di muka bumi ini. Aamiin–

12 thoughts on “Melahirkan Generasi Shalahuddin Al-Ayubi

  1. Fir, itu “bagaimana proses perubahannya” yang poin lima, please dipecah jadi dua atau tiga paragraf. Paragraf kepanjangan bikin mata lelah dan penginnya skip aja tauk hahaha (komen yang teknis banget).

    Keep sharing, Fir! Menggugah seperti biasa. Aku butuh bacaan begini sebagai penyeimbang❤

      1. ayooook! pekan depan masih ada pertemuan ya mbak? kemarin aku pulang duluan. Yang rencana workshop menulis dll itu gimana? *nggakapdet*

      2. hayuuk, masih ada kok sisa satu lagiii pekan depan terakhir kayaknya😀
        Nah enggaktau deh workshop menulis itu apa kabar, ga pernah disinggung lagi deh kayaknya. Saya juga kalau masih ada sambungannya entah ikut entah enggak. Lama-lama berasa capek juga euy lumayan jauh dr rumah hehe

      3. iyaa huhu aku dari bogor mesti berangkat jam 8 kalo mau sampe tepat waktu di asy syifa jam 13:/

        sipdeh, nanti kalo kopdar, kita rumpi rumpi ya mbaak haha

      4. Ya ampun lah berangkat jam 8😦
        ternyata perjuanganku ga ada apa-apanya ya dibanding mb sekar, hehe *jadimalu*
        Iyaaaa hayuk hayuk excited kan jadinya kalau nemu temen baru😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s