Keluarga · Pregnancy

Pseudocyesis: Kehamilan Palsu

IMG_20141225_073534
Testpack kehamilan Falah, setahun yang lalu.

“Kayaknya Fira hamil deh, Mas…”

Seminggu penuh saya mual, pusing, kena asap dikit langsung batuk-batuk, naik KRL Pondok Ranji-Tanah Abang aja udah mau pingsan rasanya. Nafsu makan jadi ugal-ugalan. Bangun subuh laper, jam 8 pagi lapar lagi, menjelang dzuhur lapar lagi, jam dua lapar lagi, ashar, maghrib, isya, yang terasa selalu lapar, lapar dan lapar.

“Beneran hamil deh ini kayaknya, mas. Beli tespek yuk…”

Memang belum terlambat, karena seminggu itu adalah seminggu persis sebelum jadwal kedatangan tamu bulanan. Kalau saya hamil, saya pasti hamil usia 3 atau 4 minggu. Sudah dua kali berturut-turut saya hamil. Enggak mungkin salah, rasanya persis seperti ini, saya pasti hamil…

Satu garis. Negatif.

Ah, dulu pas hamil Falah juga negatif gini. Coba dua hari lagi pasti positif. Batin saya.

Satu garis, lagi. Saya mulai meragukan diri sendiri.

Dan esoknya, persis di jadwal yang sudah diprediksi, tamu bulanan pun datang.

Allah, saya bersyukur karena haid yang datang tepat waktu, walau saya juga tidak bisa tidak sedih karena ternyata saya belum hamil lagi. Tapi setidaknya saya merasa lega. Persis ketika tespek kedua dan hasilnya masih negatif, ditengah kekecewaan dan keraguan diri sendiri, saya tiba-tiba teringat kisah seorang saudari tentang gurunya. Sesuatu yang dulu saya tanggapi normatif saja, sekedar urun suara. Tapi tepat ketika mendapati satu garis ini, saya tiba-tiba takut mengalami hal yang sama.


 

Mungkin tujuh atau sepuluh tahun mereka menikah. Sudah lama sekali seingat saya. Dan selama itu juga, tak pernah sekali pun si istri ada tanda-tanda mengandung janin di rahimnya. Hingga suatu hari, ia berhenti dari haidnya. Pusing dan mual-mual, perutnya membesar, kelenjar ASI-nya membengkak, nafsu makannya bertambah. Betapa bahagianya.

“Aku hamil, aku hamil!”

Pergilah ke dokter kandungan. Disambut dokter, bidan dan perawat. Alat USG pun dipasang. Tapi betapa kecewanya, dokter bilang, tak ada tanda-tanda kehamilan di rahimnya. Tak ada janin disana, kosong.

“Tidak mungkin. Saya pasti hamil. Saya mual, pusing, dan tidak menstruasi. Perut saya membesar. Payudara saya membengkak. Dokter pasti salah. Dokter pasti keliru.”

Maka pergilah mereka, sepasang suami-istri, ke dokter lainnya. Hasilnya sama. Tak ada janin di rahim. Si istri tidak hamil. Kecewa. Pergilah mereka ke dokter lainnya lagi. Tapi bahkan hasilnya pun lagi-lagi sama. Si istri tidak hamil, tidak ada apapun dalam rahimnya.

Entah berapa dokter sudah disambangi mereka. Semuanya sama. Tak ada satupun yang berkata, “Selamat ibu, anda positif hamil.”

Tidak, tidak ada.

Hingga berbulan-bulan, si Istri tetap yakin dirinya hamil. Perutnya semakin hari semakin besar. Pun dengan kelenjar ASI-nya. Haid pun tak nampak. Apapun kata dokter, ia yakin ia hamil.

Suaminya pasrah. Ia mengkhawatirkan istrinya. Bertanya sana-sini, bertemulah ia dengan kata ini: pseudocyesis. Kehamilan palsu.

Ketika seorang wanita merasakan hasrat dan keinginan yang sangat kuat untuk hamil, tubuhnya bisa menghasilkan beberapa tanda-tanda kehamilan normal (seperti perut yang tumbuh, payudara membesar, dan bahkan sensasi gerakan janin). Otak wanita kemudian menafsirkan gejala tersebut sebagai kehamilan, dan memicu pelepasan hormon tertentu (seperti estrogen dan prolaktin) yang menyebabkan tubuh mengalami gejala kehamilan.

Sumber: programhamil.com

Bukan lah mereka berdua ini sepasang suami istri yang jauh dari Rabbnya. Sama sekali bukan. Keduanya adalah muslim yang bertaqwa, yang terdepan dalam dakwah. Sungguh besar kecintaannya pada-Nya. Namun sungguh besar pula kerinduan mereka tuk mendengar tangis dan tingkah bocah.

Perlahan-lahan menasehati, mengembalikan semua kepasrahan diri pada Ilahi. Bahwa barangkali, sang istri memang sedang tidak hamil. Ini pasti sesuatu yang menyangkut psikologi. Sang istri tak terima, ia masih bersikeras ia hamil. titik.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga ‘usia kandungannya’ berusia tujuh bulan, sang istri akhirnya berhasil melepaskan semuanya. Ia melawan dirinya sendiri. Menghamba pada Rabbnya, menangis memohon ampun dan ridho-Nya.

Lantas persis di puncak keikhlasannya. Haid itu datang. Kelenjar ASI-nya mengempes, pun bagian tubuh yang lainnya. Menandakan bahwa selama ini memang ia tidak hamil.


 

Allah, Allaah… Amat lekat kisah itu kini di kepala saya. Menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Tak perlu terlalu mengingini, apalagi terobsesi. Sungguh, hanya Ia satu-satunya Dzat yang menciptakan, hanya Ia satu-satunya Dzat yang merizqikan. Kapanpun Ia berkehendak menitipkan janin dalam rahim, itulah waktu yang paling baik untuk kita…

Pusing dan mual yang saya alami sebulan lalu, barangkali hanya masuk angin biasa. Saya saja yang sok kege-eran hamil. Hehe.

 

Menikmati hari-hari berdua dengan suami. Mohon doakan kami🙂

8 thoughts on “Pseudocyesis: Kehamilan Palsu

  1. Semangat Mbak Fira🙂
    Saya pembaca blog Mbak dari zaman belum menikah sampai sekarang. Semoga Allah segera mendekatkan rizkiNya berupa pejuang-pejuang shalih dari rahim Mbak Fira ya Mbak🙂
    Allahumma Aamiin

    1. Aaamiin. Iya mb, saya percaya setiap anak adalah rezeki yang ga mungkin keliru atau tertukar. Kitanya aja yang harus ikhtiar dn tawakkal. Makasih banyak doanya🙂

  2. Mba… kok saya pengen nangis yaa 😢😢. Saya suka geer ketika mengalami mual muntah. Padahal saya paham, saya punya mag. Dan saat masih lajangpun sering mengalami ini…. huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s