Islam

Pilar-Pilar Peradaban

Pertemuan keempat SSPI (Sekolah Sejarah dan Peradaban Islam)

Materi oleh Ustadz Salim A Fillah

Diresume oleh Shahfira Alif Asmia

Ustadz Salim

Sumber gambar: SSPI – Omah Peradaban

Lelaki yang mulia itu, Sallahu ‘alaihi wasalam, yang menyerukan kepada segenap muslimin Makkah untuk hijrah ke Yatsrib, beliau pula yang kemudian berturut-turut membangun lima pilar peradaban baru, demi terbentuknya sebuah negara Islam pertama di muka bumi ini. Madinah, begitulah yang kita kenal kini. Sebuah kota yang membuka tangannya lebar-lebar dan mempersilakan Rasulullah untuk berdakwah.

Mula-mula yang dibangun adalah ukhuwah; pilar peradaban pertama.

Ukhuwah—atau persaudaraan—dalam hal ini khususnya berupa ta’akhuh yang berarti mempersaudarakan para muslimin orang per orang, baik itu dari kalangan Muhajirin dan Muhajirin, maupun dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Ta’akhuh ini dilakukan untuk mempererat hubungan para muslimin. Atas dasar kesamaan, senasib sepenanggungan, mereka para kaum Muhajirin kini menjadi sama. Mereka yang dulunya kaya, maupun yang miskin. Yang terhormat, maupun yang dianggap hina. Semuanya menjadi sama: sama-sama faqir, sama-sama miskin, dan sama-sama terusir dari rumahnya. Maka dari itulah Rasulullah mengumpulkan mereka, mempersaudarakan mereka orang per orang, agar yang satu menolong yang lainnya, begitu pula sebaliknya.

Cobalah kita tengok mereka para sahabat yang dipersaudarakan oleh Nabi.

Kita belajar dari Abu Bakar r.a. yang dipersaudarakan dengan Bilal bin Rabah r.a. Dua sosok yang—dalam kacamata duniawi—sangat kontradiktif. Abu Bakar r.a yang kaya raya dan disegani, dengan Bilal r.a seorang mantan budak yang sering diremehkan. Namun barangkali memang demikian apa yang hendak Rasul sampaikan, bahwa Islam tak mengenal kaya-miskin, jabatan, kehormatan, semuanya dinilai berdasar kadar ketaqwaan. Bilal bin Rabah boleh saja mantan budak yang hitam legam dan kerap kali dihinakan, namun sungguh, kita meyakini bahwa imannya terang-benderang dan menghujam tajam.

Kemudian kita belajar dari Umar bin Khattab r.a yang dipersaudarakan dengan Said bin Zaid r.a. Dua sosok—yang kali ini dalam perspektif sifat dan karakter—cenderung berseberangan. Said yang sabar dan telaten, dipersaudarakan dengan Umar yang menggebu-gebu dan penuh kesigapan. Keduanya sama-sama terpuji di mata Allah dan Rasul-Nya, bahkan keduanya termasuk dalam barisan sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Karakter yang berbeda tak menjadi masalah, karena sungguh, dari kesabaran dan ketabahan Said saat dipukul oleh Umar karena ia telah masuk islam sedang Umar tidak, hati Umar pun luluh. Seperti luluhnya Umar ketika mendengar sang adik, Fatimah binti Khattab, membacakan ayat-ayat suci Alquran. Lantas kemudian, kita tahu bahwa Said bin Zaid menikah dengan Fatimah binti Khattab, yang praktis menjadikannya sebagai adik ipar dari Umar r.a.

Lantas kita beranjak pada kisah persaudaraan yang tak kalah mesra. Ialah Thalhah bin Ubaidillah r.a. dan Zubair bin Awwam r.a. Keduanya adalah panglima perang, para pejuang Islam yang begitu gagah di medan jihad. Nama keduanya pun disebut-sebut Rasul sebagai sepuluh orang yang Allah janjikan surga.  Dan bahkan, keduanya meninggal di hari yang sama, dan karena persaudaraan mereka berdua yang begitu erat, Ali bin Abi Thalib pun menguburkan mereka pada satu lubang yang sama.

 

Kisah-kisah ini hanyalah sepotong kecil kisah persaudaraan muhajirin. Ada lagi kisah yang tak kalah mesra, yang membuat kita tergugah betapa sungguh hati-hati muslim yang bersaudara itu amat luar biasa.

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” –QS. Al-Hasyr: 9

Betapa menakjubkan sungguh para Anshar, ketulusan penerimaan mereka terhadap kaum Muhajirin bahkan dipuji Allah dalam kalam-Nya. Mereka menawarkan segala apa yang mereka punya untuk dibagi dua, kebun-kebun mereka, rumah-rumah mereka, bahkan istri-istri mereka.

Namun Rasul dengan bijak menolak ladang-ladang mereka, kebun-kebun mereka, yang dengan semangatnya mereka ingin membagi dua. Rasulullah paham bahwa kaum Muhajirin tak sama dengan kaum Anshar, mereka bukan petani melainkan pedagang. Apa jadinya ladang-ladang dan kebun-kebun itu jika diserahkan pada kaum Muhajirin, pada tangan yang tak akrab dengan tanah dan bibitnya. Lantas dari sini kita menemukan perpaduan yang begitu pas, sebuah tim yang handal terbangun antara Muhajirin dan Anshar. Kaum Anshar pandai bertani, maka mereka menanam ladang-ladang dan kebun-kebun mereka hingga panennya melimpah ruah. Sayangnya, mereka tak pandai berdagang, hingga hasil panen yang melimpah itu harus dijual murah ke tangan para yahudi yang suka menipu. Namun kini, setelah Muhajirin datang, mereka datang menjual hasil panen di pasar-pasar. Menjualnya dengan adil dan halal, hingga kaum Anshar tak lagi tertipu oleh orang-orang Yahudi. Panen yang melimpah pun dijual dengan harga yang sebanding.

Tak hanya itu. Tersebutlah kisah tentang sepasang Bapak dan Anak kaum Anshar. Sa’ad bin Ubadah dan anaknya, Qa’is bin Sa’ad bin Ubadah. Mereka menerima 83 orang muhajirin, bayangkan 83 orang! Rumahnya ia sekat-sekat hingga membentuk petak-petak sebanyak 83, agar masing-masing mendapatkan tempat tinggalnya. Allahu akbar…

Masyhur pula bagi kita kisah antara Abdurrahman bin Auf dan lelaki Anshar kaya raya; Sa’d ibn Ar-Rabi’. Sa’d ibn Ar-Rabi’ menawarkan segala yang ia punya yang memang berjumlah dua: kebun, rumah, dan istri. Namun dengan bersahaja Abdurrahman bin ‘Auf menolaknya. Hanya satu yang ia pinta: “Tidak saudaraku. Tunjukkan saja padaku jalan ke pasar.

Allah… Betapa indah persaudaraan ini. Para Anshar begitu total dan loyal membantu, tapi pun yang dibantu juga berterima kasih dan tahu diri. Mereka tak mengambil semua, memanfaatkan kesempatan emas ini, tapi justru menerima secukupnya.

 

Apakah gerangan yang membuat kisah Muhajirin- Anshar ini begitu indah, begitu mesra? Bak dua orang kekasih yang lama terpisah, kemudian disatukan kembali. Seakan-akan mereka saling mengenal, saling memahami. Bahkan, seakan-akan mereka terlahir dari rahim yang sama, melihat betapa loyalitas mereka sungguh agung pada saudaranya.

Semua ini tentu tak lepas dari peranan duo duta madinah yang Rasul kirim sebelum hijrah. Mereka adalah Mus’ab bin Umair r.a. dan Abdullah bin Ummi Maktum r.a.

Adalah tim yang kompak, yang jeli dalam pembagian tugas, dan bersungguh-sungguh dalam dakwahnya. Inilah perpaduan yang pas, bahwa dakwah yang agung pasti membutuhkan pengorganisasian yang matang. Barangkali kepadanya lah kita harus berterima kasih. Kesiapan para Anshar dalam menerima kaum Muhajirin—selain tentu atas hidayah dan izin Allah—tak bisa dilepaskan dari jasa mereka berdua.

Mus’ab bin Umair yang parlente, yang rupawan, dan pandai dalam diplomasi, ia menkhususkan dirinya dalam bidang perekrutan. Ia lah yang menebar jaring dakwah dan mendapatkan banyak hasilnya. Lantas dari setiap yang berminat pada dakwahnya, setiap yang terketuk hatinya pada Islam dan berucap syahadat, segera dikirimnya para muslimin Anshar itu kepada saudara setimnya. Siapa lagi kalau bukan Abdullah bin Ummi Maktum r.a.

Abdullah bin Ummi Maktum yang luas ilmunya dan dalam keislamannya, ia mengkhususkan dirinya dalam bidang pembinaan. Setiap muslimin Anshar yang dikirim oleh saudaranya Mus’ab, ia kumpulkan mereka dan ia ajarkan segala yang ia paham. Tentang iman, tentang islam, tentang surga dan neraka. Hingga akhirnya dengan izin Allah, ilmu itu pun menancap dalam dada-dada mereka.

Inilah tim hebat yang Rasulullah bentuk: Mush’ab bin Umair yang merekrut, dan Abdullah bin Ummi Maktum yang membina. Masya Allah…

 

Kemudian kita bergegas pada masjid-masjid utama: pilar peradaban yang kedua.

Saya mengira Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah adalah Masjid Nabawiy. Ternyata bukan.

Ialah Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun sendiri oleh Kaum Muslimin. Bahkan masjid ini disebut oleh Allah:

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasat taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yanag ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang  paling bersih.” –QS. At-Taubah : 108

Pun bahkan, Rasulullah sendiri yang bersabda:

“Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumaahnya. kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, baginya sama dengan pahala umrah.” –HR. Sunan Ibnu Majah 1412.

Masya Allah… Inilah keutamaan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah.

Kemudian barulah Masjid Nabawiy. Dibangun diatas sebidang tanah dimana unta Rasulullah SAW, Al-Qashwa, berenti dan duduk diatasnya. Sebidang tanah ini milik dua anak yatim dari kaum Anshar, yang mana mereka berdua berada dalam asuhan As’ad bin Zurarah. Rasulullah pun menanyakan berapa harga tanah tersebut, karena beliau hendak membelinya untuk dibangun Masjid diatasnya. Namun kedua anak tersebut menolak, mereka tak mau menjual tanahnya melainkan menghibahkannya.

Sepuluh dinar, adalah angka yang Rasul bayarkan—walau pada mulanya sang pemilik bersikeras menghibahkannya, namun Rasul pun bersikeras pula membayarnya. Diatas tanah itu, kemudian terbentanglah masjid yang seratus hasta panjang dan lebarnya. Dibangun dengan dinding batu bata bercampur lumpur tanah, atapnya dari daun kurma, tiangnya dari batang pohon, dan tanahnya ditimbun dengan kerikil dan pasir. Kala itu, kiblat masih menghadap pada Baitul Maqdis. Inilah masjid yang Rasulullah bangun dengan tangannya sendiri, dan tangan-tangan kaum Muslimin.

Allahumma Ya Allah! Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin,” –doa Nabi Muhammad SAW setelah merampungkan pembangunan masjid.

Maka marilah kita hayati betapa besar urgensi Masjid atas pilar peradaban. Hadirnya adalah syarat utama dalam masyarakat Islam. Takkan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan Islam. Tentu saja, kesemuanya takkan muncul tanpa hadinya semangat masjid.

Adalah semangat kebersamaan dan keadilan, barangkali, yang menjadi salah satu motivasi terbesar dalam membangun pilar-pilar peradaban. Dan semangat ini, semangat kebersamaan dan keadilan, tentu akan tumbuh subur manakala setiap Muslimin bertemu lima kali dalam sehari, dalam satu shaf di hadapan Allah seraya bersama-sama berdiri dengan satu tujuan yang sama: menghambakan diri kepada Allah.

 

Inilah dua dari lima pilar-pilar peradaban. Berturut-turut pilar peradaban selanjutnya adalah Piagam Madinah, Pasar, dan Peneguhan Syiar Ibadah. Insya Allah materi berikutnya akan bersambung di Majelis Jejak Nabi bersama Ustadz Salim A Fillah. Doakan saya bisa hadir ya, supaya bisa menulis resumenya disini🙂

 

P.S. :

Dalam mendengar ceramah Ustadz Salim, ada beberapa yang miss di pendengaran dan catatan, saya buka-buka beberapa sumber rujukan, Alhamdulillah ada disini. Daftar pustaka:

  1. Ar-Rahiq Al-Maktum, Dilengkapi tahqiq Al-Albani. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Ummul Qura.
  2. Sirah Nabawiyah. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. Penerbit Robbani Press.
  3. Sirah Nabawiyah. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Pustaka Al-Kautsar.
  4. Dalam Dekapan Ukhuwah. Salim A Fillah. Penerbit Pro-U Media.

3 thoughts on “Pilar-Pilar Peradaban

  1. MasyaaAllah, terima kasih ya, Mbak… sudah tulis ini dalam bentuk transkrip. Berguna sekali, apalagi buat yang ndak hadir🙂 ditunggu sambungannya ♥ Jazakillaahu khar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s