Islam

Filsafat Islam

Pertemuan Kedua SSPI (Sekolah Sejarah dan Peradaban Islam)

Materi oleh Adnin Armas, MA.

Diresume oleh Shahfira Alif Asmia

IMG-20151213-WA0000

Sumber gambar

Adalah Filo, yang berarti cinta; dan Sofia, yang berarti kebijaksanaan, yang ketika bersatu maka artinya adalah cinta pada kebijaksanaan. Cinta pada kebenaran. Cinta pada hikmah. Itulah asal muasal dari kata Filosofi.

Filosofi—atau filsafat, kita biasa menyebutnya—konon kabarnya menjadi induk dari segala ilmu. Ia lah yang melahirkan berbagai macam ilmu yang kini berkembang di berbagai belahan dunia. Tak terbatas pada jenis keilmuannya, baik ilmu eksak maupun ilmu sosial, filasafat lah yang menjadi ibu kandungnya.

“Apa itu waktu? Apa itu sekarang? Sekarang adalah kapan? Sekarang bukan sekarang?”

Sekilas, bagi orang awam seperti saya, pertanyaan semacam itu hanya akan buang-buang energi saja. Tidak penting. Tidak berguna. Tapi eits, janganlah ketidaktahuan kita membuat kita mengerdilkan sesuatu. Pun filsafat. Hanya karena kita tidak tahu—dan bahkan tidak terlalu ingin tahu—maka kita menganggapnya tidak penting.

Sejujurnya, saya adalah bagian dari orang-orang yang menyepelekan Filsafat. Bagi saya, mereka yang menempuh bangku kuliah dengan jurusan filsafat adalah orang-orang yang tidak diterima di jurusan yang mereka mau, atau memang mereka memilih jurusan itu, hanya karena jurusan itu tidak terlalu banyak peminatnya. Yang penting kuliah. Karena bagi saya, tidak ada gunanya belajar filsafat. Toh, tanpa tahu filsafat, saya masih bisa makan dan hidup sampai detik ini. Astaghfirullah. Maka celakalah saya, saya mengerdilkan sesuatu hanya karena kebodohan saya.

Bisa jadi, beratus-ratus tahun yang lalu, dibawah rindangnya sebuah pohon, seorang Isaac Newton tengah bertanya-tanya,

“Kenapa apel ini jatuh? Kenapa sesuatu bisa jatuh? Apa itu jatuh?”

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin, saat itu bagi kita—atau saya—hanya akan ditimpali dengan kalimat, “yaelah gitu aja dipikirin, bro. Ga penting. Yang penting apel jatuh, kita makan, kita kenyang.”

Sesuatu yang tidak penting seperti itu toh pada akhirnya terbukti melahirkan Teori Gravitasi yang membawa maslahat untuk penduduk dunia. Untuk dunia fisika, untuk bangunan-bangunan yang kita huni—rumah, jalan, jembatan. Betapa tidak pentingnya bertanya-tanya tentang apel yang jatuh, dan betapa sungguh pentingnya teori gravitasi untuk dunia saat ini. Sesuatu yang kontradiktif bukan?

Pun jika saat ini ada seseorang yang tengah merenung dan bertanya, apa itu sekarang? Kapan itu sekarang? Sekarang bukan sekarang? Barangkali suatu saat nanti, dia akan menciptakan mesin jelajah waktu. Siapa yang kelak akan tahu?

***

Namanya Abu abdullah Muhammad ibn Umar al Husain ibn al Hasan ibn Ali At Taimy al Bakhri. Beliau adalah seorang teolog, imam tafsir, dan pujangga agama yang paling besar dizamannya. Ia amat dalam urusan ilmu umum dan juga syari’at. Beliau juga seorang pengamat perkembangan pemikiran, sosial dan kehidupan masyarakat, serta banyak menulis tentang matematika, ilmu pengetahuan alam, disamping tafsir dan masalah keagamaan lainnya. Fakhruddin Ar-Razi, adalah begitu umat pada zamannya menyebutnya. Fakhruddiin—kebanggaan agama. Sosok macam apa yang bahkan diberi julukan sedahsyat itu, kebanggaan agama?

Ialah yang mengatakan bahwa ilmu yang “rendah” adalah ilmu pengetahuan alam, dan ilmu yang “tinggi” adalah metafisika. Dalam konteks ini, agama—sebuah pengetahuan tentang Pencipta Alam semesta, sesuatu yang ghaib, adalah termasuk metafisika.

Saya tiba-tiba jadi teringat Almarhum guru fisika SMA yang pernah memuji kawan saya,

“matematika adalah dasar, satu kali mikir. Fisika, adalah kelanjutannya, dua kali mikir. Dan astronomi, adalah kelanjutannya lagi, tiga kali mikir. Itulah kenapa saya milih kamu untuk Olimpiade Astronomi, karena cuma kamu yang jenius di kelas ini.”

Masya Allah, kami semua saat itu langsung sadar diri. Tidak mungkin kami bisa memahami fisika kalau matematika saja tidak bisa. Boro-boro astronomi. Sederhananya begitu.

Pun dengan filsafat—sesuatu yang tidak tampak, ghaib, penuh dengan misteri dan ketidak-tahuan. Seorang Adnin Arnas pun menyayangkan mengapa mahasiswanya di Filsafat UI mayoritas adalah mereka yang tidak diterima di jurusan lain, atau sengaja memilih filsafat hanya karena sedikit saingan. Bagaimana mungkin seseorang yang “tidak terlalu pandai” bisa memahami dan mengerti ilmu yang tingkat tinggi? Ilmu yang bahkan levelnya diatas kedokteran, diatas teknik elektro-informatika-nuklir-geologi dan semacamnya. Ibu dari segala ilmu. Bagaimana bisa?

Pun dengan Filsafat. Mempelajari filsafat sebagai seorang muslim, tentu menjadikan kita harus sudah selesai dengan perkara-perkara aqidah. Alquran dan hadist sudah kita pahami dengan baik, sudah mengakar dalam urat nadi kita. Sehingga ketika kita mengalami pergulatan didalam filsafat, kita tidak tersesat, kita bisa mengurai jalan keluar hingga menemukan jawabannya. Sesuai Alquran dan sunnah.

“Kalau ingin belajar filsafat, maka jangan pernah belajar filsafat dari Barat! Mereka rusak, jangan dicontoh, jangan dipelajari bahkan, biar kita ga ikut rusak!” –Adnin Armas, MA.

Filsafat Barat hanya melulu tentang logika. Logika adalah dasar dari segalanya—tapi bukan berarti kita menuhankan logika. Ia adalah dasar, yang kemudian darinya kita berangkat menuju ilmu pengetahuan alam. Dari ilmu pengetahuan alam, kita kemudian beranjak kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu metafisika. Ilmu tentang hakikat. Jika sejak dalam tataran logika saja sudah salah, maka akan terus beruntun salah.

Itulah mengapa, jangan pernah pisahkan Islam ketika belajar filsafat. Seliar apapun pertanyaan yang muncul dalam benak kita, jadikan Alquran dan sunnah sebagai tuntunan yang mengantarkan jawabannya.

 

Kemudian muncullah sebuah pertanyaan yang menelisik tajam.

Adalah Ibn Sina—ilmuwan Islam yang begitu masyhur namanya—belakangan dianggap kafir karena pernyataan filsafatnya kurang lebih; Alam ini tidak bermula dan tidak berakhir.

Kalimat itulah, yang kemudian oleh Imam Al-Ghazali, dijadikannya salah satu alasan mengapa beliau menganggap Ibn Sina adalah seorang yang telah keluar dari Islam.

Dari partanyaan tersebut, bermunculan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Apakah Imam Al-Ghazali dan Ibn Sina hidup sezaman? Apakah benar kalimat itu telah mengeluarkan Ibn Sina dari agamanya? Siapa sesungguhnya yang mengenal Ibn Sina sehingga bisa memberikan pernyataan apakah benar beliau telah kafir, atau sesungguhnya hanya ada masalah khilafiyah saja dalam pernyataan tersebut?

Maka disebutlah nama Fakhruddin Ar-Razi, yang menulis setiap buku penjelasan dari buku yang ditulis oleh Ibn Sina. Beliau lah yang menulis kitab syarah atas semua kitab Ibn Sina. Setiap bukunya, setiap halamannya, bahkan setiap baris kalimatnya. Fakhruddin Ar-Razi lah yang menuliskan syarahnya.

Dan bahwa Fakhruddin Ar-Razi adalah seorang mufassir, ahli tafsir, yang mempelajari setiap detail tulisan Ibn Sina. Beliau saja, yang memang dengan sengaja mempelajari kitab-kitab Ibn Sina, beliau tidak menganggap Ibn Sina kafir atas kalimatnya.

Pun dengan Ibn Rusyd, seorang hakim syariat pada masanya, beliau yang hidup sezaman dengan Ibn Sina pun tidak mengkafirkan beliau atas kalimatnya tersebut. Jadi cukuplah kita percaya pada dua orang Ulama yang amat tinggi ilmunya dibanding kita. Bahwa kita tetap mengedepankan husnudzon (berbaik sangka) bahwa Ibn Sina tidaklah murtad dari agamanya karena kalimatnya tersebut.

Kalimatnya, bahwa Alam tidak bermula dan tidak berakhir tidak lain adalah sebuah kalimat yang lahir dari pemahaman beliau akan filsafat islam. Yang mana—seperti dibahas diatas—ini adalah ilmu tingkat tinggi yang tidak sembarang orang mampu memahaminya. Apalagi kita.

Lantas apakah ulama sekaliber Imam Al-Ghazali diragukan keilmuannya?

Bukan pula seperti itu. Setiap ulama adalah mulia di sisi Allah karena ketinggian ilmu dan pemahamannya. Dan kita wajib menghormainya, bahkan meneladaninya. Tapi dalam beberapa hal, kita manusia akhir zaman yang penuh kelalaian, cukuplah kita berhusnudzon dan berbaik sangka, bahwa ini hanyalah khilafiyah yang tak banyak mempengaruhi keimanan kita. Allahu’alam bisshowab.

 

(NB: Untuk masalah terkait Ibn Sina yang dianggap kafir dengan beberapa alasan seperti syiah dan mu’tazilah, Ust Adnin Arnas memiliki jawabannya sendiri dan disampaikan pada pertemuan yang sama dengan pertemuan tentang Filsafat Islam ini. Insya Allah saya posting nanti yaa)

7 thoughts on “Filsafat Islam

  1. Assalamu’alaikum…

    Masha Allah, begitu cepat pemikiran saudari. Hingga dapat mencerna dari materi yg belum saya selesaikan.

    Jika saudari berkenan, bolehkah saya mengambil atau bisa dibilang meminta izin untuk mengambil kata-kata(ilmunya) yg mau saya jadikan bahan tugas juga.

    Saya butuh dengan secepatnya, jika saya tidak dizinkan, mohon maaf atas pengambilan ilmunya tanpa izin, dan jika diizinkan. Semoga Allah Ta’ala memudahkah segala urusan saudari.

  2. Ilmu pengetahuan itu dialektis, sebuah tesis akan menemui antitesisnya, sampai pada satu sintesis tertentu-yang juga menjadi tesis baru-dan pada akhirnya akan mendapat antitesis lagi, terus begitu. Pun dengan filsafat, dia berkembang bersama pemikiran manusia di zamannya. Aku kurang setuju dengan pandangan ustadz Arnas yang begitu anti terhadap filsafat barat. Jika dalam pikiran saja kita tidak bisa berlaku adil, bagaimana kita bisa adil dalam perbuatan?
    Sederhananya, jika kita tidak sepakat dengan ide tokoh filsafat barat, maka mari mencari antitesisnya dalam filsafat islam. hehe

    1. Apa yang Ustadz Adnin Armas sampaikan itu cocok untuk orang-orang sepertiku, yang tidak paham apa itu filsafat, dan tidak terlalu tertarik juga sebenarnya, pun belum kokoh dalam pemahaman Alquran dan sunnah. Hafalan Quran hanya satu-dua ayat, hadis apalagi. Belajar filsafat pada Barat hanya akan membuatku bertambah “sesat.” Maka apa yang disampaikan beliau untuk menjauhi Filsafat Barat adalah cocok untukku.

      Sedang apa yang antum sampaikan, adalah cocok untuk mereka yang memang sudah selesai dalam hal aqidah, Alquran dan hadist sudah paripurna. Ia kokoh dalam syariat, dan memang memiliki keinginan untuk belajar Filsafat demi kemaslahatan. Nah, bagi yang seperti ini, barangkali cocok dengan apa yang antum sampaikan. Mungkin antum sudah layak di barisan orang-orang ini, sedang butiran debu sepertiku jelas bukan bagian barisan disini.
      Mungkin begitu😀

      Btw agak excited melihatmu mampir kesini, it’s been a loooong time, ya Pak. Gimana kabarmu? Semoga makin cetar membahana :p

    2. Koreksi @Penunggu Hujan. Apakah anda muslim!
      Jika anda muslim pastinya anda akan sepaham dengan Ustadz Adnin A.

      Jika anda mengikuti Filsafat barat, cukuplah dikatakan “menyimpang” jika itu jauh dari Sudut Pandang Islam.

      Bukankah Nabi saw, mengajarkan bahwa ada 3 hal yg paling berbahaya didunia ini, salah satunya adalah Akal Pikiran. Kenapa Akal Pikiran !

      Karena jika salah dalam berpikir maka fatal. Itu karena orang yg kena “penyakit” akal pikiran itu tidak sadar yg ia rasakan bahkan dapat menghancurkan sebuah generasi bangsa. Khususnya generasi Islam.

      Jika kita menggunakan akal pikiran yg melampaui batas atau yg jauh dari sudut pandang islam. Maka tidak lain itu pemikiran dari Syaiton yg membawa dalam kesesatan. Wallahu’alam.

      Semoga Allah menjauhkan kita dari keburukan itu.

  3. Saya termasuk yang terlambat memahami filsafat dengan alasan kurang lebih sama dengan Fira. Filsafat kadang jadi ilmu yang seru, meski jadi berpikir kriting kalau jauh diluar logika kebiasaan.

    oiya, kalau dulu pernah baca Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam tulisan Ust Adian Husaini, Filsafat Barat ditolak ketika bertentangan dengan nilai-nilai islam. Artinya, ketika bisa memfilter maka belajar filsafat ala barat pun tak menjadi masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s