Islam

Islamisasi Penulisan dan Pengajaran Sejarah

Pertemuan Pertama SSPI (Sekolah Sejarah dan Peradaban Islam)

Materi oleh Dr. Tiar Anwar Bachtiar

Diresume dan ditulis ulang oleh Shahfira Alif Asmia

IMG-20151204-WA0008

Mula-mula kita tahu bahwa Islam pernah jaya dan menjadi pusat peradaban dunia. Sederhananya, seperti kita masyarakat Indonesia dan dunia yang berbondong-bondong mempelajari Bahasa Inggris agar tak ketinggalan jaman, juga fashion yang berkiblat pada Eropa seperti Prancis dan Italia, pun dengan berabad-abad yang lalu. Seluruh penduduk dunia, utamanya orang-orang Barat dan Eropa, berbondong-bondong mempelajari Bahasa Arab, mereka bahkan meniru gaya berpakaian muslim yang cenderung memakai gamis dan baju yang longgar. Mereka menirunya, persis seperti kita meniru mereka saat ini.

Lantas mengapa kini keadaan seakan berbalik 180 derajat?

Bangsa-bangsa Yahudi dan Nasrani berguru pada ulama-ulama dan ilmuwan Islam. Sebut saja Ibnu Rusyd atau Averrous ahli histologi asal Cordova (Spanyol), atau juga Ibnu Sina atau Avicenna yang kini dijuluki Bapak Kedokteran Dunia, atau Alfarabi seorang filsuf asal Kazakhstan. Serta masih banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang mendunia. Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi paling masyhur di dunia pun saat itu adalah milik umat Islam. Berkembang begitu pesat di Spanyol, Islam begitu Berjaya, hingga membuat bangsa-bangsa Yahudi dan Nasrani begitu giat dan rajin menuntut ilmu, demi meniru kaum muslimin saat itu.

Pada masa inilah, Islam begitu gemilang memimpin peradaban.

Sedikit demi sedkit, bangsa-bangsa Barat pun belajar. Mereka mulai menggeliat bangkit. Ilmu pengetahuan berkembang. Hanyasaja, dominasi gereja tak terelakkan. Barangsiapa menemukan pengetahuan baru yang tak direstui gereja, maka hukum pancung menantinya.

Sebut saja Gelileo Galilei, pendukung teori heliocentric dari Copernicus, yang menyatakan bahwa pusat galaksi bukanlah bumi melainkan matahari. Pedapatnya itu ditentang begitu keras oleh gereja, dan pada akhirnya kita tahu bahwa Galileo Galilei kemudian dibunuh.

Lantas pada abad 15 kita mengenal Reinnesance, yang kita tahu dari buku-buku, masa kebangkitan bangsa-bangsa Eropa. Ilmu pengetahuan berkembang, sekaligus muncul penolakan-penolakan terhadap otoritas gereja.

Apa pasal? Bangsa-bangsa Eropa begitu ingin maju dan berkembang seperti Umat Muslim. Mereka ingin men-copy-paste orang-orang Islam yang begitu kaya akan pengetahuan, dan juga begitu kaya akan keimanan. Namun, keadaan berbeda, gereja tak sama dengan Islam. Mereka bertolak belakang, Islam begitu mendukung kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sedang gereja dengan otoritas dan dominasinya, begitu menghambat ilmu pengetahuan. Untuk apa? Gereja ingin mempertahankan kekuasaannya yang mutlak dan absolut, ia tak ingin ilmu pengetahuan berkembang karena itu akan mengusik kekuasaannya.

Lantas pada abad 17, terbitlah reformasi gereja, dan kaum nasrani terpecah menjadi dua. Protestan dan Katolik. Di saat yang sama, zaman Aufklarung (pencerahan) bangkit dan ilmu pengetahun meningkat drastis. Susul menyusul kemudian, berturut-turut di abad ke 18, pecahlah Revolusi Prancis, yang menghancurkan aristocrat dan memunculkan negara-negara kecil. Serta Revolusi Industri di Inggris, yang melahirkan banyak pabrik-pabrik dan melejitkan perekonomian. Dan disaat yang sama, Revolusi Industri mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk berkelana keliling dunia, mencari bahan-bahan mentah, demi cerobong industri agar terus mengepulkan asapnya.

 

Sebuah rahasia umum, bahwa bangsa-bangsa Eropa amat takut pada kaum Muslimin kala itu. Hingga mereka diam-diam memikirkan cara, bagaimana mengalahkannya. Beratus-ratus kali perang pecah, serangan demi serangan tak lelah. Namun Islam tetap kokoh dan Umat Muslim makin kuat. Hingga akhirnya mereka sadar, Islam tak mungkin dikalahkan dengan sejata. Islam hanya akan kalah, ketika umatnya jauh dari ilmu dan iman.

Maka dimulailah strategi baru, bukan lagi menantang perang, namun menghancurkan sendi-sendi pengetahuan. Pada abad 17 dan 18,  berpuluh-puluh Perguruan Tinggi di dataran Spanyol dihancurkan. Para ulama pun lari ke berbagai belahan bumi, sebagian besar bertahan di Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, Libya, dan sekitarnya. Sebagian lagi pergi ke Mesir. Dan beberapa bahkan ke Indonesia.

Ah ya, Indonesia. Negeri yang kini menjadi tanah kita berpijak dan bernafas, dengan segala dilema yang kini mendera, Indonesia pernah menghasilkan ulama-ulama kelas dunia.

Tersebutlah Syaikh Imam An-Nawawi Al Bantani, yang berasal dari Banten, beliau adalah ulama yang begitu masyhur akan kecerdasannya. Beliau dipilih menjadi Imam Masjidil Haram di Makkah. Beliau pula yang melahirkan ulama-ulama yang kelak membumikan nusantara dengan Islam, murid-muridnya tak lain adalah KH. Kholil Madura, KH. Asnawi Kudus, KH. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dan KH. Hasyim Asy’ari Jombang.

Juga seorang ulama masyhur asal Padang Sumatera Barat, Syaikh Yasin Al-Padani. Seorang ulama pemegang sanad hadist, seluruh muhaddist di segala penjuru dunia harus berguru pada beliau terlebih dahulu untuk mendapatkan sanad hadist.

Ada begitu banyak ulama-ulama lain yang lahir dan berkembang di Indonesia, menyuburkan tanah-tanah nusantara dengan iman dan Islam. Yang kelak, menjadi orang-orang pertama dan utama yang menentang penjajahan.

Kemudian kita tahu, mata rantai keilmuan dan keimanan ini diputuskan oleh kolonialisme. Bangsa-bangsa barat yang berkeliling dunia mencari bahan mentah, pun berniat memupus habis benih-benih Islam di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, mereka datang dan mendoktrin agar kaum santri dipinggirkan. Dianggap ndeso dan kampungan. Belakangan kita paham betul bahwa kaum santri lah yang menjadi ujung tombak kemerdekaan Indonesia. Kaum santri lah yang menjadi garda terdepan membela Indonesia dan mengusir penjajah. Hanyasaja kita luput memahami, bahwa ternyata sejarah tak memihak kaum santri. Tak pernah tersebut dalam buku-buku sejarah di sekolah di seluruh Indonesia, bahwa kaum santri lah pahlawan Indonesia yang sesungguhnya.

 

Di belahan bumi lain, bangsa-bangsa Barat dan Eropa—setelah mengahancurkan perguruan tinggi-perguruan tinggi milik Kaum Muslimin di Spanyol—ia lantas membangun pendidikan model mereka sendiri. Berangkat dari kekecewaan mereka yang mendalam atas dominasi gereja, dan betapa gereja sungguh menghambat tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan, serta atas dasar niat untuk mengalahkan dan menghancurkan kaum muslimin, mereka membangun konsep pendidikan yang dianggap paling dahsyat, paling benar, paling bagus, paling modern. Konsep pendidikan selain milik mereka adalah salah, tidak bagus, dan tidak benar.

Model pendidikan yang mereka ciptakan adalah sekulerisme.

Pada hakikatnya sekulerisme bukanlah gerakan pendidikan, ia adalah gerakan politik yang lahir atas dasar kekecewaan. Paham-paham politik yang mulanya beraliran theosentrisme, kemudian bergeser menjadi antroposentrisme. Paham yang mengusung bahwa pengetahuan tak lagi berpusat pada agama, melainkan berpusat pada manusia. Sehingga zaman itu, seakan ada dua kubu yang saling berseberangan dan bertolak belakang. Kubu gereja, dan kubu ilmuwan.

Kesakit-hatian membawa kubu ilmuwan menciptakan antroposentris sebagai jalan hidupnya, menolak intervensi agama, dan melahirkan ilmu-ilmu yang sekuler.

Apa gerangan ilmu yang sekuler? Ialah ilmu yang nihil agama. Ilmu yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Dan sayangnya, ilmu inilah yang kemudian dikembangkan di seluruh dunia.

Apa kabar dengan kaum muslimin? Pasca jauhnya kaum muslimin dari ilmu, pun semakin jauh juga kondisi keimanannya. Perlahan-lahan, kedigdayaan kaum muslimin yang masyhur dan disegani diseantero dunia itu pun terkikis. Peradaban dunia bergeser menjadi milik Barat dan Eropa. Dan ilmu pengetahuan mereka, ilmu pengetahuan sekuler yang nihil agama, kaum muslimin sedikit demi sedikit mengikutinya. Inilah kemudian yang menghancurkan umat Islam.

 

Pengetahuan yang pertama-tama diintervensi oleh Barat dan Eropa adalah sejarah. Mereka memotong fase ghaib ke fase dzahir. Sebut saja Charles Darwin dengan teori Evolusinya. Atau Teori Bigbang yang menjelaskan penciptaan alam semesta. Tidakkah kita curiga? Mengapa teori-teori itu begitu enggannya mengakui adanya Dzat yang menciptakan kita semua. Mengapa teori-teori itu terasa sekali “cocoklogi”-nya. Karena ilmu sekuler tak kenal fasa ghaib, ia hanya kenal fase dzahir.

Salah satu impact dari berkembangnya penulisan sejarah oleh Barat dan Eropa adalah pertanyaan sederhana ini: Kapankah zaman kejayaan Islam? Kapankah masa terhebat yang pernah Islam alami?

Berebut kita menjawab bahwa zaman kejayaan, zaman keemasan, zaman yang paling gilang-gemilang menakjubkan adalah zaman Daulah Bani Abbasiyah. Nah, justru disinilah, jawaban semacam ini yang menunjukkan bahwa secara tidak sadar, kita pun mengikuti doktrinasi sekulerisme Eropa dalam hal sejarah.

Tentu saja salah besar, zaman kejayaan Islam bukanlah zaman yang diukur dari kekayaan yang melimpah, atau luasnya daerah cakupan, atau kemajuan-kemajuan lainnya yang secara duniawi. Eropa sengaja mereduksi makna kejayaan, mereduksi makna kegemilangan, menjadi hanya terpatok pada ukuran-ukuran dunia, standar-standar materialisme.

Zaman kejayaan Islam yang sesungguhnya, tentu adalah Zaman Rasulullah dan para shahabat. Zaman dimana iman begitu membuncah di dada, zaman dimana Islam begitu murni dan tak terpecah-pecah. Dan zaman inilah yang bahkan dikukuhkan dalam QS. At-Taubah: 100.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

Pun dalam Shahih Bukhari No. 3650, Rasul bersabda:

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya) lalu orang-orang yang setelah mereka.”

Demikianlah, munculnya superioritas Barat dan inferioritas non-Barat dan muslim, seakan menjadikannya berhak untuk mengubah sejarah Islam. Seperti saat ini, sejarah Islam yang dimunculkan adalah tentang kekalahan, kekalahan dan kekalahan. Keburukan, keburukan, dan keburukan. Bahwa Islam mengajarkan kekerasan alih-alih jihad fii sabilillah. Bahwa Islam mengekang perempuan alih-alih memuliakannya. Begitulah.

Lantas mari kita tengok bagaimana nasib sejarah Islam di Indonesia. Bahwa sudah disinggung sebelumnya, Barat begitu enggannya mengakui bahwa ia diusir oleh kaum santri dan ulama-ulama di Indonesia. Bahwa tidak pernah sekalipun kita jumpai dalam buku-buku sejarah yang pernah kita baca, keutamaan-keutamaan Raja-Raja dari Kerajaan Islam dibandingkan dengan Raja di Kerajaan Hindu. Yang selama ini dielu-elukan adalah Kerajaan Majapahit yang konon katanya memiliki cita-cita untuk menyatukan Nusantara. Benarkah impiannya menyatukan Nusantara? Bukan menyerang, menduduki, kemudian menjadikannya daerah kekuasaan?

Konsepsi Kerajaan Islam di Indonesia tak mendapat tempat bagi sejarah negeri ini. Padahal dengan nyata sekali, kerajaan-kerajaan Islam menyelamatkan rakyat dari jenis penghambaan yang diterapkan dalam Kerajaan Hindu. Dalam Kerajaan Hindu, Raja disembah, ia adalah titisan dewa, dan rakyat adalah hamba. Bertolak belakang dengan Kerajaan Islam yang mana Raja adalah pemimpin, bukan dewa, dan ia tak patut disembah.

Pun dalam hal kemenangan-kemenangan Indonesia. Islam dan para santri nyaris tak mendapat tempat sedikit pun. Pahlawan-pahlawan Islam sekaliber Cut Nyak Dien, Cut Meutia, yang dengan nyata secara jiwa dan raga turun ke medan perang memimpin pasukan dan mengangkat senjata, toh tak dijadikannya sebagai figure pahlawan yang digembar-gemborkan. Justru Kartini, yang barangkali ketika disandingkan dengan Cut Nyak Dien, ia hanya mengirim surat saja. Ia tak mengangkat pedang, ia tak turun memimpin pasukan, ia justru berkawan dengan Nyonya-Nyonya Belanda. Tapi namanya teramat harum melanglang buana. Tidakkah kita curiga? Mengapa begitu enggannya mereka menyebut kebaikan-kebaikan kita dalam sejarah?

(Bersambung, insya Allah. Tunggu pertemuan selanjutnya yaa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s