Keluarga

Hari-Hari Terakhir : Vonis Perdarahan Otak

Kematian memang sebuah keniscayaan. Walau seringkali kita menjumpai, ia lebih banyak menghampiri mereka yang sudah senja. Tapi toh kita pun tahu, bahwa syarat mati bukanlah tua. Ia bisa datang kapan saja, di usia berapa saja, dengan pertanda berupa sakit ataupun tidak. Begitu tiba-tiba.

Dan Hafsha serta Falah, adalah contoh nyata bagi saya dan suami. Bahwa sungguh, kematian amatlah dekat dengan kita lebih dari apapun..

 

Usianya 40 hari saat Falah mulai rewel dan perutnya kembung. Tidak mau diletakkan di kasur sama sekali, maunya digendong saja sepanjang hari. Keesokan harinya, usia 41 hari, pagi-pagi sekali Falah sudah ceria dan mau tidur di kasur. Semalaman pun tidak rewel dan penurut seperti biasa. Tiba-tiba saja, sekitar jam tujuh pagi, persis setelah minum susu (memang sengaja saya banyakin minum susunya karena kemarin ketika rewel, Falah tidak banyak minum susu) dan tertidur sekitar 10 menit, Falah bangun dan muntah banyak. Banyak sekali hingga bajunya basah kuyup. Muntah susu. Saya pikir kekenyangan. Tapi begitu selesai muntah, Falah langsung pucat dan lemas. Saya bawa ke dokter saat itu juga. Need  a highlight: saya bawa ke dokter saat itu juga.

Berapa kali muntah? Sekali.

Kapan? Barusan.

Diare? Enggak.

Panas? Enggak juga.

Rewel? Iya, seharian kemarin kembung, tapi semalam sudah enakan.

Minum susu? Lancar, banyak. Bahkan, jika saya boleh pamer sedikit, berat badan Falah di usianya yang 40 hari adalah 5 kg. Iyap, lima kilo. Berat nya ketika lahir termasuk normal 3,3 kg. Bagaimana mungkin kami tidak senang, dalam 40 hari Falah yang doyan minum susu ini naik 1,7 kg.

Jadilah dokter menyimpulkan, mungkin ada masalah pencernaan. Mungkin saya yang sudah harus mengurangi makan sambal supaya Falah tdk kenapa-kenapa.

Siang. Sore. Di hari yang sama. Falah tetap rutin doyan minum 2 jam sekali, pipis dan pup pun masih sama dan masih bagus bentuknya normal. Obat yang diberikan sudah diminumkan tapi Falah semakin pucat dan semakin lemas. Hingga maghrib datang dan kami tak sabar karena tak ada kemajuan. Bada sholat maghrib, persis ketika kami hendak ke dokter lain, Falah kejang. Kami langsung melarikannya ke rumah sakit. Di rumah sakit, Falah di diagnosa anemia dan dehidrasi. Karena ia sangat pucat dan sangat lemas. Anemia? Falah bahkan masih rutin dijemur hingga usia sebulan dan ketika imunisasi pun ia baik-baik saja. Dokter menyarankan transfusi darah dan entah kenapa—saya hanya memeluk menggendong Falah dan Ibu yang mengurus administasi—dokter merujuk kami ke RSSA Malang.

Begitu masuk ruang UGD RSSA Malang, Falah sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Seketika Falah dipasangi berbagai selang dan kabel dan infus. Saya dulu sempat melihat anak saya Hafsha dengan banyak sekali selang dan infus. Tapi Falah, ada lebih banyak selang kabel infus yang menempel di tubuhnya. Jangan ditanya seperti apa perasaan saya saat itu. Dunia roboh dan runtuh. Saya sedih dan marah. Saya menyesal kenapa saya melahirkan di Pasuruan, kenapa saya tidak melahirkan di Jakarta dengan dokter dan rumah sakit yang lebih bagus. Saya marah pada-Nya karena saya pikir Falah adalah hadiah, pelipur yang dikirim-Nya bagi saya karena kehilangan Hafsha. Tapi kenapa Ia ambil juga? Astaghfirullah… Astaghfirullahaladzim.. Ampuni hamba ya Rabb😥😥

Hasil tes darah keluar dan Falah dinyatakan defisiensi vitamin K. Vitamin K dibutuhkan oleh tubuh untuk fungsi koagulasi (pembekuan darah). Vitamin K inilah yang menjadi unsur penting dalam fibrinogen dalam darah, sehingga ketika ada luka, darah yang merembes keluar segera membeku. Jika vitamin K ini tidak ada, maka fungsi pembekuan darah tidak bisa berjalan normal. Hasilnya tentu, ketika ada luka kecil saja, darah tidak bisa berhenti mengucur. Jika terjadi luka di luar tubuh, tentu akibatnya adalah kekurangan darah karena darahnya terus keluar. Jika terjadi luka di dalam tubuh, akibatnya adalah terjadinya penumpukan darah yang menyebabkan organ-organ di dalamnya tidak bisa bekerja maksimal.

Tidak ada luka di badan Falah, tapi ada luka di bagian dalamnya.

Apa yang menyebabkan “penumpukan darah” bisa membuat drop hingga Falah kejang dan anemia?

Penumpukan darah ini terjadi di otak. Iya, Falah mengalami pendarahan otak.

 

Semua bayi-bayi di seluruh dunia dilahirkan dalam keadaaan kekurangan vitamin K. Ketika di dalam kandungan, bayi mendapat asupan vitamin K dari ibunya. Sedangkan bayi baru lahir tidak dapat memproduksi sendiri vitamin K hingga usianya satu tahun. Karena itulah, persis ketika lahir, bayi harus segera mendapat suntik vitamin K.  Ini adalah prosedur resmi yang dilakukan dimana pun ibu bersalin, baik di bidan, puskesmas, atau rumah sakit.

Apakah Falah mendapat suntik vitamin K saat lahir? Iya. Falah lahir sesuai prosedur. Ia lahir normal, suntik vitamin K, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan imunisasi. Kami bukan golongan anti-vaksin atau sejenisnya, bahkan kami sangat pro dengan berbagai tindakan preventif.

Lantas bagaimana bisa pendarahan otak? Jawabannya, hanya Allah yang tahu.

Pada dasarnya, tubuh bayi masih rapuh dan rentan. Pun dengan pembuluh darah di otaknya. Kemungkinannya, pembuluh darah di otak sensitive terhadap goncangan sehingga, goncangan kecil pun (seperti ditimang-timang ketika menidurkan bayi) sudah bisa membuat pembuluh darahnya pecah.

Apakah pembuluh darah di otak pecah saat ditimang adalah hal yang wajar? Iya. Sekali lagi, bayi memang rentan dan organnya masih rapuh. Setiap ada goncangan, hampir dapat dipastikan bahwa pembuluh darahnya pecah. Namun, jika fungsi pembekuan darahnya normal, maka pembuluh darah yang pecah ini dengan segera membeku sehingga tidak banyak darah yang merembes keluar. Dan, otak pun memiliki peran otomatisnya untuk menyerap kembali darah yang tercecer ini. Namun, fungsi otomatis otak ini hanya mampu menyerap sedikit darah yang merembes.

Hal ini adalah normal dan sering terjadi pada bayi:

Ditimang-timang –> kepala bergoncang  –> pembuluh darah pecah –> darah membeku dan menutup luka –> darah yang merembes sedikit –> otak menyerap kembali rembesan darah –> semua baik-baik saja.

Yang membuat Falah tidak baik-baik saja adalah, darahnya tidak segera membeku ketika pembuluh darah pecah, sehingga darah yang merembas ada banyak, dan tidak semua darah yang merembes itu mampu diserap kembali oleh otak. Sedangkan hal ini terjadi berulang tanpa kami sadari, darah yang merembes itu pun sedikit demi sedikit menumpuk di otaknya. Dan kemudian, di titik dimana pendarahannya sudah berat, Falah collaps.

Masih menjadi pertanyaan besar bagi saya. Kenapa tiba tiba? 40 hari sebelumnya tidak ada tanda-tanda. Tidak pernah muntah, diare, rewel, atau apapun. Bukankah darah yang menumpuk ini mulanya sedikit, kemudian sedang, kemudian banyak. Kenapa sebelumnya tidak ada tanda-tanda? Barangkali Allah sengaja menyembunyikan tanda tanda itu, Ia jadikan Falah sehat ceria dan begitu doyan minum, agar yang terkenang di hati kami hanya lah memori akan keceriaan dan kebahagiaan bersamanya. Allah’alam.

Dokter sempat bertanya kepada saya apakah Falah ASI Eksklusif atau tidak. Dan iya, Falah full ASI dan bahkan sama sekali tidak pernah tidak menyusu langsung, botol-botol yang saya beli sama sekali belum sempat dipakai. Saya tidak bisa menerjemahkan ekspressi dokter kala itu, yang saya ingat adalah perkataannya yang membuat perasaan saya campur aduk.

“Ibu, ASI itu bagus, sangat bagus. Tapi sayangnya di dalam ASI hanya ada sedikit sekali kandungan vitamin K. Berbeda dengan susu formula yang mengandung banyak vitamin K. Makanya perlu disuntik.”

Bukan, dokter ini bukannya pendukung sufor, ia pun mengatakan betapa bagusnya ASI dan ia jauh lebih segala-galanya dibanding sufor, kekurangannya hanya vitamin K. Itu saja. Dan sama sekali bukan menjadi alasan untuk lebih mengunggulkan sufor karena sudah ada fasilitas suntik vitamin K. Dokter bilang, memang kekurangan di Indonesia, suntik vitamin K hanya diberikan sekali setelah lahir, kemudian tidak ada pengecekan kembali kadar koagulasi darah. Sedang di luar negeri, bayi akan dipantau terus termasuk koagulasi darahnya dengan intensif hingga usianya 10 hari.

Ah ya, saya sempat menanyakan kepada dokter, dengan menyampaikan keadaan kakaknya  Falah, Hafsha. Apakah ini kelainan genetik? Apakah ada sesuatu di dalam diri saya, atau suami saya, sehingga dua anak kami meninggal? Apakah defisiensi vitamin K ini sama dengan hemophilia (darah sukar membeku)?

Dokter bilang, defisiensi vitamin K ini bukanlah penyakit bawaan. Ia bukan suatu kelainan dalam kandungan. Memang hal yang normal ketika bayi kekurangan vitamin K. Maka dari itu suntik vitamin K adalah hal yang perlu. Ketika ternyata Falah sudah disuntik vitamin K, sedang ia masih kekurangan vitamin K. Maka kemungkinannya adalah, barangkali dosis yang dibutuhkan Falah lebih tinggi hingga ia belum cukup dengan suntikan pasca lahir. Dokter pun tidak bisa memastikan, Allahu’alam.

Lantas bedanya dengan hemophilia? Hemophilia adalah kelainan darah sukar membeku. Sifatnya adalah kelainan genetik, bawaan dari lahir.

Ibaratnya, darah adalah sekumpulan kotak yang memiliki tugas masing-masing. Ada sebuah kotak pembekuan darah, di dalam kotak itu ada vitamin K, benang-benang fibrin, dan lain-lain.

Pada hemophilia, darah tidak memiliki kotak itu, ia tidak punya semua peralatan pembekuan darah.

Sedang pada defisiensi vitamin K, dia memiliki kotak itu, dan semua peralatan dalam kotak lengkap kecuali vitamin K. Begitu sederhananya.

 

Usianya memang baru 41 hari saat Falah pertama kali masuk rumah sakit. Beberapa jam kemudian dia koma tidak sadarkan diri. Berkali-kali dokter berkata kepada saya untuk ikhlas, untuk merelakan Falah. Karena katanya, kemungkinan Falah untuk bertahan hidup sangat kecil sekali. Saya sempat meminta Falah dioperasi saja, diambil darah yang menumpuk di otaknya. Dan selesai beres semua masalah. Tapi dokter bilang, kondisi Falah sudah terlalu buruk. Hasil scan otak menyatakan dia perdarahan berat, kalau dipaksakan operasi, justru besar kemungkinanya ia akan meninggal di meja operasi.

Di usianya yang ke 45 hari, dokter bedah syaraf, dokter syaraf, dokter anastesi, dan dokter (konsultan) anak sepakat pada satu kesimpulan bahwa Falah sudah sampai di tahap Mati Batang Otak (MBO).

MBO adalah kondisi dimana ia sudah meninggal secara medis, walau beberapa organnya masih berfungsi. Jantungnya masih berdetak, tapi otak, paru-paru, ginjal, dan hampir semua yang lainnya sudah berhenti. Responnya terhadap apapun negatif. Falah dinyatakan resmi tidak tertolong.

Pasca vonis MBO, dokter menanyakan kepada kami apakah akan melanjutkan perawatan. Segala alat yang menempel ditubuhnya; selang ventilator yang dimasukkan langsung ke paru-parunya lewat mulut, untuk memberikan oksigen karena Falah sudah gagal nafas sejak pertama kali datang di UGD. Selang makanan dari hidungnya yang terhubung hingga ke lambung. Kateter yang dimasukkan dalam alat kelaminnya, karena Falah sudah tidak mampu mengeluarkan urine dengan spontan. Deteksi jantung, dan oksimeter alat deteksi saturasi (kemampuan darah mengikat oksigen) di kaki dan tangannya, serta infus dan obat pacu jantungnya.  Semua alat dan obat itu, dokter menanyakan apakah semua alat itu akan tetap dipertahankan, karena toh anak saya sudah tidak bisa diapa-apakan?

Allaaah… Betapa menyakitkannya pertanyaan itu bagi saya. Bahkan dokter pun sudah angkat tangan. Tapi lihatlah betapa bayi kecilku masih berjuang, masih bertahan. Dengan segala kekurangannya, ia ingin menunjukkan kepada kami bahwa hidup adalah perjuangan.

Dan saya pun berkeras mempertahankan alat dan obat. Tidak. Falah masih berusaha. Kita pun harus berusaha. Melepaskan alat dan obat bagi saya adalah pilihan untuk menyerah dan putus asa.

Semuanya menyuruh saya ikhlas, rela melepaskan Falah. Tapi demi Allah itu saaangat berat. Ini bukan kali pertama saya kehilangan anak. Dua kali berturut-turut, dalam waktu yang begitu singkat. Allaah, jika bukan  karena-Mu, aku sudah tak tahu kini seperti apa😥

Hingga keputusan Allah tiba. Di usianya yang 47 hari, persis ketika kami baru selesai menggantikan bajunya di pagi hari, Falah membiru dan kejang. Dan sesaat kemudian, Allah mengangkat segala sakitnya. Mengirimkan Falah untuk menemani kakaknya, Hafsha. Mereka berdua. Semoga Allah menjadikan mereka sebagai tabungan kami di akhirat nanti.

 

(Lantas, apakah ini kelainan genetik? Adakah yang salah dalam tubuh saya, atau suami saya? Ada di tulisan selanjutnya.)

 

PhotoGrid_1444951029044

 

3 thoughts on “Hari-Hari Terakhir : Vonis Perdarahan Otak

  1. Ya Fir, akhir-akhir ini Nayla lumayan sering jatuh karena lagi belajar jalan. Seringnya kena kepala bagian belakang. Seringnya lagi, kalau sedang aku yang jagain. Hati rasanya mencelos. Gak bisa membayangkan rasanya yang Fira alami.

    Baarakallahu fiikum untuk Mas Yunis & Fira.

    1. Insya Allah Nayla sehat sehat selalu yaaa, disatu sisi sebenarnya kondisi anak beda-beda, ada juga yang hobi jatuh jumpalitan tapi baik-baik saja, Falah ini malah ditimang-timang doang udah kayak gini. Hehe. Memang sudah kehendak-Nya, apapun bisa terjadi..
      Salam semangat buat Nayla shaihah, semoga cepet bisa jalan, lari dan main kejar-kejaran sama ummi dan abinya. Barakallah yaaa mba ipeh sayang… :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s