Keluarga · munakahat

Malu-Malu

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu.
Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat.
Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan juga tak begitu saja luput.
Ia terus ada mencipta gelisah,
sementara tangan kita saling menadah
menangkup doa.

—Kemauan yang tak bisa sendirian, azharologia, dengan sedikit ubahan ^^v

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu.

Barangkali rasa malu-malu itu yang akhir-akhir ini terus saja berkelindan dalam kepala saya. Kehadirannya terasa begitu membuncah, dulu, duluuu sekali.
Hampir dua tahun yang lalu. Memang.
Namun rasa malu-malu itu bukan lah sesuatu yang mudah dilupakan, bukan pula sesuatu yang layak untuk diabaikan,
barangkali itu lah hikmah atas proses yang kami berusaha menjaganya.
Rasa malu-malu.
Ah. Boleh jadi itu lah bagian dari berkah yang kami harapkan dan panjatkan berkali-kali dalam doa.

Beberapa hari yang lalu, ketika seorang lelaki dan seorang gadis hendak menjalin sebuah ikatan mitsaqon ghalidza, ada banyak sekali doa dari sanak saudara. Hanya saja, momen malu-malu itu tak berhasil saya tangkap. Walau dalam sekali saya mencari-cari, detail sekali saya meneliti. Keduanya tak canggung, menikah rasanya sebuah hal besar yang tak memerlukan rasa malu-malu di dalamnya.
Kemudian saya jadi teringat betapa berbedanya kami dulu dengan mereka. Barangkali mungkin memang karena proses menuju pernikahan yang sejak awal sudah berbeda.

Saya jadi teringat ketika dulu berjalan kaki menuju rumah murobbi, demi agenda maha-penting kala itu.

Ta’aruf.

Duh, sebenarnya tak perlu taaruf juga kali ya. Saya sudah kenal orangnya, walau sekadar tau nama dan bentuk fisiknya, hehe. Bahwa dia pendiam, saya tahu. Bahwa dia tak banyak tingkah dan polah, saya tahu. Tapi barangkali setelah diingat-ingat, saya memang hanya tau sebatas itu.
Lantas detik-detik taaruf itu semacam melambat atau entah apa, sayangnya, saya tak juga menemukan cukup keberanian untuk mendongak dan melihat wajahnya. Mungkinkah itu malu? Barangkali memang iya..

Pun dengan momen dimana kemudian, setelah hiruk-pikuk yang tak ada habisnya di dalam kepala dan hati saya, juga doa-doa yang “mendesak” Ia yang Maha Menuliskan Takdir, akhirnya momen itu datang juga.

Khitbah.

Saya bahkan masih ingat saya membeku di depan dapur hanya karena bingung mau apa dan bagaimana. Berangkat maju ke ruang tamu? Ah, ada terlalu banyak orang dari keluarganya yang pasti penasaran dan menelisik bentuk saya dari ujung kepala hingga kaki. Mau tetap disini? Tapi kan saya yang di-khitbah. Piye toh..
Maka yang saya lakukan kala itu hanya diam, sambil menunggu dipanggil Ibu. Menghabiskan waktu dengan mendengar godaan dari adik perempuan yang ikut menemani saya mengumpet di dapur.
“Cie mbak fira cieeee..”
Duh, malu kah itu? Entahlah…

Pun saat yang konon menggetarkan langit itu,
Momen memakaikan cincin dan sekadar foto memamerkan buku nikah saja, penuh sekali kecanggungan. Bahwa tangannya harus ditempelkan dengan “paksa” oleh Ibu saya ke pinggang saya, demi kepentingan fotografi. Juga “sabda” ibu mertua untuk menggandeng tangan saya menuju rumah.

“Digandeng itu, kan udah jadi istrinya!”
Haha. Barangkali memang kami sudah saking terbiasanya menghindari lawan jenis, sekalinya dibolehin malah jadi bingung dan kikuk.

Lantas hari ini saya merenungi.

Dulu kami bukanlah siapa-siapa. Dan malu-malu adalah sebuah rasa yang nyata dan harus ada.
Iya, barangkali rasa itu harus ada.

Karena kehadirannya tanda bahwa memang kita sedang berada dalam proses yang dituntunkan syariat.
Karena kehadirannya akan menjadi pemanis dalam pernikahan kelak.
Karena, percayalah, semoga dari rasa malu-malu itu, terselip banyak berkah yang Ia turunkan untuk kita.

Menulis ini diantara tendangan dan tinju hantam calon anak kedua. Ternyata sudah hampir dua tahun menikah yaaaaa…
Semoga berkah, semoga berkah. Alhamdulillah..
🙂

 

2 thoughts on “Malu-Malu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s