Islam

Tentang Takfir

Resume Kajian Ust Umar Sholahudin, Lc., M. A.
Ahad, 19 April 2014
Masjid Ulul Albab Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Takfir merupakan bab terakhir dalam pembelajaran Islam. Islam diibaratkan sebuah rumah, yang memiliki pintu masuk, ruangan-ruangan di dalam rumah, juga pintu keluar. Seseorang belajar Islam dengan bertahap melalui pintu masuknya, yaitu syahadat, rukun iman, rukun islam. Kemudian memasuki ruangan-ruangan di dalamnya. Dan harapannya, seseorang akan betah di dalam rumah, sehingga tidak ada alasan untuk pergi melalui pintu keluar. Karena itu lah, Bab Takfir merupakan bab terakhir pembelajaran Islam. Karena takfir merupakan pintu keluar dari rumah ini.

Di dalam Ushul Isyrin karya Imam Hasan Al-Banna, terdapat satu prinsip diantara 20 prinsip, yaitu prinsip ke-20: Batasan Kufur dan Iman.

Bahkan di dalam Ushul Isyrin pun, prinsip tentang takfir ini ada di bagian paling akhir, prinsip ke 20,” begitu kurang lebih Ustadz menekankan.

Kemudian selanjutnya Ustadz menjelaskan prinsip ke-20 Ushul Isyrin ini; Batasan Kufur dan Iman.

“Kita tidak mengkafirkan seorang Muslim berdasarkan pendapat atau maksiat yang dilakukannya sedangkan beliau telah mengucap dua kalimat syahadat dan melakukan tuntutan syahadatnya yaitu dengan melakukan sesuatu yang telah difardukan kepadanya, KECUALI beliau berikrar dan mengakui kekufurannya, atau beliau mengingkari perkara yang diketahui secara pasti dalam agama, atau beliau mendustakan lafaz dan pengertian Al-Quran yang terang dan jelas, atau beliau menafsirkan Al-Quran dengan penafsiran yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab atau beliau melakukan perbuatan yang tidak dapat ditafsirkan dengan tafsiran selain dari kekufuran.

-Prinsip Keduapuluh Imam Hasan Al-Banna-

Dari prinsip diatas dapat dijelaskan sbb:

1. Tidak dibenarkan mengkafirkan seorang muslim hanya karena pendapat dan perbuatannya yang maksiat. Misalnya seseorang melakukan maksiat seperti minum khamr, berdusta, dll tidak serta-merta menjadikannya keluar dari Islam.

2. Seseorang yang telah berikrar dan mengakui kekufurannya, misalnya ia berkata, “Saya bukan Muslim,” atau kalimat yang serupa, maka jelas perkaranya bahwa ia memang kufur.

3. Seseorang yang mengingkari asas agama, semisal ia mengingkari bahwa sholat itu wajib, atau mengingkari bahawa berpegang dengan Islam itu bukan suatu kepastian yang wajib. Maka orang tersebut dapat dikatakan kufur.

4. Seseorang yang mendustakan ayat Al-Quran, mencerca Allah dan Rasul-Nya atau beliau mencemarkan Al-Quran dengan najis, mendustakan lafaz-lafaz Al-Quran, menafsirkan ayat-ayat Allah dengan cara yang tidak sesuai kaidah bahasa Arab, dan melakukan perbuatan yang nyata dan tidak dapat ditafsiri kecuali kekufuran, maka ia dapat dikatakan kufur.

Ini adalah hal yang prinsip dan mendasar, bahwa sesungguhnya Islam melarang sesama muslim untuk mengkafirkan saudaranya, kecuali apabila jelas dan nyata perbuatannya adalah hal yang kufur. Hal ini berdasarkan Kalam Allah:

Siapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya itu; dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan).” Q.S. Ar-Ruum: 44

Kemudian Ustadz mengingatkan kepada kami kisah yang sangat masyhur tentang Usamah bin Zaid bin Haritsah.

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW mengutus kaum muslim untuk memerangi kaum musyrik, salah satu diantara kaum muslim itu adalah Usamah bin Zaid. Dalam pertempuran itu Usamah bin Zaid menangkap seorang musyrik dan saat beliau hendak menebas lehernya, ia mengucapkan la ilaha illallah, namun Usamah bin Zaid tetap membunuhnya. Berita ini kemudian sampai kepada Rasulullah SAWyang kemudian segera memanggil Usamah dan menanyainya,

Mengapa kau tetap membunuhnya?”

Usamah bin Zaid menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari pedangku.”

Apakah engkau telah mengetahui isi hatinya? Bagaimana kau bisa yakin apakah ia tulus atau tidak?”

Kemudian sejak peristiwa itu, Usamah bin Zaid pun sangat berhati-hati dan tak lagi mengulangi perbuatannya. Ibarat kata, beliau “kapok” dan tak lagi mau membunuh seseorang yang telah bersyahadat. Hingga ketika Perang Jamal (Perang antara Ali ra dan Aisyah ra) dan Perang Shiffin (Antara Ali ra dan Muawiyah) terjadi, Usamah bin Zaid tidak berada dalam barisan salah satu kelompok yang berseteru, karena Usamah yakin keduanya merupakan muslim yang telah jelas keislamannya dan beliau tidak lagi mau membunuh muslim.

Ada dua hal penting yang harus digarisbawahi:

Yang pertama adalah bahwa Islam sangat melarang pengkafiran kepada seorang yang belum jelas kekafirannya. Seperti sabda Nabi:

“Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata-kata kafir, atau berkata: wahai musuh Allah, sedangkan tidaklah demikian halnya, maka tuduhan dan kata-kata itu kembali dan berlaku kepada dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sehingga dapat dipastikan bahwa takfir yang tergesa-gesa itu sangat berbahaya.

Yang kedua adalah tidak diperbolehkannya mengkafirkan seseorang hanya karena pendapat atau maksiat. Karena bahkan, di dalam Al-Quran pun dijelaskan bahwa sesorang tidaklah syirik hanya karena ia berbuat maksiat. Bahkan Allah yang Maha Pengampun tetap akan mengampuni dosa besar seperti syirik, asalkan ia benar-benar melakukan taubat nasuha.

Beberapa pendapat tentang takfir:

Abu Hamid Al-Ghozali menyatakan bahwa sikap yang seharusnya diambil oleh kaum muslim adalah menghindari mengkafirkan orang lain. Karena membiarkan seribu orang kafir dalam kehidupan ini lebih ringan dibanding kesalahan dalam mengalirkan darah seorang muslim yang terlindungi.

Bahkan para sahabat yang mulia pun tetap menganggap orang-orang munafik sebagai orang Islam, dan tetap menjaga hak-haknya sebagai seorang muslim. Karena memang tidak ada manusiapun yang tahu hati seseorang, kecuali Allah. Untuk itulah makanya para sahabat sangat berhati-hati.

Ibnu Taimiyah juga menyatakan siapa yang keislamannya terbukti dengan yakin maka tidak dapat dihilangkan dengan keraguan, bahkan tidak dapat terhapus kecuali adanya argumentasi (hujjah) dan lenyapnya syubhat.

Macam-macam kekufuran:

Yang pertama: Kufur terhadap dasar keimanan.

1. Kufur Inkar: kufur tidak mengenal Allah dan tidak mengakui eksitensinya.

2. Kufur Juhud: mengenal Allah hanya dengan hatinya, tapi tidak melisankannya. Misal: orang musyrik, ahli kitab. (Lihat Q.S An-Naml: 14)

3. Kufur ‘inaad: mengakui Allah dalam hati, mengikrarkannya dengan lisan, tapi tidak dijalankan sebagai jalan hidup karena dengki dan melampaui batas. Misal: Abu Jahal, menolak islam karena kesombongannya.

4. Kufur nifaq: yakin pada Allah di lisan, tetapi tidak dengan hatinya. Ia disebut juga dengan munafik. Hanya Allah SWT yang tau siapa saja diantara kita mana yang sesungguhnya muslim dan mana yang munafik. Seperti halnya Abdullah bin Ubay.

Yang kedua: Mengkafiri cabang-cabang Islam

Seperti halnya Kalam Allah dalam QS . Al-Maidah : 44 yaitu:
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah (syari’at islam), mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah 44)

Ayat di atas menjelaskan tentang siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum islam dan menggunakan undang-undang buatan manusia, maka mereka tergolong orang-orang kafir. Namun, perlu diperhatikan disini, bahwa tidak boleh mengkafirkan hanya karena pendapat atau maksiat. Sepertii halnya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim)

Maka yang dimaksud kafir pada Al-Maidah 44 ini adalah kekufuran yang tetap dalam Islam, disebut dengan Kufur Amali.

Contoh sederhana ada 2 orang yang tidak melakukan ibadah sholat.

Orang pertama tidak melakukan sholat karena ia malas, merasa berat, dll tapi ia yakin dan paham di dalam hatinya bahwa shalat adalah kewajibannya. Orang pertama ini merupakan kufur amali, sikapnya tidak menjadikannya kafir.

Orang kedua tidak melakukan sholat karena ia yakin di dalam hatinya bahwa sholat itu tidak wajib, bukan perintah Allah, dan bukan amalan ibadah. Orang kedua ini merupakan orang yang termasuk kufur karena ia telah mengingkari asas Islam. (lihat ushul isyrin di penjelasan atas)

Jadi, kesimpulannya adalah Islam melarang sesama muslim untuk saling mengkafirkan satu sama lain, kecuali jika sudah jelas dan nyata kekufurannya.

Allahu’alam bisshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s