Keluarga

Rumah Syariah

“Kalau kita ngontrak selamanya, gimana?”

Saya diam. Bingung mau jawab apa.

Kalau mau jujur, tentu saja tidak mau. Tapi melihat kehati-hatiannya dalam menata langkah selama ini, bukan tidak mungkin kami memang akan mengontrak rumah selamanya.

Yah..
Mungkin memang begini lah uniknya menikah, ketika dua orang dengan dua pemikiran mengharuskan diri untuk saling menyesuaikan. Bisa dibilang, saya memang dari sono-nya cenderung menggampangkan, menyepelekan, lebih suka bermudah-mudah ketimbang berhati-hati. Dan sifat ini jauh sekali bertolak belakang dengan suami. Ia sangat menjaga setiap langkahnya, setiap keputusannya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

(Qs. At-Tahrim [66]:6)

Boleh jadi memang suami—kemudian saya, pada akhirnya tertular juga—mengambil pendapat paling keras dan paling aman diantara pendapat para ulama lainnya. Termasuk pada dilematis pro-kontra bank-bank syariah (link KPR Syariah dan link Praktik Bank Riba). Mulanya saya mengambil pendapat yang membolehkan KPR dengan syarat Bank Syariah, sedang suami sebaliknya.

“Kan Rasulullah ga pernah mencontohkan, sayang, beli rumah dengan menghalalkan riba. Beli rumah memaksakan diri sampai utang-utang ga karuan. Kan Rasulullah ga pernah mencontohkan, sayaang..”

Ditengah berbagai keterbatasan, tetap saja suami mencari jalan yang paling aman, yang paling jauh dari ancaman-ancaman.

Lagipula saya pun sadar, tugasnya “hanya” menyediakan tempat tinggal. Dan menyediakan tempat tinggal itu tidak selamanya berarti membelikan rumah. Ngontrak, pada hakikatnya, sudah termasuk bagian dari menyediakan tempat tinggal. Lantas saya tak hendak menjadi istri durhaka, yang menuntut banyak hal pada suaminya, hingga menjadikan suami tergoda pada sumber-sumber rizki yang tak boleh terjamah.

Cukuplah bagi saya kebaikannya dalam meniatkan dan mengikhtiarkan diri. Soal hasil, itu urusan Allah kan?🙂

Barangkali kami tak akan sedilematis ini andai tidak harus menetap di Jakarta. Lingkungannya, harganya, dan segala pilihan-pilihan yang melekat di dalamnya. Jakarta rasa-rasanya membuat kami selalu menghela nafas panjang. Memang tidak mudah hidup di kota yang serba awut-awutan ini.

Tapi di satu sisi, melihat kawan-kawan seperjuangan yang harus berputar-putar menjelajah seluruh negeri, tentu lebih tak mudah lagi. Dengan kondisi menetap saja kami sudah kebingungan, apalagi saudara-saudara kami yang sekian tahun sekali berubah penempatan? Maha Adil Allah dengan setiap takdir dan ketentuan-Nya.

“Semustahil apapun, satu-satunya cara yang paling aman untuk beli rumah adalah cash. Tanpa riba, tanpa utang. Walau memang rasanya tidak mungkin kita mampu beli rumah cash, tapi kita harus yakin ya, pertolongan Allah itu ada, pertolongan Allah itu nyata..”

Maka sudah sejak entah kapan, saya dan suami sudah bersepakat untuk menebalkan diri. Tidak akan berkutik ketika ada tawaran KPR yang menggoda, tak akan bergeming walau saudara dan kawan sudah mulai bertanya, karena kami yakin, rumah adalah rezeki dari Allah yang tak akan salah hitung takarannya, yang tak akan tertukar kepemilikannya..

Hingga kemudian pertolongan itu hadir tiba-tiba. Dari arah yang tak disangka-sangka.

Padahal diri ini sudah menyiapkan hati, mungkin sepuluh tahun, mungkin dua puluh tahun, mungkin bahkan setelah pensiun, baru bisa punya rumah sendiri.
Tapi Allah berkehendak lain. Di usia pernikahan yang belum genap dua tahun ini, Allah menunjukkan betapa Ia Maha Kaya, betapa Ia Maha Pemurah, dan sungguh, betapa Ia Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya…

“Ada perumahan syariah, bebas bank bebas riba. Developernya muslim. Insya Allah aman segala pembiayaannya. Jauh memang lokasinya, tapi gapapa ya, mungkin ini jawaban dari doa-doa kita.”

Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Maha Pemurah sungguh,
Maha Pengasih sungguh,
Betapa Ia memudahkan, betapa Ia memberi jalan..
Betapa Ia buktikan, bahwa setiap yang bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari larangan-Nya, dan setiap yang bersungguh-sungguh menjaga kehalalan cara, maka mudah bagi-Nya menunjuki jalan, mudah bagi-Nya mengabulkan permintaan..

Alhamdulillah bini’matihi tatimmusholihaat..
Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas rezeki yang tiada putusnya ini. Terima kasih atas segala kemudahan dan kemurahan ini..
Sungguh tiada daya dan upaya selain dari-Mu, selain dari-Mu, selain dari-Mu..
🙂

rumah bogor

Perumahan Syariah De’ Alexandria

One thought on “Rumah Syariah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s