Keluarga · munakahat

Mencintainya

Hari ini saya menyaksikan arsy yang terguncang, lagi.
Pada ikatan hidup-mati. Disimpul dengan segenap basmalah, degup yang menyala-nyala, juga sujud-sujud panjang penuh doa.

Hari ini saya mendengar kalimat perjanjian maha-berat itu, lagi.
Pada sepotong-dua potong kata yang membuat saya kemudian tersenyum dalam hati, teringat pada sosok yang juga pernah mengguncang arsy dengan kalimatnya, dengan gayanya, dengan segala kegugupannya.

Lantas kini berlalu entah berapa waktu,
Pada begitu banyak cerita yang tumpah ruah.
Mula-mula kunjungan pertama, sms pertama, khitbah pertama (dan terakhir kalinya), lantas kalimat-kalimat berat yang mengguncang langit dan isinya, dan seketika segala sesuatu berjudul pertama pun merambah pada semuanya.

Masakan pertama.
Kontrakan pertama.
Ujian pertama.

Dan kini, sungguh menakjubkan betapa ternyata saya akhirnya sampai di tahap ini.
Bahwa ternyata saya sudah teramat sangat mencintainya.
Teramat sangat mencintainya.

Sudah hampir dua tahun ya, ternyata, dan saya tetap saja tak akan bisa benar-benar percaya.
Bahwa menikah nyatanya memang sesuatu yang menakjubkan, penuh kejutan.

Sebentar-sebentar cinta, sebentar-sebentar marah. Kemudian tiba-tiba saja kita saling menertawakan kekonyolan kita.

Duhai, entah apa namanya semua ini.
Saya hanya ingin terus-menerus mencintai dan dicintainya, dalam bingkai cinta-Nya, dalam ketaatan untuk-Nya.
Hingga surga..
Hingga surga..

Ukhibbuka fillah, Ayah Hafsha❤

heart-762564_1920

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s