Kontemplasi

Seperti Kerinduan Bilal

hijrah

“Duhai, adakah aku bisa bermalam di sana semalam saja
Di dusun Fakh yang di sekelilingnya ada pohon Ikhzir dan Jalil
Dan apakah aku bisa mendatangi air Mijannah suatu hari nanti
Agar tampak bagiku bukit Syamah dan Thufail yang menjulang.”
—Bilal bin Rabah radhiallahu anha

Mungkin baru berselang beberapa hari, setelah para Muslimin hijrah ke Madinah. Dan sontak, hampir semuanya tergeragap tuk beradaptasi. Pun dengan sahabat Rasul yang terkenal akan suara merdunya ketika mengumandangkan adzan; Bilal. Pun Bilal, bahkan sekaliber Abu Bakar r.a yang semua orang mengakui kesabaran dan ketaqwaannya, juga dilanda demam tinggi di hari-hari pertamanya di Madinah.

Ucapan Bilal dalam syairnya itu merupakan ungkapan kerinduan terhadap Makkah. Demam tinggi karena hawa Madinah yang tak sama seperti Makkah membuat banyak kaum muslimin yang seketika memaksa tubuh beradaptasi. Demam yang membuat dirinya begitu merindukan Makkah yang dicintainya, seakan-akan ia ingin melewati malam di lembah yang dikelilingi rumput idzkir dan juga tanaman jalil, memandang bukit Syamah dan bukit Thufail, atau bermain dengan gemericik air di telaga Mijanah.

Seorang Bilal, yang ketika ia masih hidup namun suara terompahnya terdengar di syurga, seorang sahabat Nabi yang berkali-kali disiksa karena mempertahankan keimanannya, orang-orang dari generasi terbaik umat ini. Ia pun juga seorang manusia, yang sebegitu nelangsanya merindukan rumah. Rumahnya.

Beberapa hari terakhir ini, tiba-tiba saja saya jadi teringat Bilal dan syairnya yang penuh kerinduan. Tiba-tiba pula memahami betapa perjalanannya menuju Madinah hanyalah karena keimanan semata, karena untuk apa ia meninggalkan tempat tinggal yang amat dicintainya, jika bukan karena iman?

Pun saya. Ah, bukan. Bukan. Sungguh jauh diri ini dari Bilal, sama sekali tak ada niat untuk menyamakan diri sendiri dengan sahabat Nabi yang mulia, saya hanya sedang merasakan sedikit saja dari apa yang dirasakan oleh Bilal bin Rabah. Merasakan kerinduan pada “rumah” yang saya tinggalkan.

Sudah enam hari saya dan suami pindah ke Jakata Pusat, sebuah lingkungan warga yang padat penduduk—ah mari saya ralat, sangat sangat sangat amat super padat penduduk.

Berbeda dari tempat tinggal kami sebelumnya di kawasan Bintaro yang, ah, sejak saya kuliah saya sudah jatuh cinta pada Bintaro. Tempat tinggal kami sebelumnya, amat kaya akan sinar matahari, jernih dan melimpah ruah airnya, sirkulasi udara amat baik, sungguh tenang tanpa ada kebisingan, dilengkapi sebidang taman mungil yang cukup bagi kami untuk memandang hijau tanaman, dan tetangga yang ramah juga berpendidikan. Namun sayang, jarak rumah-kantor yang membuat kami menyerah dan memutuskan pindah.

Saya membayangkan seorang Bilal. Yang meninggalkan rumahnya yang ia cintai, atas nama keimanan. Begitu beratnya, begitu nelangsanya. Makkah yang ia cintai, dipenuhi para kafir Quraisy yang menyiksa dan menganiaya para muslimin. Makkah yang ia cintai, tak lagi aman untuk dirinya dan imannya. Maka hijrah adalah satu-satunya pilihan saat itu. Sebuah pilihan yang terucap dari lisan Nabi, tentu merupakan ketentuan yang Allah pilihkan. Maka betapapun ia cinta pada Makkah, Bilal harus berangkat hijrah.

Sampai-sampai terlafadz dari bibir Bilal sebuah doa:

“Wahai Allah! Laknatlah Syaibah bin Rabî’ah, ‘Utbah bin Rabî’ah, dan Umayyah bin Khalaf, sebagaimana mereka telah menyebabkan kami keluar dari negeri kami ke negeri derita.”
(HR al-Bukhâri/al-Fath, 18/232, no. 1889.)

Ah, tentu. Pindahan rumah yang saya dan suami lakukan sangat tak sebanding dengan peristiwa Hijrah yang mengubah peradaban dan kejayaan Islam. Namun izinkanlah saya belajar dari Bilal yang merindukan Makkah ketika sudah sampai di Madinah.

Makkah yang indah, Makkah yang telah menyatu melekat dalam dadanya, Makkah yang menjadi tempat ia mengucapkan kalimat keimanan untuk pertama kalinya, Makkah yang menjadi tempat ia dibebaskan sebagai budak, Makkah yang membuatnya berjumpa dan menjadi sahabat Rasul Allah—manusia paling mulia yang pernah ada, Makkah yang begitu banyak mengubah hidupnya.

Namun Makkah pula yang berisi para kafir Quraisy yang menyiksanya dengan batu panas, menyiksa saudara-saudara seimannya hingga syahid. Makkah yang tak lagi aman untuk dirinya dan imannya.

Lantas perintah hijrah itu pun datang dari Allah. Dan setiap yang beriman bersegera menyambut seruan hijrah, sebesar apapun kecintaan mereka pada kampung halamannya.

Kemudian saya merenungi diri. Adakah pindah membuat saya dan suami menjadi lebih baik? Walau kondisi rumah yang kami tempati tak bisa dibandingkan dengan rumah yang sebelumnya, namun sekiranya ada banyak hal yang menjadikan kami lebih dekat dengan-Nya di tempat tinggal kami yang baru ini.

Jarak yang dekat tak membuat kami lelah. Sehingga pulang kerja pun saya masih mampu untuk memasak dan menghidangkan sepiring nasi untuk suami. Sehingga amal ibadah kami mungkin bisa bertambah baik kuantitas dan kualitasnya, karena tak lagi diburu-buru waktu dan digelayuti lelah. Sehingga fisik dan rahim saya pun kuat dan siap menyambut amanah baru yang kami terus menerus berdoa kepada-Nya. Sehingga di lingkungan baru ini, kami tak lagi menjadikan rumah sebagai tempat untuk sekadar beristirahat dari penatnya luar, namun juga mewarnai dan mendakwahi tetangga sekitar.

Allah.. Sejauh apapun kualitas diri saya dari para muhajirin yang meninggalkan Makkah demi-Mu, semoga Engkau berkenan menyembuhkan kerinduan ini seperti Engkau menyembuhkan kerinduan mereka..

Dan kami pun berdoa, seperti doanya Rasulullah ketika hatinya tergetar mendengar syair Bilal yang merindukan Makkah:

“Allahumma, jadikanlah hati kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau lebih besar lagi. Allahumma, jadikanlah Madinah ini negeri yang sehat, berkahilah kami dalam takaran dan timbangannya, dan pindahkanlah penyakit demam yang menyerang ini ke Juhfah.” (HR. Bukhari)

sumber gambar: ini.

2 thoughts on “Seperti Kerinduan Bilal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s