Kontemplasi

Jakarta dan Kengerian Manusia

jakarta-indonesia-sinking-refuse_69627_600x450

Segala hiruk-pikuk yang saya lakukan dua pekan ini harusnya membuat saya layak meraih gelar sebagai salah satu “Pejuang Jakarta.” Sesuatu yang dulu hanya bisa saya tonton lewat layar kaca sekarang menjadi pemandangan lazim tiap pagi dan malam, setiap harinya. Sebut saja Bundaran HI, Monas, Sudirman, Thamrin, Tanah Abang, dan jalanan Ibu kota yang setiap waktu selalu menjadi topik favorit liputan berita di televisi.

Tidak mudah ternyata, sangat tidak mudah bahkan, setiap selepas subuh harus berangkat dari Ciputat (Tangerang Selatan) dengan bermotor-ria menuju Komplek Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng (Jakarta Pusat) setiap harinya, pagi dan sore—walau pulang sore bagi kami adalah kemewahan yang hanya sekali dua kali kami cicipi. Satu jam lebih sekian menit, tergantung kadar kemacetan dan kecepatan motor; yang kalau ditotal pulang pergi menjadi dua setengah jam, menjadi ekstra waktu dimana saya harus terus duduk, padahal di kantor 99% pekerjaan kami dilakukan dengan duduk. Saya hanya terus berdoa semoga saya tidak terserang ambeien parah atau sejenisnya.

Yah. Setidaknya dua pekan ini menjadi masa dimana saya kemudian banyak belajar tentang betapa kerasnya perjuangan hidup di Ibu kota, sesuatu yang selalu didengungkan oleh banyak orang.

Tapi bukan itu yang hendak saya bahas disini.

Bermotor ria (walau pada kenyataannya saya tidak terlalu merasakan “ria”ngnya bermotoran di Jakarta) setidaknya membuat saya melihat lebih banyak, dan semoga, memahami lebih banyak. Para penyapu jalan yang berbaju kuning, para buruh bangunan yang tengah mengerjakan jalan-jembatan, para pengemis dan gelandangan yang tidur di pinggir jalan, rumah-rumah kardus kumuh dan letoy yang mungkin akan seketika rubuh hanya dengan sekali-dua kali tendang, kali yang kotor dan airnya tergenang, dan lainnya dan lainnya. Ini contoh pemandangan yang lazim kita temui di Indonesia (ah sedihnya!) tapi tentu kita secara tidak sadar pun sepakat, bahwa Jakarta memiliki kadar pemandangan seperti ini yang jauh lebih banyak dibanding kota-kota lainnya.

Pernah suatu hari saya melihat seorang ibu dengan anak-anaknya yang masih balita, di sebuah kawasan rumah kardus yang jaaaaauuh dari kata layak sebagai tempat tinggal. Dimana sampah dan makanan seakan bercampur baur, dimana sampah dan mainan anak-anak pun seakan tidak jauh berbeda, dimana sampah dan tempat tidur, sampah dan perabotan, sampah dan ah, hampir semuanya seakan tidak bisa dibedakan dengan jelas mana sampah mana yang bukan. Lantas dari pemandangan itu saya hanya mampu terpekur sambil entah rasanya seperti apa.

Sebenarnya sejak kuliah pun saya sudah lazim dengan hal-hal seperti ini, bahkan dulu semasa kuliah pun salah satu kegiatan saya adalah mengajar TPA di lapak Sarmili, salah satu kawasan rumah kardus yang, yah seperti yang saya bilang, hampir semuanya seakan tidak bisa dibedakan dengan jelas mana sampah mana yang bukan. Saking kumuhnya.
Tapi saat saya mengajar mereka dulu, hanya ada satu saja perasaan yang ada di dalam dada saya.

“Kasian ya mereka ini. Yuk kita bantu.”

Tapi ada yang luput dari perhatian saya dulu. Sesuatu yang baru saya sadari ketika saya hamil, melahirkan, dan memakamkan anak pertama saya. Dengan segala vonis dokter atas Hafsha yang membuat saya kini jaaaaaauuuh lebih sensitif dibanding kapanpun sebelumnya.
Maha Besar Allah, yang menjadikan para ibu hamil tetap sehat dan bugar walau setiap hari akrab dengan sampah (dan pastinya, akrab pula dengan segala kuman dan virus dan kotoran yang menempel disana) yang bahkan anak-anaknya pun lahir normal sehat dan beberapa bahkan ada yang sangat cerdas.

Ah, bukannya saya belum move on dari Hafsha, hanya saja saya terus-menerus mendapat hikmah dari kehadiran dan kepergiannya. Bahwa lihatlah seorang ibu hamil yang jeli menjaga asupan nutrisinya, hidup di lingkungan yang sehat dan higienis, rutin periksa ke dokter sesuai jadwal, melakukan yang terbaik untuk calon buah hatinya. Lantas Allah menjadikan buah hatinya datang kemudian pergi. Hanya berselang berapa hari.

Kemudian bandingkan dengan mereka yang setiap detiknya bergumul dengan sampah, yang jangankan menjaga asupan nutrisi, bisa makan saja sudah Alhamdulillah, yang boro-boro mau periksa USG ke dokter, melahirkan aja mungkin di dukun beranak. Tapi Allah karuniakan kepada mereka anak-anak yang normal, sehat, dan bahkan beberapa diantara mereka ada yang cemerlang otaknya.

Maha Adil Allah yang telah menata setiap kemudahan dan kesulitan bagi hamba-Nya. Sesuatu yang mungkin secara logika tidak relevan bagi kita, tapi Allah dengan mudah menjadikan semuanya lumrah.

Lantas dari sini saya jadi semakin menengok kehidupan mereka. Kehidupan para ibu yang diamanahkan pada mereka anak-anak penerus peradaban manusia.

Tidak semua indah. Memang, bahkan bebrapa hari yang lalu saya harus menangis terisak-isak dulu ketika membaca sebuah artikel tentang kebiadaban terhadap anak-anak. Seakan dari tangis saya, saya ingin protes kepada-Nya:

Lihat lah Ya Allah, mereka yang Engkau karuniakan buah hati namun mereka menyia-nyiakan bahkan menyiksanya. Padahal kami disini tengah berharap dan menanti hadirnya buah hati yang kelak hanya akan kami sayangi dan cintai, tanpa pernah sekalipun berfikiran untuk menyakitinya, apalagi melakukan hal-hal biadab ini kepadanya.

Tak habis pikir rasanya. Seperti marah dan sedih yang berkumpul jadi satu. Rasanya ingin sekali mendatangi mereka dan saya tampar itu orang. Manusia macam apa! Manusia macam apa! Ya Allah, jangan lagi-lagi Engkau izinkan hal-hal semacam ini terjadi di atas bumi-Mu, Ya Allah!

Hingga kemudian saya sadar diri,
dan kembali menyandarkan semua kepada Allah.
Maha Adil Allah yang telah menata setiap kemudahan dan kesulitan bagi hamba-Nya. Setiap apa yang terjadi yang Allah ingin kita mengambilnya sebagai pelajaran.

Namun sungguh, semakin hari semakin mengenal kehidupan jantung ibu kota. Semakin merasakan kengerian dunia dan betapa tak masuk akalnya semua kebiadaban dan kebobrokan ini.

Ya Allah, masukkan hidayah ke dalam dada kami, hingga kami berubah lebih baik dan dunia tak lagi semengerikan ini.. 😥

sumber gambar: ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s