Perjuangan

Bahagianya Melahirkan

“Ternyata ada hal yang jauh lebih membahagiakan di atas itu; ketika aku bertaruh nyawa melahirkan janin dari rahimku. Jihadnya seorang ibu.”
—Catatan Hati Seorang Istri

Setelah sebulan lebih pasca Hafsha lahir dan meninggal, baru mengumpulkan kekuatan untuk mengingat setiap detailnya dan menuliskannya. Semoga bermanfaat utk yang sedang menyambut perjuangan melahirkan buah hatinya🙂

30 Juli 2014. Sehari setelah Hari Raya Idul Fithri.

Pagi-pagi ba’da sholat subuh, setelah menyelesaikan dzikir pagi bersama suami, kami berjalan-jalan di sawah belakang rumah. Jalan-jalan pagi ini memang ritual saya sejak menginjak usia kehamilan 8 bulan, diniatkan sebagai ikhtiar supaya Hafsha segera berada di posisi yang pas, agar ia siap dilahirkan ketika tiba saatnya nanti.
Pagi itu saya dan suami, sembari menghabiskan pagi bersama, kami membicarakan kapan dan bagaimana nanti ketika Hafsha lahir. Setelah libur lebaran tentu suami harus kembali ke Jakarta, dan saya tetap harus di Pasuruan sampai melahirkan. Hanya saja, kami kebingungan kapan suami sudah harus ambil cuti untuk menemani saya melahirkan. Karena HPL (Hari Perkiraan Lahir) tidaklah selalu tepat, kadang maju kadang mundur, dan sejujurnya, saya pun juga ragu pada keabsahan HPL bayi kami.

HPL dihitung sejak hari pertama haid terakhir (HPHT), nah, alasan mengapa saya ragu pada HPL adalah bahwa HPHT saya adalah sebelum menikah. Saya masih sangat ingat HPHT saya adalah 4 November 2013, karena Alhamdulillah tamu bulanan selalu datang dengan jadwal yang rutin dan tepat. Sedangkan saya baru menikah pada tanggal 15 November 2013. Alhamdulillah, sejak saat itu pula saya tidak lagi dikunjungi tamu bulanan, alias langsung hamil. Nah, sampai titik dimana ketika saya bertanya kepada dokter dan bidan berapa usia kandungan saya, dijawabnya 6 pekan. Padahal, saat itu, usia pernikahan kami baru 4 pekan. Jeng jeng jeng, tentu saya dan suami kaget dong, gimana ceritanya bisa begitu. Ternyata ya itu, usia kehamilan dihitung dari HPHT. Pun dengan HPL. Makanya saya ga percaya pada HPL versi dokter. Dokter bilang HPL 17-18 Agustus. Tapi saya pribadi merasa harusnya lahir akhir Agustus, atau bahkan awal September. Dari sinilah kami tetap saja bingung menentukan sebaiknya suami beli tiket pulang tanggal berapa.

Kebingungan masih belum juga teruraikan ketika kami akhirnya memutuskan pulang dan bersiap untuk silaturahim ke rumah Mbah di Lumajang, saat itu juga.

Kira-kira pukul 10an pagi, masih di hari yang sama, kami sekeluarga berangkat ke rumah Mbah untuk silaturahim. Bahasanya mudik. Sebenarnya saya sudah enggan pergi-pergi jauh apalagi luar kota, karena badan udah pegel-pegel dan capek semua rasanya. Belum lagi kebiasaan ke toilet yang entah berapa menit sekali. Semakin tua usia kandungan, semakin sering ke kamar mandi memang. Tapi entah mengapa saat itu saya tetap saja merasa mampu utk ke rumah mbah, maka berangkatlah.

Pasuruan-Lumajang sebenarnya bisa ditempuh hanya dalam 1,5 jam atau kalau naik bus bisa 2jam. Hanya saja, mungkin karena pertimbangannya ada saya yg sedang hamil tua, maka bapak pelan-pelan sekali menyetir mobil. 2 jam lebih 15 menit mungkin, sepanjang perjalanan itu saya tadinya baik-baik saja, tapi kemudian saya merasa perut kaku sekali. Tidak sakit, tapi kaku, kenceng. Jadilah saya menguasai kursi tengah mobil dan tidur.

Sesampainya di rumah Mbah, tidak ada apa-apa. Saya baik-baik saja, makan ini itu, ngobrol sana sini, walau ya saya semakin menjadi-jadi bolak-balik ke kamar mandi. Mungkin karena rumah Mbah dingin, jadi hasrat untuk ke kamar mandi jadi meningkat, hhe. Ohya, perut saya juga sering sekali kaku dan kencang. Tapi memang saya abaikan, karena sama sekali ga ada rasa sakit, cuma kaku kencang aja, dan itu udah sering juga saya rasakan. Saya pikir ya biasa saja.

Sekitar 16.00, masih di hari yang sama.

Saya ke kamar mandi entah untuk ke yang berapa kalinya. Saya menemukan dua titik darah. Titiknya keciiiiiiiiiil banget. Sejak saat itu saya sebenarnya agak khawatir, karena berdasarkan buku-buku dan artikel yang saya baca, perempuan yang akan melahirkan biasanya akan mengeluarkan sedikit darah. Tapi karena ini sedikitnya banget banget, dan sekali lagi, tidak ada rasa sakit, jadi saya menganggapnya baik-baik saja.

Sekitar 17.00, masih juga di hari yang sama.

Sebenarnya kami sudah akan pulang ke Pasuruan, dan berpamitan ke rumah Mbah sebelah. Ada dua Mbah yang rumahnya bersebelahan. Saya pun memberi tahu ibu tentang dua titik darah tadi, tapi karena sayanya ga yakin, ibu juga ga yakin. Lagi pula ini masih bulan ke 8 versi HPL dokter, tidak mungkin melahirkan sekarang batin saya.

Jadilah saya ke rumah mbah sebelah, perut masih saja kaku kencang. Kali ini, udah agak sakit sebenanrya, seperti nyeri haid. Di perut bagian bawah. Tapi sakitnya masih belum sakit-sakit banget, jadi saya masih duduk dan ngobrol sama saudara-saudara.

Sampai di titik dimana sakitnya bertambah, nyerinya datang, terus pergi, terus datang lagi, pergi lagi. Mbah bilang muka saya pucat. Jadilah saya disuruh tiduran dulu di kamar. Niat mau pamitan malah disuruh tiduran. Saya pun nurut, soalnya nyeri juga sih.

Walau sudah berbaring di tempat tidur, saya merasa sakitnya makin menjadi, datang dan pergi.

“Pulang yuk Mas,” begitu ajak saya kepada suami. Badan saya sudah capek semua, perut yang makin kaku saja, dan ini bukan rumah saya. Saya ingin tiduran di kamar saya, di rumah saya. Tiba-tiba saja saya jadi berkeringat dan pengen menangis. Detik berikutnya saya merasa ada yang merembes di kaki.

Rembesannya makin banyak. Saya baui airnya, katanya kalau air ketuban itu baunya amis. Ini tidak amis. Tapi juga tidak pesing. Jadi ini air apa dong?

Saya setengah berlari menuju kamar mandi karena ga mau ngompol di kasur. Dan karena saya bangun tiba-tiba dan setengah berlari ke kamar mandi, sontak saja suami dan ibu bapak juga mbah jadi kaget.

Opo’o, nduk? Opo’o?” Ibu, Mbah, suami, Bapak, semua memberondong saya dengan pertanyaan itu dan saya makin tidak tahu harus menjawab apa. Saya tunjukkan air yang merembes di kaki. Tapi ternyata bahkan airnya sudah menetes ke lantai.

“Pecah ketuban!” begitu seru Mbah.

Seketika saya shock. Kaget, bingung, panik, takut, semuanya. Saya merasa kaki saya jadi dingin dan lemas, tidak bertenaga. Rasanya seperti mau pingsan. Bukan, ini bukan gejala mau melahirkan. Tapi ini karena saya yang shock dan tidak percaya bahwa saya sudah akan melahirkan.

Saya belum selesai membaca buku panduan melahirkan.

Saya belum mencoba senam hamil sama sekali.

Saya bahkan belum latihan pernafasan.

Lebih dari itu, ini bukan Pasuruan, bukan Malang. Ini di Lumajang!

“Kita kemana? Bu bidan aja yang dekat? Ini sudah pecah ketubannya.”

“Jangan jangan, ke dokter aja. Ada dokter disana.”

Ibu dan Mbah sudah entah membicarakan apa saya sudah tidak tahu. Segera saya dipapah suami dan ibu menuju mobil, kami berangkat ke dokter..

(sambungan)

200499067_large

penampakan buku panduan yang saya baca beberapa pekan sebelum melahirkan. Bukunya bagus, jelas dan gamblang. Ada yang lain juga, bisa cek di Seri Cerdas Bersama dr. Sears

2 thoughts on “Bahagianya Melahirkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s