Perjuangan

Bahagianya Melahirkan (2)

“Ibu minta maaf ya ngajakin kamu pergi-pergi padahal udah hamil besar begini. Ibu minta maaf ya, nduk..” begitu kata Ibu, seakan merasa bersalah. Saya tersenyum. Tidak apa, berarti Allah sudah menakdirkan saya melahirkan disini. “Ini dokternya laki-laki..”

Saya dan suami saling berpandangan. Di saat-saat seperti ini, saya sudah tidak lagi bisa berfikir jernih.

“Adanya dokter laki-laki,” ulang Ibu, seakan semakin merasa bersalah. Saya tersenyum. Ibu tidak salah, sama sekali tidak salah. Ibu tau saya dan suami tidak mau ke dokter laki-laki. Untuk periksa saja kami tidak mau, apalagi melahirkan. Saya menarik nafas panjang.

“Insya Allah ndak papa, Bu. Kan ini dharurot,” suami yang menjawab.

Mobil dinyalakan dan kami berangkat. Di dalam mobil, nyeri semakin menjadi. Datang dan pergi, hanya saja ia jadi lebih cepat datang, dan lebih lama pergi. Mungkin ini yang namanya kontraksi. Ya Allah, bahkan saya belum mempelajari kontraksi itu yang rasanya seperti apa. Ternyata begini, rasanya nyeri seperti nyeri haid. Datang dan pergi. Beberapa menit sekali. Sepuluh menit sekali. Lima menit sekali. Makin lama makin cepat.

Sesampainya di klinik dokter, saya segera dibaringkan di kasur dorong. Mbak Bidannya mengatakan saya harus miring kesana (sambil menunjukkan tangan ke arah kanan saya), dan melarang siapapun untuk masuk menemani saya.

Duh, saya sebenarnya kecewa. Dari buku-buku yang saya baca, harusnya saya miring kiri, tapi karena saya belum selesai membaca buku panduan, jadi saya nurut saja miring kanan. Dan harusnya saya ditemani suami. Ini sangat mempengaruhi kondisi psikologis ibu yg melahirkan. Segera saja saya menyimpulkan ini klinik masih konvensional. Saya jadi ingat petuah di buku panduan, sebelum melahirkan seharusnya suami-istri survey dulu dokternya bagaimana, rumah sakitnya seperti apa, pro-normal atau tidak, IMD atau tidak, rooming-in atau tidak. Dan semua itu sudah saya lakukan. Saya sudah janjian dengan dokter Nuke di RS Melati Husada di Malang, saya sudah mempersiapkan segalanya. Tapi lagi-lagi saya meyakinkan diri, manusia boleh berencana tapi Allah lah yang memutuskan. Allah telah memutuskan saya melahirkan disini, dengan keadaan klinik, bidan, dan dokter yang seperti ini.

Saya berdzikir banyak-banyak. Memohon kekuatan kepada-Nya.

Laa haulaa walaa quwwata illa billaah.

Mbak Bidan tadi datang lagi, memeriksa saya sudah pembukaan berapa.
Lagi-lagi, karena saya belum selesai membaca buku panduan, saya kira memeriksa pembukaan itu hanya sekedar dilihat, tapi ternyata tidak. Saya kaget, sangat kaget, sebenarnya. Tapi ya sudahlah, saya sudah siap mental kalau yang ini. Menjadi perempuan artinya merelakan sebagian privasi kita tersingkap, karena dari sana Allah menjadikan kita sebagai satu-satunya manusia yang konon surga ada dibawah telapak kaki kita.

Pukul 17.30. Bukaan satu. Begitu katanya.

Mbak Bidan memperbolehkan suami saya masuk. Saya bersyukur luar biasa. Ohya, saya menanyakan apa ga sebaiknya saya miring kiri, terus mbak bidannya nyengir, iya miring kiri. Hmmmm, oke. Mungkin karena bidannya masih muda, saya maklum deh.

Berdasarkan buku dan pengalaman para ibu melahirkan yang lainnya. Jeda bukaan 1 ke bukaan lengkap itu biasanya lama. Bisa semalaman, bisa seharian, pokoknya lama deh. Nah, kalau berdasarkan buku yang saya baca, untuk mempercepat pembukaan bisa dengan jalan-jalan kaki, duduk bersila, atau jongkok. Intinya adalah kita boleh berpose apapun juga asal posenya itu membantu si bayi semakin turun kebawah (jalan, duduk sila, dan jongkok, membantu gaya gravitasi untuk menarik bayi semakin kebawah, semakin mendekat pada jalan lahir.)

Jadilah saya dan suami memutuskan untuk keluar dan jalan-jalan kaki di parkiran. Ibu, Mbah dan Bapak yang menunggu diluar pun mengizinkan kami untuk jalan-jalan. Selama jalan-jalan saya dan suami memuji Allah, subhanallah ya, benar-benar Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami sudah mempersiapkan hampir segalanya, dokter, rumah sakit, apapun lah untuk kelahiran buah hati kami. Qodarallah Allah menakdirkan kami melahirkan di sini, di kota yang bahkan sama sekali tidak terlintas dalam pikiran kami.

Ditengah jalan-jalan yang menyenangkan bersama suami, walau kontraksi makin menjadi memang, saya dipanggil mbak bidan tadi. Katanya, ga boleh jalan-jalan, karna posisi bayi saya udah tipis banget. Saya ngga ngerti ini maksudnya tipis bagaimana, jadi yaudahlah saya nurut aja.

Saya kembali berbaring miring di ruangan tadi, sendirian, kemudian dokter datang. Dokternya sepuh, Alhamdulillah, karena kalau dokternya muda saya pasti jauh lebih malu lagi. Saya menutup muka ketika dokter memeriksa pembukaan, ya walaupun menutup muka ga ngaruh sih sebenarnya. Lalu saya merasa dokter memasukkan sesuatu di bawah, semacam pil perangsang. Saya lupa namanya. Yang jelas memang untuk mempercepat pembukaan, biasanya diberi perangsang. Ada yang berbentuk pil dan dimasukkan di bawah, ada yang berupa cairan infuse, ada juga yang berbentuk pil dan diminum. Perangsang ini beda-beda diberikan berdasarkan kondisi pasiennya.

Setelah itu, saya dibawa masuk ke ruang bersalin. Ternyata ada seorang ibu yang juga akan melahirkan di samping kanan saya. Katanya, ibu itu udah ada disana sejak jam 3 dini hari, dan masih pembukaan 1 sampai menjelang maghrib saat saya datang. Ga nambah-nambah pembukaannya.

Ya Allah, seharian ibu itu merasakan sakitnya kontraksi. Saya menghela nafas, menyiapkan diri sendiri kalau-kalau saya juga harus merasakan sakit ini seharian.

Di ruangan itu saya ditemani suami. Entah kenapa, saya yang mau melahirkan tapi suami yang sakit perut. Hehe. Jadilah suami saya keluar, dan saya ditemani ibu. Saya disuapi makan, katanya biar ada tenaga, biar kuat mengejan nantinya. Saya manut, makan, tapi kemudian muntah😦

Saya muntah entah kenapa ga ada angin ga ada hujan. Ibu jadi bingung, 4 kali beliau melahirkan tapi tidak pernah muntah dan selemas saya. Bu Bidan (beda lagi bidannya, kalau tadi Mbak Bidan krn masih muda, yg ini udah ibu-ibu hehe) bilang ga papa, wajar. Ohya, entah mengapa walau pun saya merasakan kesakitan, tapi saya mengantuk sekali. Rasanya ingin tidur, walau sebenarnya merem pun juga tidak akan bisa tidur karena sakit. Belakangan saya tau, ternyata rasa kantuk ini juga dialami bberapa ibu melahirkan lainnya.

Sejujurnya saya merasa bersalah karena muntah. Saya takut saya mengganggu ibu yang sebelah. Saya jadi ingat cerita tetangga, beliau tengah diberi perangsang untk melahirkan dan sebelahnya sedang melahirkan. Sayangnya, ibu sebelahnya itu mengejan sambil teriak-teriak kesakitan. Walhasil tetangga saya yang mendengarnya jadi stress, takut, dsb. Saya takut membuat ibu sebelah saya makin stress.

Ba’da maghrib. Mungkin pukul 18.30-an.
Suami saya masuk dan menemani, meyakinkan pada ibu bahwa ia sanggup menyaksikan dan menemani saya melahirkan. Tapi kemudian beliau di usir sama bu bidan, padahal sebenarnya sama mbak bidan yang tadi dibolehin nemenin. Iya, bidannya ga kompak, hehe. Akhirnya saya ditemani Ibu dan suami memutuskan menunggu dibalik jendela sambil tilawah kencang-kencang.

Saya merasakan kontraksi saya makin cepat, nyaris tanpa jeda. Saya udah miring kiri kanan ga karuan. Nafas panjang sudah tidak banyak membantu. Rasanya sakit sekali. Saya minta diperiksa lagi sudah bukaan berapa.

Bukaan tiga, katanya.

Alhamdulillah. Secepat ini sudah bukaan tiga. Walau lagi-lagi saya takut ibu sebelah saya tambah stress, saya yang baru datang udah cepet banget bukaan tiga, sedang ia masih saja bukaan satu.

19.00

Ibu sebelah saya bukaan dua. Tapi ia menangis, minta dioperasi agar segera saja melahirkan. Sepertinya ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya sehari semalam. Saya memandangi ibu dengan ketakutan.
“Ibu aku bisa kan ya?”
“Bisa, bisa, bisa, Yakin bisa!”
“Ibu maafin aku ya? Aku sayang ibu..”
“iya, semua ibu juga begitu.”

19.15.

Kontraksi tanpa jeda. Makin sakit, makin menjadi. Nyeri seakan perut diremas dari dalam. Dan rasanya ingin mengejan. Sangat sangat ingin mengejan. Tapi tidak saya turuti, saya tahan saja. Kata buku panduan, hehe, lagi-lagi, ketika pembukaan belum lengkap tidak boleh mengejan. Oke, saya tahan. Tapi perpaduan antara kontraksi tanpa jeda dan keinginan mengejan yang makin bertambah membuat saya rasanya ingin menangis. Sakit sekali, Ya Allah.

Saya meminta diperiksa lagi bukaan berapa. Bu Bidan membuka kaki saya, tapi saya tidak lagi diperiksa seperti sebelumnya. Kali ini cukup dilihat saja, karena ternyata saya sudah bukaan lengkap dan kepala bayi saya sudah terlihat.

Segera kaki saya diletakkan di penopang kaki. Saya lagi-lagi membantin. Kalau berdasarkan buku yang saya baca, penopang lutut supaya kaki terbuka ini sebenarnya cara konvesional. Ibu yang melahirkan bebas memilih ia ingin melahirkan dengan cara apa. Berdiri, jongkok, miring, iya, agak aneh mungkin memang karena jarang terdengar. Tapi memang berdasarkan penelitian itu bisa-bisa saja dilakukan. Yang penting ibu melahirkan merasa nyaman.

Kaki sudah siap. Dan dorongan mengejan makin hebat.
Saya mendengar suami yang makin kencang tilawahnya, makin saya bulatkan tekad.

Ya Allah, ini lah jihadku.

Satu.
Saya mengejan tapi cuma sebentar. Karena tiba-tiba saja dorongan mengejan hilang.
Iya, mengejanlah ketika ingin mengejan. Sama seperti kontraksi, ternyata mengejan juga ada ritmenya. Datang dan pergi.

Dua.
Nyeri hebat di rahim saya, mungkin Hafsha tengah menendang kuat-kuat supaya bisa keluar. Dorongan mengejan datang luar biasa. Dibanding yang lain, ini yang paling sakit. Tapi saya justru mengejan sambil menangis kesakitan, lantas dorongan itu hilang. Saya jadi merasa bersalah, menangis justru akan membuat tenaga saya hilang. Saya harus mengejan dengan fokus, dengan benar.

Tiga.
Dorongan mengejan datang lagi. Kali ini saya mengabaikan rasa sakit dan berusaha mengejan dengan benar. Mengejan seperti BAB. Mengejan tanpa suara. Saya berbaring dan dipeluk Ibu.
“Ayo nduk dikit lagi, itu kepalanya udah keliatan. Rambutnya tebel. Ayo nduk!”
Ibu menyemangati. Saya mengejan lebih keras lagi. Tapi sesaat kemudian dorongan itu hilang. Saya menarik nafas, bersiap-siap untuk dorongan selanjutnya.

Empat.
Bismillah Ya Allah.. Saya peluk Ibu kuat-kuat. Saya pun mendengar tilawah suami yang makin menguatkan saya.

Dorongan itu datang. Saya mengejan panjang, entah saya dapat kekuatan dari mana, rasanya begitu Allah mudahkan. Hafsha pun lahir. Dan seketika rasanya lega. Lega luar biasa.

Bu Bidan meletakkan Hafsha di dada dan perut saya. Saya memandanginya dengan takjub.

Bahagianya saya, telah Allah berikan kesempatan untuk menjadi seorang ibu, merasakan betapa hamil dan melahirkan adalah sebuah perjuangan. Barakallah buat yang hamil dan akan melahirkan, juga yang tengah berikhtiar untuk kehamilan. Semoga Allah berkenan memberikan kita kemudahan dalam berikhtiar menjadi seorang ibu, menjadi penentu baik-buruknya ummat manusia..🙂

Ayah, Buna dan Hafsha

Hafsha Asyifa.
Ia lahir pada 30 Juli 2014. Pukul 19.25. Di sebuah klinik di Lumajang.

(Sebenarnya tempat saya melahirkan ini tidak rekomended, tp saya tidak akan menceritakan lengkapnya di sini. Bagi mbak-mbak dan ibu-ibu yang di Lumajang, atau yg berencana melahirkan di Lumajang, jangan ke klinik dokter ini deh. Mahalnya selangit dan pelayannya minim. Heu. Bisa kontak saya ntar saya kasitau dokter ini siapa dan kliniknya dimana. )

10 thoughts on “Bahagianya Melahirkan (2)

  1. subhanallah :’)
    *plis kali ini jangan ngomporin* *ngancem duluan*😀

    inget dulu pas kajian sama ust Masturi, ada yg tanya kenapa menikah menggenapkan separuh agama. gak tanggung-tanggung lho, separuh. jawabnya, “karena banyak sekali amalan yang tak bisa dilakukan tanpa pernikahan.” dan mungkin ini salah satunya.
    mudah-mudahan …………. (doa dalam hati)😀
    makasih ceritanya, ummu Hafsha🙂

  2. sy sebenarnya jg sdh merencanakan dek wlw baru 6 bln.. tp mendengar ceritamu sy jadi harus hati2 dan menentukan cuti hamil dg tepat gak mepet dg HPL. Krn di baubau sini gak ada dokter cwe, kmaren “terpaksa usg d sni” krn sempat ada bercak darah dan wktu 3 bln perutq pun blm kliatan… smg pas lahiran dibantu dg dokter cwe, lancar n kami berdua sehat plus bs sekuat kmu :’)… btw bku panduan yg kmu bc judulnya apa dek?

    1. Aamiin. Iya mba, kalau udah hamil besar udah mending di rumah aja ngga usah kemana2, takutnya dedeknya lahir di jalan kayak saya. Wah, iya ya mba, di beberapa daerah dokter kandungan perempuan memang langka, hiks. Semoga sehat2 terus yaaa mba kimah dan dedek bayi. Semangat🙂

      Buku yang ku baca judulnya Panduan Mempersiapkan Kelahiran dr Sears. Sebenarnya dr. Sears ini ada satu paket buku karangan beliau, dari mulai mempersiapkan kehamilan, trimester 1, 2, 3, juga mempersiapkan kelahiran. Kalo beli sepaket dapet diskon, tapi ttp aja mahal hehe.
      Ini mba link bukunya: Panduan Mempersiapkan Kelahiran.
      Kalo yang versi lengkap juga ada di sini: Seri Cerdas Bersama dr. Sears

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s