Muslimah

Namanya Yussi

Dan dia adalah salah satu saudari terbaik yang pernah saya miliki.
Salah satu saudari paling paling paling super yang pernah Allah kirimkan.

Tiba-tiba saja merindukan sosok ini, akhwat yang kemana-mana memakai sepatu keds hijau-hitam dan tas ransel. Akhwat berkacamata yang jalannya srudak-sruduk, hehe, walau ia lebih sering mengayuh sepeda juangnya hingga ke ujung-ujung Jakarta.

Saya masih ingat bagaimana cara Allah menjadikan kami begitu dekat:
ma’had.

Sedari semester satu kami ikut kelas belajar agama, ma’had kami menyebutnya. Senin kamis, ba’da maghrib sampai jam 9-an malam. Belajar segala yang pernah saya impikan untuk saya pelajari, ya walau pas di kelas sebenarnya lebih banyak ngantuknya, apalagi sekarang sudah banyak lupanya. Tapi entah mengapa kelas-kelas ma’had selalu mampu membuat saya merasa, bahagia. Bahagia yang sesungguhnya. Berkumpul bersama saudari-saudari yang sama-sama ingin belajar agama. Bahasa Arab, Fiqh, Ushul Fiqh, Ilmu Hadis, Ilmu Quran, macam-macam. Dari para Ustadz Ustadzah lulusan Kairo, Madinah, Pakistan, Makkah.

Seakan, seperti, ada aroma surga yang menguar disana..

“Sarmili brotherhood. Ayo ayoo Sarmili brotherhood!”
Begitu serunya. Setiap pulang ma’had mengajak kami jalan bersama Ceger-Sarmili. Bergerombolan. Malam-malam. Saya pun ikutan.

Lama-kelamaan gerombolan sarmili brotherhood ini makin rontok saja. Biasalah, seleksi alam. Hingga menginjak semester tiga dan empat, ketika saya pun rasa-rasanya juga ingin mengundurkan diri karena tidak sanggup menjalankan dua kuliah sekaligus, kuliah Stan dan kuliah ma’had. Tapi kemudian Allah memberi kemudahan. Langkah kaki ini, walau kadang-malas-kadang-berat-kadang-lelah, tetap saja terayun menuju kelas ma’had. Bertemu mereka yang saya yakin juga tengah memeluk erat sisa-sisa motivasi yang masih melekat. Sesuatu yang kami harapkan akan menjadi nilai amal tersendiri di sisi-Nya.

Tidak mudah. Bahkan rombongan Sarmili Brotherhood sudah tinggal dua.
Menyisakan Yussi dan saya.
Yussi dan saya.

Cerita-cerita, tawa, canda, lantas dari sana Allah mengaitkan hati kami, menciptakan kekuatan paling menakjubkan di muka bumi;
ukhuwah.

Namanya Yussi.
Beberapa orang mengenalnya Yussi Mirati.
Sebagian kecil orang mengenal namanya Yussi Mirati Rozanah.
Tapi mungkin, hanya saya seorang yang tahu bahwa sebenarnya, seharusnya, namanya adalah Yussi Mir’ati Rozanah.
Salah tulis di akta, begitu katanya. Dan entah, meski sepertinya sangat tidak penting, tapi bagi saya, menjadi salah satu orang special yang tahu bahwa namanya salah tulis di akta adalah sesuatu yang membuat saya bahagia.

Namanya Yussi. Berkalung kuning.
Anak Pajak STAN mana yang tidak kenal Yussi? Anak BEM, anak MBM, yang dengan tingkahnya selalu mampu membuat kita semua sumringah.
Yussi yang selalu membagi keceriaannya, tingkah konyolnya, guyonannya, obrolan khas Suroboyo-nya. Yussi yang rasa-rasanya ia tidak pernah tidak bahagia. Yussi yang, ah, Yussi yang tidak pernah habis energinya. Yussi yang menyenangkan. Yussi yang menakjubkan.

Tapi jauh dari itu semua, mungkin tak banyak yang sadar bahwa Yussi tak banyak bercerita tentang pribadinya. Yussi yang selalu rapat menyimpan semua dari orang-orang terdekatnya.

Dan Allah lagi-lagi menunjukkan bahwa sungguh menakjubkan bagaimana Ia mengikat hati kami berdua.

Saya melihat dengan nyata seorang Yussi yang tertawa, juga menangis. Yussi yang ceria, juga Yussi yang lelah. Yussi yang sumringah, juga Yussi yang kecewa. Yussi yang bersemangat-tak-ada-habisnya, juga Yussi yang jengkel-tak-terkira. Seorang Yussi seutuhnya. Yussi seorang perempuan dengan segala sisi kewanitaannya.
Yussi yang, semakin lama saya mengenalnya, semakin utuh saya memandangnya, semakin saya sadar, betapa Allah sungguh sangat mencintainya.

Tak banyak yang tahu bahwa Yussi sangat sangat sangat pandai memasak.
Dan lebih banyak lagi yang tak tahu bahwa Yussi sangat sangat sangat pandai berdandan (atau mendandani orang? Hehe) Apapun itu, Yussi membuktikannya ketika wisuda.
Dan ya, sekali lagi, walau mungkin terlihat tidak penting, tapi bagi saya, menjadi salah satu orang special yang tahu bahwa ia pandai memasak dan berdandan adalah sesuatu yang membuat saya bahagia.

“Meski terlihat bodoh, manusia selalu mempunyai caranya sendiri untuk merawat cintanya. Merasai kehilangan, memenuhi kerinduan.”

Namanya Yussi.
Dan saya mencintainya karena Allah.

Ukhibbuki fillah, Yussiiiiiii..
Selamat menempuh hidup baru: Direktorat Jenderal Pajak!
Uyeaaah~~😀

cats

Foto jaman masih kuliah, kalo ga salah lagi ngospek anak-anak D1 Papua. As always, Yussi ngga pernah mau diajakin foto pose ‘cantik’😀

6 thoughts on “Namanya Yussi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s