Mimpi

Impian

Impian kalian apaaaah?”

Saya sendiri yang bertanya saat itu, mungkin dua hari yang lalu, kepada dua orang sahabat yang sebelumnya begitu menggebu menceritakan betapa kekuatan impian itu sungguh nyata. Sahabat saya, Kiki, menceritakan salah seorang kawan lamanya yang kini tengah mewujudkan impiannya di bumi Allah belahan lain, tanah Amerika. Iya, impian untuk menjejakkan kaki di negeri-negeri mengagumkan memang salah satu topik yang sering kami bahas semasa kuliah dulu. Sebut saja Oxford, Birmingham, Tokyo, Melbourne, Istanbul, Berlin, atau nama-nama lain yang mampu menggelorakan. Tapi entah mengapa, kali ini saya terpekur memandangi layar ponsel.

Impian kalian apaaah?”

Saya sendiri yang bertanya saat itu, tapi saya bahkan tak mengatakan impian macam apa yang kini mendekap erat diri saya.
Saya mencari-cari lagi ke dalam diri. Dimana semangat yang dulu menggebu itu? Dimana sorak-sorai yang dulu menyuntikkan energi itu? Dimana ikrar-ikrar yang dulu seakan tak pernah mati? Dimana? Dimana?

Tiba-tiba saja saya merasa, saya memandang kata “impian” dengan cara yang berbeda.

Entah kemana perginya selera, saya rasanya tak begitu berminat lagi dengan mimpi-mimpi yang membubung hingga ke Eropa. Ya walaupun jika ada yang mengajak tentu saya takkan menolak. Hanya saja rasanya, impian yang seperti itu tak lagi bersesak-sesakan di dalam kepala saya.

Impian saya, tiba-tiba saja terdengar sederhana: ingin kembali seperti fithrahnya.
Untuk apa seorang perempuan diciptakan? Dari sana lah saya ingin kembali, saya ingin menjadi apa yang Tuhan inginkan ketika menciptkan perempuan.

“Gw pengen hamil lagi, Ta, Ki,” tadinya itu yang hendak saya ketikkan di layar ponsel. Tapi rupa-rupanya mendung sudah berganti gerimis.

Iya. Saya ingin hamil lagi, merasakan kembali Sembilan bulan yang penuh kebahagiaan. Merasakan kembali detik-detik dimana darah, keringat, dan air mata tumpah bersamaan. Dimana saya memeluk Ibu dan mendengar suara tilawah suami, sambil merasakan satu persatu bagian tubuh mungil itu keluar dari rahim saya.

Saya ingin mendengar suara tangisnya. Suara tangisnya. Allaah, I wish I could hear her voice. Lantas dari sana saya akan menggendongnya, menyusuinya, atau sekadar mencium pipi lembutnya. I wish I could, Ya Allaah. Tapi kesempatan itu tak datang ketika saya melahirkan Hafsha. Saya tak mendengarnya menangis saat lahir, tak diberi kesempatan tuk berdekatan dengannya. Hingga pertama dan terakhir kali saya menggendong dan menciuminya, Hafsha sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Dan begitulah, Ta, Ki. Sesederhana itu impianku kini.

Saya ingin hamil lagi, merasakan kebahagiaan utuh sebagai seorang perempuan yang melahirkan. Menggendong, menyusui, sesuatu yang menjadi fithrah seorang ibu. Saya ingin menemaninya tumbuh, setiap harinya—ah bukan, saya ingin menemaninya tumbuh di setiap detiknya. Mengajarinya berjalan, menggunakan sendok untuk makan, mengajarinya nama-nama ciptaan Allah. Saya ingin menjadi perempuan seutuhnya, yang sungguh-sungguh menjadikan anak dan suami sebagai prioritas pertama dan utama. Saya ingin menjadi perempuan seutuhnya, yang pandai memasak, hingga kelak anak dan suami akan selalu merindukan masakan rumahnya yg enak. Karena sejak menikah hingga kini, rasanya-rasanya saya takjub pada suami yg dengan sabar memakan masakan saya yang itu-itu saja, dengan rasa yang seringkali tak karuan. Saya ingin menjadi perempuan seutuhnya, yang mendidik anak shalih dan shalihah, hingga mereka bermanfaat untuk ummat, berguna bagi agama dan dakwah, juga bangsa dan dunia.

Hingga kelak, kami semua berada di satu titik dimana impian terbayar lunas. Hingga tak ada lagi impian yang lebih tinggi dari ini.

Berkumpul bersama di surga, memandang Allah sambil mengagumi keindahan-Nya. Dimana tiada lagi sesuatu apapun yang lebih dari-Nya.

Impian kalian apaaah?”

Tiba-tiba saja semuanya tak lagi diceritakan dengan menggebu dan mendongak tinggi menjulang ke angkasa. Dengan mata berapi-api dan air ludah yang muncrat kemana-mana.

Tiba-tiba saja semuanya terasa sederhana, impian yang diceritakan dengan lembut, dengan penuh pengharapan. Bertabur doa, berbalut khouf dan roja. Impian untuk menjadi seperti yang Allah inginkan ketika menciptakan. Impian untuk menjadi sesungguh perempuan.

Saya ingin menjadi perempuan seutuhnya.
Al ummu madrasatul uula.
Yang mendorong ayunan,
dan menggoncang peradaban.

(sumber gambar)

10 thoughts on “Impian

  1. Atuhlah kamu siapa perempuan yang enggak pengin kayak gitu :’)

    Mungkin karena aku masih jombs, maka cara pandangku terhadap impian masih sama seperti dulu, dan bertahun-tahun lalu. Dari bahkan sebelum kita ketemu, sampai kita kenal dan bisa ketawa-nangis-gegulingan bareng, sampai kamu ketemu Mas Yunis, aku masih di posisi yang sama dalam memandang impian: jauh dan penuh petualangan.

    Menjadi ibu adalah fitrah.

    Menjadi ibu yang baik adalah pilihan (Level 1).
    Menjadi ibu yang baik dan islami adalah pilihan (Level 2).
    Menjadi ibu yang baik dan islami dan haraki adalah pilihan (Level 3).
    Menjadi ibu yang baik dan islami dan haraki dan keren juga adalah pilihan (Level 4).

    Sejauh ini aku masih menggantungkan impianku di Level 4, dengan kekerenan yang aku definisikan sendiri (seperti di obrolan-obrolan kita). Karena masih jombs, yang bisa kudesain adalah islami, haraki, dan kekerenannya dulu. *salahkan nasib menjomblo~

    Bahkan dalam pemikiran di awang-awang, kalau aku punya anak, akan kuajak ia berada di gendongan yang menantang, pelukan erat di tengah rimba yang tak nyaman, agar ia bisa bermimpi dengan cara yang sama: jauh dan penuh petualangan.

    Kita lihat apa kelak ada orang yang tiba-tiba datang menambatkan sauh, membuatku gaduh, dan kemudian mengubahku dari liar jadi luluh :p

    Menamparku dengan perhitungan-perhitungan yang lebih masuk akal, mengubah segala definisi keren yang kini aku desain. Memoles pandangan-pandanganku tentang impian yang harus jauh dan penuh petualangan, menjadi sesuatu yang lebih sederhana, membumi, dalam dekap rumah yang hangat dan membuat rindu.

    Atau kita lihat, apakah yang datang adalah yang justru menyulut dan lebih menggebu-gebu terhadap pandanganku.

    Perempuan, emang harus nunggu aba-aba abang nahkoda dulu.

    *terus komennya jadi satu artikel sendiri -_-

    1. Jadi intinya adalaaah: segeralah akhiri masa jomblomu itu wahai kikiiIikks… ahaha😀
      Btw aku baca bagian yang “berada di gendongan yang menantang” kok agak gimnaaa gitu ya, soalnya di kepalaku bayangin kamu lari-lari jejingkrakan sambil gendong bayi -___-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s