Rindu

Alhamdulillah, Bahagia!

Mula-mula rasanya seperti,
kebahagiaan yang tercerabut tiba-tiba. Seketika.

Kemudian menderas. Membadai. Rontok semua pundi-pundi asa. Berganti hening yang mengaburkan. Membingungkan.

Barangkali dari sini lagi-lagi saya dibuat-Nya sadar. Dibuat-Nya bangun. Dibuat-Nya kembali meredifinisi makna. Sebenarnya kita hidup untuk apa?

Sudah sejak lama saya membayangkan diri akan menceritakan pengalaman hamil-melahirkan yang bahagia. Kala itu, saya mengaitkan kata “bahagia” dengan hal-hal semacam: bayi mungil yang sehat nan lucu, pengalaman pertama menyusui, heboh menggendong bayi, foto-foto manis bersama si kecil, panggilan untuk saya dan suami; ayah bunda, ummi abi, bapak ibu. Baju-baju bayi yang lucu, sepatu mungil, topi mungil, jilbab mungil.
“Bahagia” kala itu tak jauh saya sematkan pada tawa nan sumringah. Pokoknya bahagia. Bahagia tiada tara.

Lantas kini sudah selesai delapan bulan perjuangan. Delapan bulan yang menakjubkan. Walau tak seperti yang saya bayangkan di awal kehamilan: kelahiran yang jauh lebih awal dari prediksi, usia bayi kami yang bahkan tak genap tiga hari, dan air mata yang ternyata tak mudah untuk membuatnya berhenti.

Nyatanya, saya bahkan tetap saja bahagia. Bahagia luar biasa. Alhamdulillah..

Iya. Mungkin saja tak ada yang percaya, tapi tetap saja saya ingin berkata berkali-kali: Saya bahagia. Bahagia luar biasa!
Sesekali mungkin memang ada air mata, tapi sungguh bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata kerinduan.

Rindu padanya yang menendang-nendang lucu.
Rindu padanya yang heboh jejingkrakan ketika Ayahnya tilawah.
Rindu padanya yang semakin hari membuat baju saya semakin tak muat.
Rindu mengelusnya.
Rindu tilawah bersamanya.
Rindu bercerita padanya.
Rindu mengajaknya berpuasa.
Rindu berjalan-jalan pagi bersamanya.
Rindu.
Rindu.
Rindu.

Allaaah…
Bahkan sudah seperti ini tapi tetap saja rindu itu terasa indah..

Barangkali dari sini, Allah ingin menunjukkan kepada saya kenikmatan menjadi seorang muslim. Kenikmatan tiada tara.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.”

(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu ).

Dan benar saja, Allah menghadiahkan saya semua ini sebagai bekal saya bertempur, pegangan untuk saya bertahan, dan berton-ton pasokan kepercayaan. Doa-doa yang melangit angkasa, juga sandaran yang tiada akan pernah goyah.

“Hafsha sudah pasti masuk syurga. Sekarang, tugas kita memastikan diri kita juga akan masuk syurga. Biar kita bisa kumpul bersama disana…”
-Ayah Hafsha-

Allah,
Terima kasih atas semua ini.
Saya bahagia, bahagia luar biasa.
Alhamdulillaah! :’))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s