Cerita

Kopi dan Suami

uw52b8ab3b

sumber gambar: di sini

Ada semacam kerinduan yang sulit diungkapkan, pada sesuatu yang sebenarnya tidak jauh, dan tidak menjauh. Seperti yang banyak orang bilang, terkadang jeda menjadi perekat yang tak terkalahkan. Dua orang yang saling mencintai misalnya, yang setelah sekian waktu tak bertemu dan saling rindu, lantas ketika bertemu keduanya jadi semakin cinta, semakin mesra. Pun dengan saya. Dengan kopi. Hehe

Rasanya sudah lebih dari tiga bulan saya berpuasa dari minuman yang satu ini. Tiga bulan lho, Ya Allaah itu lama bangeett dah.

Teringat betapa saya harus merengek-rengek pada suami supaya diizinkan beli kopi. Hehe.

Suami saya, saya inget banget dulu pas beberapa jam setelah akad nikah (hhe, cerita dikit yaaak :p) saya didikte ini itu oleh Ibu, Nenek dan Mbah Buyut saya.

Suamimu itu jangan ditinggal sendirian di kamar, kasian dia pasti bingung mau ngapain itu. Mbok ya ditemenin, diajak ngobrol,

Sana bikinkan suamimu kopi, atau teh, itu kuenya dibawa ke kamar,

Kamu ngapain disini, seliweran, sana temeni suamimu, ketemu tamu,

Suamimu kayaknya belum makan, itu mbok ya dianter dikasih makan,

Kyaaa, saya rasanya pengen garuk-garuk tembok waktu itu saking bingungnya. Hha, norak ye. Jadi setelah segala prosesi akad itu selesai, otomatis dong ya saya mandi bebersih segala riasan yang menempel di muka, ganti baju dan seliweran di dapur karena laper. Para sanak sodara kerabat kolega ya semuanya itu sibuk beres-beres dan pada seliweran rumah-masjid, dan suami saya—yang cuma kenal beberapa saja dari keluarga saya—melihat keluarga yang tak dikenalnya yang seliweran sibuk masing-masing, mungkin bingung kali ya mau ngapain, mau ikut bantu, tapi sama orang-orang kayaknya sih ga boleh repot-repot bantuin, manten kan raja, hha😀

Dan, bodohnya, saya juga ikutan bingung. Maksudnya, saya tau sih saya harus ketemu suami saya—orang yang di pagi hari bukan siapa siapa saya, kemudian sore hari menjadi seseorang yang harus saya hormati dan cintai, cieh. :p Tapi saya bingung mau ngomong apaaa -,-

Jadi selama bermenit-menit di dapur dan diberondong ini itu sama sesepuh, sayanya masih melongo. Semua buku dan materi munakahat yang berbulan-bulan saya telan itu rasanya menguap tak berbekas. Mati. Aduh ini mau ngapaaaaiiiiiinn..

Sana bikinin kopi,” ibu saya menyuruh saya.

Bikinin dong Bu, tapi ntar aku yang nganter hehe,” saya, haha, persis seperti pas khitbah, ndak berani bikinin minuman. Takut terlalu manis, atau kurang manis, terlalu pahit, atau terlalu panas, atau kurang panas, apapun lah. Lah ntar calon suami jadi mbatin dong, ini akhwat bikin minum aja ndak becus, terus tiba-tiba nggak jadi nikah gimana. Jadi pas khitbah itu, yang bikin minum ibu, tapi yang bawa nampan saya hehe :p Secara yaaa, posisi seperti itu, sayanya gugup nervous malu bingung segala macem, bisa-bisa itu minuman saya kasih gula dua ember (lebay) atau malah lupa ga dikasih gula. Ya intinya gugup dan gak pede, hhe.

Tapi kali ini Ibu mendelik dan memaksa saya yang bikin sendiri. Dengan dalih, saya sudah jadi istrinya. Aduh, saya pengen garuk-garuk tembok lagi.

Mendadak Mbah saya bilang, bikinin teh nduk. Ibu saya bilang kopi. Jadi teh apa kopi?

Terus saya membeku. Semua mata seakan menyuruh saya bertanya ke suami yang baru beberapa jam jadi suami, mau teh apa kopi. Ya Rabb, kenapa justru hal remeh seperti teh apa kopi ini tiba-tiba jadi lebih mendebarkan daripada ketika saya presentasi hasil PKL dihadapan Kepala KPPN dulu. Huhu.

Jadi, saya masih inget, sambil berusaha sesantai mungkin menemui ikhwan yang seumur hidup bisa diitung pake jari berapa kali saya ngobrol dengannya ini, padahal di dapur penuh intimidasi para sesepuh, kalimat pertama saya sore itu, sore pertama setelah kami menikah adalah:

Mas Yunis mau teh apa kopi?

Cieeh.
(mendadak saya jadi inget, saya bahkan ngomongnya pake pegangan tembok ruang makan, ya ampuun. Siapapun yg baca ini, apalagi kalo anak BEM, anak-anak yang pernah sekepanitiaan atau organisasi, pasti mereka ketawa puas karena saya yg suka galak dan marah-marah di depan ikhwan malah mendadak jadi rapuh di depan ikhwan. Heeuuu~)

Dan sejak saat itu lah, saya tau suami saya ga suka minum kopi, dan ga begitu suka minum teh juga. Terus sukanya apa dong? Air putih, begitu katanya. Entah ya ini memang karena suka air putih, karena alasan kesehatan, apa memang ngirit ga mau beli kopi hehe. Ini sih saya nyama-nyamain diri, sayanya ngirit beli kopi karena masih mahasiswa, lha suami kan udah kerja masa iya segitu ngiritnya ampe ga minum kopi. Yah, belakangan saya tau memang beneran lebih suka air putih karena menyehatkan. Alhamdulillah, saya kan jadinya ga perlu repot-repot mengikuti petuah Ibu, Mbah, dan Mbah Buyut untuk menyediakan kopi atau teh setiap pagi sebelum berangkat ngantor. Hha.

Kayaknya tadi saya mau nulis tentang kopi deh kok jadi malah nulis tentang hari pertama nikah sih. Haduh -,-

Jadi, begitulah, setelah menikah, kan istri harus manut suami yah. Saya menangkap adanya gelagat suami saya ingin menulari saya dengan kebiasaannya ber-air-putih-ria ini kepada saya. Ga pernah melarang sih sebenarnya, sampai kemudian saya fix hamil dan barulah saya benar-benar harus berpisah dari minuman berkafein favorit saya ini. Hiks.

Sebenarnya ibu hamil boleh-boleh aja sih minum kopi, asal ga berlebihan, meski batasan berlebihan ini saya juga belum tau seperti apa. Cuma ya karena dari sononya suami saya ndak suka minum kopi karena ga sehat, jadinya beliau menghimbau saya (kata himbauan ini berasa kayak pengumuman dari Sekre STAN aja yak, hhe) untuk ga minum kopi dulu. Saya mah manut-manut aja, karena selain doyan kopi, saya juga doyan susu coklat. Intinya saya lebih suka minuman yang ada rasanya, bukan air putih. Jadi yaa saya banyakin itu minum prenagen coklat yang emesis, belakang saya lebih suka yang prenagen mommy biasa aja, bukan yang emesis karena lebih enak dan lebih gurih, ga ngaruh sih terhadap mual muntah karena saya juga udah terbebas dari segala sickness yang menyerang di trimester pertama. Hehe, Alhamdulillah.

Nah, belakangan, saya jadi kangen, kangen luaaarrr biasaaaa dengan yang namanya kopi.

Kopi identik dengan buku, eh salah ding, tiap saya baca buku, harus ada kopi. Dulu kopi adalah sahabat saya di malam-malam ranum penuh perjuangan.

Entah itu begadang demi ujian, mengkhatamkan beratus-ratus halaman novel dalam semalam, atau mengerjakan berpuluh-puluh slide presentasi, atau menyusun proposal, atau LPJ, atau apapun lah. Kopi adalah sahabat setia yang mesra. Cieh.

Nah, selama tiga bulan pertama menikah, yang juga anggap saja tiga bulan pertama hamil, (karena kan gatau ya hamilnya sejak kapan, kemungkinan sih pekan pertama atau kedua setelah nikah) saya ga bisa baca buku. Pusing hampir sepanjang hari, dan ini pusing yang luar biasa ya, Ya Allaah, subhanallah lah ternyata ibu hamil itu yak. Belum lagi mual, muntah, kembung, begah, dada sesak, dan segala macam rasa yang setiap hari menyambangi saya menjadikan saya tidak pernah bisa baca buku lama-lama, it means, saya juga ga terlalu memikirkan minum kopi. Karena itu semacam apa ya, kalo ada buku ada kopi, kalo ga ada buku yaudah ga ada kopi.

Nah, memasuki bulan keempat ini, Alhamdulillah badan udah enakan, udah jarang pusing, udah ga pernah mual dan eneg, walau beberapa kali masih muntah karena indra penciuman saya yang masih tajam dan peka dengan bau-bau sekecil apapun. Jadi, karena saya masih juga jadi pengangguran terselubung, pelarian saya adalah: buku.

Kemudian cinta lama itu bersemi kembali, saya jadi akur lagi dengan buku. Dan, saya pun merindukan kopi. Apalagi hujan-hujan gini. Ohya, saya tidak peduli waktu kalo minum kopi, walau siang terik juga kadang kalo lagi pengen tetep aja minum kopi :p

Dan seiring berjalannya waktu, suami saya akhirnya juga membolehkan saya minum kopi, asal ga banyak-banyak. Hehe. Subhanallah seneng deh :’D

Daaaaan, sore ini, ketika tanah basah sehabis hujan, ketika saya baru saya merampungkan membaca novel “Pulang” karya Leyla S. Chudori (belinya udah lamaaaa banget, baru mempeng baca dari kmarin dan udah tamat dalam sehari😀 Bagus yak, akhir2 ini saya suka novel sejarah, hehe)

Akhirnya saya minum kopi juga! :’)

Good Day Vanilla Latte yang dulu sering nemenin saya pas jaman kuliah, kadang juga Chococinno. Kalo jaman SMA dulu Nescafe Cream, atau sesekali Good Day Carrebian Nut. Tapi Vanilla Latte tetep lah yang juara :’)

How magical taste it is!

Saya bukan pecandu yang ampe langganan Starbucks sih, meski karena mahal juga itu mah, tapi yah, saya mencukupkan diri dengan kopi sachet-an aja, murah, praktis, dan,

tetap mampu menunjukkan aroma perjuangan. :’)

11 thoughts on “Kopi dan Suami

  1. Assalamu’alaikum Mbak… salam kenal ya!
    Ceritanya menarik sekali, sya ketawa2 sendiri bacanya. Ternyata kopi sama suami bisa dijadikan sebuah cerita yang seru juga.

    1. Oh ya? Waah mungkin karena kopi diam-diam punya efek memikat ya jadi ga jera walau kembung ttep lanjut ngopi😀

      Yap. Salam kenal juga! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s