Muslimah

Istri, dan Calon Ibu. Welcome, Hidup Baru!

“Fabiayyi aalaa irobbi kumaa tukadzdzibaan?”
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Rasa-rasanya sejak setelah menikah saya belum menulis apapun di blog ini—kecuali sekadar menempelkan puisi kondang milik sastrawan besar. Bukan tak ingin menulis, sangat sangat ingin bahkan. Hanya rasanya, hampir setiap hari saya dibuat sibuk oleh kejutan-kejutan dari Allah yang Maha Pemurah, Ia yang tak pernah selesai mengaruniakan nikmat-nikmat yang tak terhitung banyaknya. Subhanallaah, Alhamdulillaah.. Sungguh malu jika membandingkan antara amal perbuatan yang tak ada nilainya ini dengan karunia Allah yang amat melimpah. Sungguh amat melimpah, alhamdulillaah..

Harus memulai dari mana?
Ah itulah yang sedari tadi saya fikirkan, harus memulai dari mana menceritakan hebatnya skenario milik Allah ini, indahnya takdir yang Ia tuliskan, dan betapa sungguh Ia karuniakan nikmat dari arah yang tak disangka-sangka..

Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan teman-teman kuliah, tentang bagaimana dan kapan kelak kami menjemput separuh agama. Dan saat itu saya menjawab dengan sangat yakin, saya hendak menikah ketika berusia dua satu. Iya, angka dua satu itu pun sudah jauh-jauh hari diikrarkan dalam hati. Hanya saja, saya tetap tidak pernah benar-benar membayangkan akan menikah segera setelah wisuda.

Oktober wisuda,
November menikah.

Allah mudahkan impian saya menggenapkan separuh agama. Terkaget-kaget memang mulanya, menjalani proses menjelang pernikahan justru ketika saya masih rutin dapet ajakan aksi di HI atau senayan, persiapan ujian semesteran dan penyusunan outline PKL, bahkan ditengah kerempongan regenerasi KM STAN yang saat itu saya pun ikut di dalamnya. Seringkali ragu itu muncul, rasa-rasanya saya masih kecil, masih labil, apa iya udah mau nikah aja. Tapi kemudian menyadari bahwa jodoh memang Allah lah yang paling tau, ia tak pernah meleset memperhitungkan waktu. Lantas sungguh, ditengah hiruk-pikuk kampus dan kebimbangan diri, Allah mudahkan proses ini. Allah jernihkan pikiran saya, Allah lembutkan hati kedua orang tua, Allah jadikan proses ini mudah, dan semoga ada banyak berkah di dalamnya..

Oktober wisuda,
November menikah,
Lantas Desember, Allah titipkan janin dalam rahim.

Iya.
Saya pun kaget, sebenarnya. Bahkan ketika saya menulis ini pun, kadang masih ga percaya.

Awal bulan Desember, setelah cemas karena tamu bulanan tak kunjung datang.
Teringat saat suami menyodorkan test-pack kehamilan yang ia beli sepulang ngantor. Saya yakin, tapi juga ragu. Dalam hati saya yakin saya hamil, setidaknya saya membandingkan kondisi diri dengan tanda-tanda kehamilan pekan pertama hasil gugling. Banyak miripnya! Tapi sejujurnya saya pun ragu, atau lebih tepatnya meragukan diri sendiri. Apa iya udah siap jadi ibu? Apa iya udah bisa jadi ibu? Ilmu saya masih segini, tingkah saya masih begini, dan serentet perasaan under-estimate terhadap diri sendiri.

Dan benar saja. Ada dua garis merah.
Secepat ini. Allaah..

Lantas mengembalikan semua ini kepada-Nya. Ia yang tak pernah meleset menetapkan waktu, Ia yang tak pernah salah menuliskan takdir, dan Ia yang tak pernah berhenti mengalirkan nikmat tak henti-henti..

Subhanallaah, walhamdulillaah..
Allah meminta kami mengakselerasi diri, menitipkan amanah yang harus kami jaga baik-baik sejak dini. Allah memberikan kepercayaan ini, kenikmaatan ini, dan tanggung-jawab ini.
Teringat perkataan suami, ‘menikah itu ada kesenangan, tapi juga ada tanggung jawab.’
Kami tak henti bersyukur pada-Mu Ya Rabb, atas kenikmatan yang bertubi-tubi, atas kecukupan rezeki, atas kesenangan yang halal dan atas segala yang tak pernah mampu kami hitung dengan akal kami..

Kini, ketika ditinggal suami ngantor, tak lagi merasa sepi dan sendiri di rumah. Karena ada detak jantung mungil yang menemani, ada jasad yang ikut kemanapun saya pergi..

Bismillah, menapaki hari-hari penuh perjuangan,
Semoga Allah memampukan diri menjadi istri yang shalihah, yang menjadi penyejuk mata dan hati suami,
Dan, semoga Allah memampukan diri menjadi (calon) Ibu yang baik, yang mampu mendidik anak sebagai shalih dan shalihah pejuang agama-Nya..

9 thoughts on “Istri, dan Calon Ibu. Welcome, Hidup Baru!

    1. Belum penempatan mba.. hihi. ini baru mau TKD. insya Allah penempatan akhir taun ini.
      Kalo sistemnya ttp spt tahun kemarin dn ga berubah, sy milih instansi yg hanya punya kantor di pusat mba, krn suami penempatan selamanya di pusat aka setjend. hhe😀

      1. Berarti udah boleh nikah ya sebelum TKD.. hehee.. doakan aku menyusul tahun ini ya mba.. hehehe.. insha Allah akan jadi junior yang mengikuti jalan mba nya.. hohoo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s