munakahat

Pernikahan; Membangun Peradaban

Kami bertemu di bawah terik matahari,
ditemani para murabbi.
Bersama gugup, bersama harap dan takut.
Dalam perlintasan takdir, kami menyengaja hadir.
Demi menjaga kesucian diri, kesucian hati.

Khouf.. Roja..
Kami rajut November dengan doa-doa yang melangit angkasa,
merangkum degup harap dan pasrah,
kami bersujud dalam asa, mengharap sakinah mengganti resah,
mengantarkan mimpi-mimpi dua insan yang tengah berikhtiar,
menggenapkan separuh agama.

Pada suatu hari Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat, “Tunjukkan kepadaku cita-cita tertinggi kalian.” Salah seorang dari mereka mengacungkan tangan dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, sekiranya rumah ini penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah.” Umar pun mengulangi pertanyaannya, “Apa masih ada yang lebih baik dari itu?” lantas sahabat yang lain pun menjawab, “Wahai Amirul mukminin, sekiranya rumah ini dipenuhi dengan intan, emas dan permata, niscaya akan saya infakkan seluruhnya untuk Allah.” Umar bin Khattab kembali bertanya dengan lafadz yang sama. Mereka pun serentak menjawab, “Wahai Amirul mukminin, kami tidak tahu lagi apa yang terbaik dari itu.” Umar bin Khathab kemudian menjelaskan, “Cita-cita yang terbaik adalah, seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan pejuang muslim seperti Abu Ubaidah bin Jarrah yang jujur, adil dan bijaksana.”

Sebuah peradaban Islam akan terlahir dari seorang lelaki dan perempuan yang mengazzamkan diri untuk membangun rumah tangga dakwah, ikut meramaikan semesta dengan harap terlahir keturunan yang shalih nan muslih. Seperti Umar bin Khattab yang memimpikan banyaknya pejuang muslim berkualitas yang membela agama Allah, pun dengan kami. Kami tak hanya ingin menjadikan pernikahan tuk menjaga diri, namun juga turut membentuk generasi rabbani. Semoga akan tercipta sebuah rumah tangga bak surga dunia, yang di dalamnya ada suami istri yang saling kasih mengasihi, yang semakin hari kian bertaqwa, yang saling berlomba dalam tilawah dan murojaah. Ada anak-anak yang shalih dan cerdas, yang akan berceloteh riang tentang jutaan cita dan cintanya, yang akan semakin menguatkan barisan dakwah Islam. Ada rezeki yang halal dan berkah, yang selalu membuat pemiliknya murah dan mudah bersedekah.

Perkenankan, Yaa Rabbi.. Perkenankan, Yaa Rabbi.. Perkenankan, Yaa Rabbi..

Sehingga pada akhirnya, kami pun bisa mengecap nikmat yang tidak ada yang lebih besar darinya, yaitu menatap-Mu di surga kelak, bersama-sama pula. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

–Kami Rajut November dengan Doa

4 thoughts on “Pernikahan; Membangun Peradaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s